~~
Aku berdiri didepan sebuah
bangunan basar yang belum terlalu tua tetapi masih terlihat menawan, gerbang
yang menjulang tinggi memancarkan peringatan bahwa siapapun tak akan bisa lalu
langan sembarangan melewatinya. ku lihat seorang lelaki tua yang umurnya
mungkin sudah 50-an membuka gerbang ini, seketika bunyi berderitpun terdengar
agak mencekam bagai membuka gerbang rumah sarang hantu di film-film horror. Ia
menoleh ke arahku dengan sedikit memaksakan untuk tersenyum. Melihat wajahnya yang
penuh keriput karena jaman atau mungkin juga karena keadaan, menyiratkan raut
kesederhanaan namun terlihat damai. Ia adalah security di tempat ini.
Sekolah baru ini sama sekali tak
membuatku tertarik. Dalam setahun ini sudah dua daerah, dua rumah dan dua
sekolah yang aku tinggalkan, yah samuanya karna ayah. Keinginannya yang ingin
membangun usaha lagi di daerah ini, usahanya cake shop nya di daerah-daerah
terdahulu bangkrut, ada yang di sebabkan kebakaran dan yang terakhir ialah
karena sebuah truk yang remnya blong menabrak toko ayah, tetapi satu hal yang
sangat ku sukai dari ayah ialah pantang mundur dan tak pernah berputus asa. Ia
selalu berpikir positif dan hal-hal yang
terjadi padanya dianggapnya hanya kurang beruntung saja.
Hari ini ayah hanya sekedar
mengenalkan sekolah ke-tiga ini untukku. Besar dan megah adalah kesan pertama
ku untuk tempat ini, tapi entah mengapa enggan sekali rasanya bersekolah di
sini.
”pasti deh anak-anak di sini pada sombong”. Anganku ketika
melihat mereka acuh tak acuh padaku.
Mereka memberi pandangan aneh padaku, padahal dandananku
tidak terlalu kuno dengan potongan rambut bob pendek sebahu, aku pikir suka
potongan rambut ini menurutku rambut panjang itu repot dan memerlukan lumayan
banyak waktu untuk merawatnya.
“Vira kamu tunggu disini ya sayang.” Kata ayah membuyarkan lamunanku.
“ok, tapi jangan lama ya yah, aku gak betah disini.” Ucapku.
Ayah hanya tersenyum sambil membelai rambutku kemudian berlalu ke ruangan
kepala sekolah. Ruangan ini tepat berada di depan lapangan olah raga. Di
sekitarnya terdapat beberapa pot bunga cantik untuk memperindah tempat ini.
“cukup nyaman juga.” Anganku. Bangunan sekolah ini
menggunakan tema nature tak salah
banyak pohon-pohon rindang yang teduh disini.
Aku duduk di sebuah kursi kecil di depan ruangan kepala
sekolah. Sambil melihat sekeliling dan membayangkan bahwa besok aku akan di
sekolah ini tanpa ayah tanpa pelindungku ohh. Sudah terbayang aku akan di bully
oleh anak-anak sombong ini, seperti kejadian disekolahku dulu. Aku memang tak
pandai bergaul dengan orang asing, aku lebih suka bergaul di dunia maya. Aku
juga lebih sering menyendiri sambil membaca novel atau sekedar mendengarkan
music. Mungkin karena itu mereka menjauhiku dan menganggapku freaks atau apalah
aku tak peduli.
Di sekolah yang lama aku tak pernah benar-benar mempunyai
teman sampai ayah menyuruhku pindah sekolah lagi. Oh my God, plese help me…
Bip bip bip , oh satu pesan.
From: BadBoy
“hey alone girl, gimana sekolah baru kamu?”.
senang rasanya melihat pesan ini. Dia ialah seseorang yang
bisa membuatku merasa benar-benar memiliki teman, walau nama aslinya saja aku
tak tau, kami saling kenal melalui jejaring social, dia tak pernah memposting
fotonya dan selalu menggunakan nick name bad boy, yaah karna itulah aku
memanggilnya seperti itu juga. Sedangkan aku memakai nick alone girl, juga tak
pernah benar-benar memposting fotoku, aku lebih suka memakai kartun atau
emoticon sebagai profilku. Ohya apa bedanya
kami hahhaa.
Reply: “aku takut.”
From: bad boy
“takut? disana ada sadako yah ?”
Reply: “ohhoo disini gak ada sumur tauuuk, aku takut di
bully lagi.”
From: bad boy
“oyyaa, heyy sekarang uda gak jaman saling membuli, kamu kan
uda kelas 2 SMA, masak takut sih, jangan cemen donk, semangat alone girl,
smangat yahh ^-*.”
Reply: “ hahha iya thankz… “ blum selesai aku mengetik
balasan untuk bad boy, tiba-tiba,
Ouuhh!! Aku terjatuh Kepalaku sakit.” Siapa sih yang
ngelempar bola sembarangan, gak sopan!.”
“sorry, sorry are you ok?”. Seorang cowok tegap berdiri di
hadapanku, senyumannya manis, begitu tampan dengan tatapan mata bersinar, benar-benar seperti malaikat. Oh
God …
Aku terdiam. Bodoh!
“hey,, kamu gak apa-apa?.” Sambil membantuku berdiri.
“aa eemm.” Sambil mengangguk tak bisa berkata-kata.
“hmm, kalo gitu aku kesana dulu ya.” Dia berlalu, dia
berlalu. Aku memandangnya berjalan menjauhiku dan lanjut bermain basket bersama
anak-anak yang lain. Aarrggh kebodohan pertamaku di sekolah ini. Bodoh
benar-benar bodoh sekali.
“… iya terimakasih.” Terdengar samar suara ayahku dan di
susul wujudnya menampakan diri dari balik pintu.
“nah sayang, besok kamu bisa bersekolah disini, kamu
senangkan?”
“hmm,,.” aku mengangguk.
***
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiingggggggggggggg
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiinngggggg “oh tukang ice cream yah.”
Karena terlalu
mengantuk aku melanjutkan tidur, tapi, tunggu tukang ice cream???.
“Deg” Oh my God!!!.
“Ayaaaahhhhh!”
Aku merengut dengan tampang kusut
sambil menaiki motor butut ayah yang usianya mungkin lebih tua dariku, katanya
sih motor ini sejarah saksi hidupnya makanya kalau motor ini ditawar berapapun
tak akan ia jual. Ayah duduk di depan memboncengiku sambil menggerutu tak
karuan, intinya kalau dia sedang ngomel ya diam saja. Aku play teenage dreamnya
katty pery sambil menaikan volume music
yang ku dengar melalui headset yang selalu ku bawa dan jadi senjata rahasiaku
dikala terkena amarah ayah.
Yah semua ini salah si bad boy
karena semalaman aku chatting dengan dia. Terlambat bangun dan terkena omelan
ayah. Awas dia nanti aku marahi juga, lah kesalahannya apa? Hahha
“nih uda sampai, Besok jangan telat lagi, ayah juga telat
buka toko kan!”
“iihhh aku juga gak sempet sarapan ayaaahh.!”
“makanya besok-besok bangunya jangan kesiangan,sudah masuk
sana.”
“yaudah,,.” Jawabku kesal sambil menyalami ayah.
Aku melangkahkan kakiku memasuki
gerbang sekolah, sudah terbayang tak akan ada anak yang mau berteman denganku.”hhah”
aku mendengus.
“oya aku kan belum
tau kelasku dimana, bodoh bodooohh.” Sambil menepuk-nepuk kepalaku.
Ttiiiiiiiiiiiiiiiiiittt….!!! Aku
terkejuta dan berbalik, ternyata ada motor besar di belakangku dengan seorang
cowok yang memakai jaket dan helm hitam. Aku melangkah ke pinggir untuk memberi
jalan, kulihat ia maju perlahan dan berhenti di hadapanku, dengan membuka
sedikit kaca helmnya.
“bodoh!.” Apa? Apa
aku tak salah dengar, dia berkata bodoh?. Dia langsung memarkir motornya.
Sedangkan aku masih terdiam tak percaya. Apakah kebodohanku begitu jelas
terlihat dimatanya?.
“teeeettttttt…” “oh
bel masuk.” Aku berjalan di koridor kelas sambil melihat kasana kemari
kebingungan mencari dimana kelasku. Tiba-tiba,
“hey kamu anak baru? Yang ketemu kemarin kan?”. Oh tuhan dia
lagi, aku menatap mata indahya dan hanya terdiam.
“hey,kok bengong? mau kubantu nyari kelas?.” Sambil
mengibas-ngibaskan tangannya di depan mukaku.
“oh hmm apa?”. Bodoh
kenapa aku berkata seperti itu, harusnya aku jawab iya kamu kan yang ngelempar
bola kamaren sampai ngenain kepalaku itu kan. oh “tidak tidak” sambil menggelengkan kepalaku.
“oh, kayaknya kamu
gak perlu bantuanku deh, kalo gitu aku masuk duluan ya.” Katanya sedikit
melambaikankan tangan dan langsung berjalan pergi menjuhiku . bukan, bukan
seperti itu, kembali kumohon kembalilah.
”kenapa,kenapaaa mau ngomong aja rasanya sulit sekali.”
Kataku dengan expresi dramatis.
***
“nah ini kelasmu, lain kali jangan malu bertanya yah.” Suara
indah ibu kepala sekolah. Aku menyesal sudah berburuk sangka padanya. Karena
tampangnya yang agak cruel aku mengira dia itu killer, penyiksa dan tidak berperikesiswaan,
hah emang ada?.
“Ayok perkenalkan diri kamu.” suara kepala sekolah terdengar
lagi.
oh aku tak sadar beberapa saat menatap kepala
sekolah. sedangkan di depanku telah terhampar pandangan aneh para siswa
menatapku, dan sekarang aku ialah pusat perhatian. Canggung sekali rasanya
tapi toh aku kan sudah beberapakali
pindah dan memperkenalkan diriku di depan kelas, kali ini aku pasti bisa. aku
mencoba tenang dan bersikap wajar. akhirnya,,
”nnnaaammaa sayyy..” belum selesai aku menyebutkan namaku.
“hahha dia gagap
temen-temen”.celoleh salah satu siswa gemuk yang duduk di pojok belakang kelas,
tawa satu kelaspun tak terhindarkan. aku tertunduk tak berani menatap mereka,
rasanya inginku berlari berlari menyebrangi jembatan menuju valhala ... jhotun……
diamana thor berada dan ku pinjam palunya untuk membinasakan mereka satu
persatu, terutama si gemuk itu aku punya perlakuan khusus padanya,akan ku ikat
tangan dan kakinya di sebuah kayu kemudian ku panggang sambil ku putar-putar
ia, persis daging kambing yang sering kami panggang pada saat berkemah. Tapi
apa daya imajinasiku terlalu liar, Aku malu,marah tapi pada diriku sendiri,kenapa
aku tak bisa untuk sekedar bicara menyebutkan namaku? padahal aku sudah sangat
sering berlatih memperkenalkan diri di depan cermin kamarku, tapi kenapa
sekarang aku tak bisa.
“sudah diam anak-anak, ini NaVira Anastasya dan dia akan
jadi teman sekelas kalian, tolong bantu dia belajar dan menyesuaikan diri, nah Vira
kamu duduk di bangku kosong depan Egi ya.” Aku menganguk berlajan menuju bangku
ke dua dari belakang,.
samar-samar kudenger salah satu
siswi berbisik pada teman sebangkunya “bantu menyesuaikan diri? Emang dia dari
planet mana? xixixixi” Mereka tertawa cekikikan. Aku hanya bisa tertunduk
berjalan, rasanya panjang sekali perjalanan menuju tempat dudukku, padahal
tempatnya cuma diurutan ke tiga dari tempat duduk terdepan. Aku mempercepat
langkahku dan akhirnya sampai juga. Aku duduk dan mengeluarkan beberapa alat
tulis, tapi tunggu sekilas aku seperti mengenali sosok di belakang tempat
dudukku tapi siapa?.
“bodoh.” Suara itu
terdengar lagi. Oh dia, aku ingat, dia orang yang memakai motor besar
tadi.”huhhh” apalagi cobaanmu Tuhan. aku mendengus kesal.
Sepanjang pelajaran aku
benar-benar tak konsentrasi dengan baik, hayalanku melayang memikirkan hal yang
membuatku malu mungkin untuk selamanya, kesan pertama saja aku sudah di cap
cewek gagap dari planet entah berantah, selanjutnya apalagi, tak bisa ku
bayangkan.
Sedangkan sepertinya siswa di
belakangku juga tak memperhatikan pelajaran dia seperti sibuk sendiri, oh ya si
cowok sombong yang tadi disebut namanya, tapi siapa ya? aku lupa gara-gara
tragedy gagap tadi. Selang beberapa lama kemudian. teeeeeeeeeeeeettt...!!!Yes,
akhirnya bel kebebasanpun datang, aku senang sekali mendengarnya, suara itu
bagai bunyi yang paling merdu yang pernah ku dengar karna itu tanda berakhirnya
peneritaanku di kelas ini. Begitu bel berbunyi para siswa langsung berbondong
keluar tanpa memperhatikan keberadaan guru yang masih berada di kelas. Tapi aku
masih terduduk di bangku ini, kalaupun harus keluar, aku harus kemana? Aku
belum tau benar sekolah ini, kantinya saja aku tak tau dimana.
Kruuucckkk kruucckk, aku memegang perutku berharap rasa
lapar ini hilang. “aku harus gimana? Lapeerr” anganku.
Tiba-tiba sebuah tangan menarikku keluar dari tempat
dudukku.
“ayok keluar.” Suaranya datar. Ternyata si cowok sombong
tadi, dan ia juga masih berada di kelas.
tanpa mendengar sepatah kata dariku dia menarik tanganku
keluar kelas.
“kita mau kemana?”. Tanyaku polos.
Dia tak menjawab hanya tetap berjalan sambil menarik
tanganku.
Dia membawaku ke sebuah bangku taman di bawah pohon rindang
yang berada di dekat perpustakaan sepertinya karena sekilas terlihat banyak
rak-rak buku.
“tunggu disini.” Dengan suara sok cool dengan tampang
datarnya.
Kruuckk kruuuckk aduh kompromi sedikit dong cacing-cacing
perutku. Beberapa menit kemudian.
“nih,makan.” Sambil menyodorkan sebuah burger dan air
mineral.
“aah eemm, aku gak lap…” krucckk krucckk aduuuhhh
“hmm” dia tersenyum, sambil duduk disampingku.
oh tak kusangka, aku
kira dia tak bisa tersenyum dengan tampang datarnya yang sok cool itu. kupikir
Sebenarnya dia cukup tampan dengan senyum semanis itu.
” hahh jangan! Gak boleh gak boleh, dia kan uda ngatain kamu
bodoh Vira, jangan jangan.” bisikku pada dariku sendiri.
“hahha ternyata memang benar bodoh, cepat makan.” Ejeknya
padaku.
Aku merengut kesal, siapa dia berani sekali menghinaku hahh,
aku melotot ke arahnya.
“aku gak butuh!!” jawabku kesal.
“oh, ternyata gak gagap juga, syukur deh.” Dengan masih
tertawa seakan tak berdosa. Kali ini Ia benar-benar menguji kesabaranku. Takkan
ku biarkan diriku terhina seperti ini terus menerus, setidak nya aku harus
bertindak melakukan perlawanan walaupun aku tak peduli tapi aku tetap tak mau
di remehkan seperti ini.
“iish belum cukup puas kalian menghinaku dari tadi hah!”.
Aku mulai naik darah.
Tawanya reda dan terdiam sejenak seperti menerawang ke
angkasa.
“maaf.” Tanpa melihatku.”makanlah” lanjutnya dan langsung berdiri beranjak
pergi.
Apa aku salah? Aku sungguh merasa
tak enak hati telah membentaknya, mungkinkah ia merasa sakit hati atau marah,
bisa jadi ia dendam dan akan membalasku. Pikirku liar. Aku merasa untuk minta maaf padanya dan
berfikir untuk menjauhi masalah di sekolah ini, setidaknya jangan mencari musuh
di tempat baru. Aku meraih burger itu dan memakannya sambil memikirkan
permintaan maafku padanya.
***
Di kelas si cowok sok cool itu
sama sekali tak memandangku apalagi menyapaku sepanjang pelajaran, yah memang
apa yang kuharapkan darinya orang asing yang baru ku kenal atau memang belumku
kenal. sepintas niat untuk meminta maaf padanya ku urungkan, aku berfikir
kenapa aku yang harus meminta maaf?, aku tak bersalah dan dialah yang dahulu
mengejekku tanpa memikirkan perasaanku, yah bukan hanya dia ,mereka semua. Tapi
disamping itu aku juga takut, tampangnya saja sudah terlihat begitu suram,
dengan tatapan tajam saat memandangku. Otakku berkecamuk memikirkan hal ini,
antara meminta maaf merendahkan dan membiarkan diriku terhina atau tetap mempertahankan
harga diriku tetapi akan memunculkan musuh bagiku. Ah kepalaku sungguh terasa begitu
berat.
Aku menyusuri jalan menuju gerbang
sekolah. Tiba-tiba salah seorang siswi berperawakan kurus dengan rambut ikal
tampak modis terlalu berlebihan sehingga terkesan sedikit aneh menyapaku, oh ia
teman sekelasku yang duduk di depanku.
“hey, kamu anak baru itu kan? Nama kamu siapa tadi?, aku
lupa.” Katanya dengan tampang sok centil sambil memelintir rambut dengan
tangannya sendiri.
Ishh sebegitu tak pedulinya kah mereka terhadapku,
sampai-sampai namaku pun tak dia tau hahh. aku berpikir untuk sedikit iseng
padanya sebagai upaya pembalasan. Sebenarnya aku tak tertalu peduli mereka mengenalku
atau tidak, tapi entah dari mana ide keisengan ini tiba-tiba saja muncul di
benakku.
“hm aku Vira, oya apa kita sekelas?” kataku sedikit
menyerigai, ku berharap dengan jawabanku tadi ia akan merasa sedikit terabaikan
olehku.
Aku melihat expresi wajahnya
sedikit berubah seperti terkejut, shock, atau bingung entahlah aku tak tau
pasti, yang jelas rasanya aku ingin tertawa lepas di hadapannya seperti mereka
mentertawakanku di kelas , tapi syukurlah aku tau hal terbaik yang harus ku
lakukan dalam situasi seperti ini agar tak terlalu menyakiti hatinya *aku
baikkan, abaikan* ya dengan hanya sedikit
menyerigai dengan hati yang tertawa puas
hahahaha.
“oh, kamu gak gagap yah, syukur deh tapi sayang banget yah
ingatan kamu yang sedikit gak beres ckckck sayang sekali,” balasnya sambil
menggelengkan kepala dan dengan raut muka mengasihani aku seakan akulah mahluk
paling menderita di dunia ini.
Aku melongo tak percaya.Kini aku
yang merasa benar-benar shock atas apa yang ia katakan. semua yang ku pikirkan
ternyata salah. Aku merasa sedang melayang jatuh ke dalam sebuah jurang yang di
bawahnya terdapat monster-monster buas yang membuka rahangnya dan siap menelanku
bulat-bulat. Usaha pembalasanku ternyata berbalik memakanku, aku gagal total.
Aku tak tau apa yang harus
kulakukan. Aku berpikir untuk mengabaikannya dan pergi saja seperti tak pernah
terjadi apa-apa, yah kembali dengan tabiatku semula yang tak terlalu peduli
dengan apa yang mereka pikirkan tentangku, seperti aku dahulu.
Aku memilih berjalan pergi
meninggalkannya yang masih dengan tampang mengasihaniku. Aku tau hal yang ku
lakukan ini hanya bentuk pelarianku, Karna aku tak tau apa yang harus ku
katakan padanya sebagai wujud pembelaanku atas semua prasangka yang muncul dan
memang disebabkan oleh diriku sendiri.