Kamis, 15 Mei 2014

Patner in Crime :D


SECRET ADMIRER ~Chapter 3~



Mentari pagi telah mulai dengan anggunnya merangkak menampakkan cahaya keemasanya yang hangat dari pelupuk timur, dingin embun pagi masih terasa merasuk seakan memberi sinyal untuk tenggelam dalam kehangatan naungan selimut. Aku menarik selimutku dan melanjutkan mimpi indahku. tiba-tiba sebuah tangan dengan cepat menarik selimutku, aku tersentak bangun dengan mata masih terpejam karena kantuk. Ku buka mataku perlehan dan memperhatikan sosok tinggi di depanku, wajahnya nampak tak jelas tertutup rambut yang menjuntai panjang, tunggu dulu banyak darah, bekas sayatan, sekarang ia mulai merangkak mendekatiku, jantungku berdetak sangat kencang, ia semakin mendekat, dekat sampai di depan mukaku, tenggorokanku tercekat membayangkan mahluk apa yang ada di depanku ini, dan oh bola matanya kosong!
“ayah!! Apa kau tak bosan, kau lakukan itu dari umurku 10 tahun ingat?”
“ hey,,ayah masih menganggapmu purti kecil ayah,” katanya tersenyum membuka topeng jingsawnya.
Sebenarnya aku sudah bosan berdebat dengan ayah tentang memanggilku putri kecilnya, apalagi di depan teman-tamanku, karena itulah mereka meremehkanku dan menganggapku manja tak bisa melakukan segalanya sendiri tanpa bantuan orang lain, sebab itulah di sekolah ketika diadakannya grouping class aku tak pernah diinginkan untuk menjadi anggota kelompok mereka, kecuali yang menentukan kelompok ialah guru. Mungkin mereka benar-benar percaya kalau aku tak bisa di andalkan. Ya sudahlah ku harap sekolahku yang sekarang tak memperlakukan ku seperti dulu.
Pagi ini ayah membangukanku untuk mengajakku lari pagi, katanya mumpung hari minggu kita jalan-jalan supaya sehat sekaligus mengenal daerah baru di kompleks rumah ini. yah dengan sedikit malas ku ikuti kemauan ayah, kalau bukan aku siapa lagi yang akan menemaninya, setidaknya aku tak ingin membuatnya kecewa dan merasa kesepian.
Kami berjalan mengitari deretan rumah megah nan cantik yang di desain sedemikin rupa, memang tak secantik rumah kami tapi ku rasa aku bisa mengubah sedikit tampilan halaman depan  dengan menambahkan beberapa pot bunga dengan bermacam tanaman hias seperti beberapa rumah di belakang rumah kami. Contohnya salah satu rumah berlantai dua didepan ku ini dengan arsitektur seperti bergaya barat agak vintage unik tapi terlihat begitu indah dengan dekorasi taman kecil serta pot-pot bunga yang di jejerkan rapi di teras rumah. Aku tak sadar sudah beberapa lama aku memperhatikan rumah ini, sedang ayah sudah jauh didepan meninggalkanku.
“ish ayahku gak setiaanak banget sih.” Aku menggerutu menghentakkan kakiku ke tanah.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu dan keluar dari rumah itu. Dia mengenakan kaos berwarna biru dengan celana pendek hitam dan sepatu kets putih. Sambil menutup gerbang ia memasang headphonenya dan langsung terjun ke trotoar jalan berlari kecil tanpa melihatku sama sekali. Benar dia cowok tampan itu, dia terlihat begitu charming.
Kebetuan? Tentu bukan, kali ini memang benar-benar takdir. Aku berpikir untuk menyapanya tapi aku tak yakin bisa melakukanya, butuh nyali besar untuk melakukan hal itu. Akhirnya aku hanya bisa mengikuti langkahnya dari belakang, sungguh ironi yang menyakitkan.
Sepanjang perjalanan aku hanya bisa mengekorinya dari belakang dengan tetap menatap punggung datarnya. Aku merasa sunggung bodoh sekali menyia-nyiakan kesempatan yang merupakan takdirku ini. Tiba-tiba ia berhenti sejenak. Aku tak sadar masih berlari di belakangnya, oh tidak! Aku mencoba mengelak kearah samping tapi  “buukk!!” “oug sakit” aku menabraknya pas bahu kananya. Aku tersungkur terjatuh ke pinggir jalan, sedangkan ia hanya sedikit goyah tapi tak sampai jatuh seperti aku.
“maaf, maafkan aku” kataku tertunduk menyesal. Hal itu kurasakan sungguh memalukan sehingga aku tak mampu tuk sekedar melihat mata indahnya.
“kamu gak apa-apa?” katanya sambil memegang lenganku untuk membantuku berdiri. Ia seakan memcoba melihat wajahku yang masih tertunduk.
“tunggu.. hey kamu anak baru itu kan?”                                                  
“ehmm” aku mengangguk malu dengan sikapku ini. Aku takut ia menganggapku cewek sycho yang telah mengikutinya hingga kesini , setidaknya aku harus melakukan sesuatu tuk sekedar membela diri . ”maafkan aku, aku gak bermaksud begitu.” Lanjutku , memandangnya dan oh matanya, indah sekali.
“iya, aku tau, salahku yang berdiri di tengah jalan, seakan jalan ini milikku hahha.”  *tak dum jes, abaikan*
Dia humoris dan sama sekali tak kaku, nyaliku merasa sedikit bertambah .
“oya nama kamu siapa?” lanjutnya.
Jawab Vira kamu bisa, ini kesempatanmu ingat? Jangan sekali kau abaikan.
“Vira, yah aku Vira.” Dengan suara yang sedikit bergetar seakan aku sendiri tak yakin kalau itu namaku, tapi rasanya menyenangkan sekali ngobrol dengan orang yang kita sukai walau dengan tanpa melihat matanya. Sepertinya tatapan itu membuatku gugup.
“aku ardi, lazuardi Permana.” Katanya riang dengan senyum yang masih mengembang.
Oh apa yang harus ku katakan, setidaknya aku harus berkata sesuatu untuk mempertahankan obrolan exclusive ini, ayo Vira jawab, jawab Vira, jawab!. Aku seperti melihat rombongan cerleeder sedang bersorak meneriakkan namaku dan memberi semangat padaku.
“oh hey ardi..” oh what the hell! Apa yang ku katakan.
“hahha hey juga Vira, haruskah ku tanya kabarmu juga?” katanya dengan mencondongkan kepalanya menatapku serius.
Tatapannya membuatku gugup.
“hey aku cuma bercanda, ayo lari lagi.” ajaknya langsung berlari kecil.
Tuhan aku mohon ini bukan mimpi, jika ini memang mimpi tolonglah jangan bangunkan aku please tuhan, aku rela tidur beribu-ribu tahun untuk mimpi seperti ini.
Aku mengikutinya berlari tapi kali ini tak seperti yang tadi, aku berlari di sampingnya dan bukan di belakangnya, senang? Bukan, ini bahagia, bahagia sekali.*senang ama bahagia emang beda, abaikan*
“oya kamu tingga di sini?” dia memulai percakapan.
“ehm, aku baru pindah kesini.” Aku mengangguk dan menjawab sekenanya.
“kamu hmm… lucu hahha.” Dengan sedikit melirik ke arahku.
“bilang aja aneh.” Bisiku lirih pada diriku sendiri.
“oya, rumahku di seberang sana.” Sambil menunjuk ke arah rumah bergaya vintage tadi.
“aku tau.” Jawabku reflex.
“apa?”
Ups! Keceplosan, bagaimana kalau dia tau aku memperhatikan rumahnya sejak tadi seperti seorang mata-mata agen FBI yang memata-matai target incarannya, oh tidak, tidak.
“oh disana cake shop ayahku.” Kataku menujukan sebuah toko kecil di depan kami. Hanya ide itu yang terlintas di benakku,hah untung saja aku melihat toko kecil ayah. Disana ayahku sedang membuka dan membenahi beberapa perabotan toko dan ia masih mengenakan pakaian jogging tadi, rupanya ia belum sempat pulang ke rumah.
“navira cake shop? hmm pantes.” Katanya sambil menerawang ke tempat itu.
“namanya kampungan yah?” kataku lirih.
“bukan, bukan seperti itu, aku denger-denger sih di sana kuenya lezat-lezat.”
“benarkah?” senyumku langsung menjadi tawa bahagia.
“hmm” dia mengangguk. “kamu gak mau mengajakku kesana?” tanyanya.
“hah kamu mau mampir?  Oh ya tentu saja.” Aku tak menyangka ia akan berkata seperti itu.
Kami bergegas kesana dan menemui ayahku yang sedang mengatur dan membersihkan beberapa meja di depan tokonya, ia melalukan segalanya sendiri karena belum mendapatkan seorang karyawan untuk membantunya, maklum saja ini tempat barunya.
“ayah!” Kataku mengagetkannya dari belakang seraya merangkulnya.
“ayah kenalkan ini ardi.” Kataku memperkenalkan ardi pada ayahku yang masih merasa terkejut karena ku kagetkan tadi.
“hey om, saya temannya Vira, kami satu sekolah kok tapi beda kelas.” Tegas ardi menyalami ayahku. Tak kusangka ardi telah menganggapku sebagai temannya. Ini  kemajuan yang sungguh signifikan patut tuk dirayakan. lalala yeyeyeeeyyy *cuci-cuci jemur-jemur*wkwkwkwk
“oh yah, senang sekali mendengar putri kecil ayah sudah punya teman disini.” Katanya menggodaku.
“ayah ingat, kita udah sering membicarakan hal ini bukan.” Kataku membunyikan kekesalanku.
“bicara apa? Ayah lupa, oh tentang putri kecil hahhaa.” Tertawa puas melihatku. Kurasa ini pembalasan ayah karena aku telah mengagetkatnya.
Aku merenggut kesal pada ayah, sedangkan ardi tetap tersenyum melihat kami. *yaiyalah seyum kalian kayak pelawak, abaikan*
“sudah, sekarang kalian duduk disini ya, mau sarapan dengan wafell dengan jam nanas dan coklat panas?” Tanyanya pada Ardi.
“aku mauuu.” Teriakku kegirangan, karena itu ialah menu sarapan favoritku.
“boleh om”. Kata ardi sambil tak melepas senyumnya sedari tadi.
Senang sekali rasanya sarapan dengan Ardi, hal yang tak pernah aku bayangkan. aku takkan pernah menyesal ayah membangunkanku pagi-pagi buta dan di kagetkan dengan topeng Jingsawnya. Rasanya aku harus berterimakasih pada ayah hahhaa.
***

SECRET ADMIRER ~Chapter 2~



Mentari telah mulai enggan menampakkan sinarnya, tinggal warna jingga bercampur ungu yang terlihat menyapu langit sore ini. Sungguh warna twilight yang sangat memukau.
08.20 PM         
“Viraa, ingat cuci kaki dulu baru tidur!” teriak ayah dari luar kamarku.
“iya, inget,inget,inget!” jawabku sekenanya dengan gaya Upin Ipin.
Mengingat kejadian sepulang sekolah yang sempat membuatku merasa shock sekaligus malu pada diriku sendiri. Aku memutuskan untuk sedikit menghibur diri melupakan segala kegundahanku. sejak tadi sore aku berada di kamar menyalakan laptop dan chat dengan si BadBoy.
To BadBoy:
“bisa pura-pura mendengarku sebentar?”
From BadBoy:
“tentu, seperti yang biasa ku lakukan.”
To BadBoy:
“hey jangan mengeluh, but terimakasih udah selalu jadi pendengar yang baik untukku J
From BadBoy:
“everythings for you..”
To BadBoy:
“jangan membuatku malu.”
From BadBoy:        
“benarkah?”
To BadBoy:
“lupakan!”
From BadBoy:
“ok, ok calm down.. Apa tentang hari pertama di sekolah baru?”
To BadBoy:
“ehmm…”
From BadBoy:
“ any something happen?”
Ku pikir selama ini aku sudah terlalu banyak mengeluhkan semua masalahku pada si BadBoy dan hanya mengharap solusi penelesaian masalahku padanya. Aku tau hal itu tak akan membuatku memetik hikmah dari semua permasalahan yang terjadi. Disamping itu aku takut ia akan meremehkanku dan menganggapku kekanak-kanakan karena tak pernah bisa menyelesaikan masalah sendiri dan selalu saja mengadu padanya.
To BadBoy:
“oh bukan, bukan, sekolahku baik-baik saja.”
From BadBoy:
 “hmm really?”
To BadBoy:
“iyaa, teman-teman baruku pada baik semua, malahan aku udah punya…”
From BadBoy:
“punya apa? punya apa?”
To BadBoy:
“someone special hahha, ku pikir akan lebih termotivasi kesekolah karnanya”
From BadBoy:        
“ohh”
To BadBoy:
“gitu aja? Gak ada komentar lain?”
From BadBoy:
“aku pikir kamu di bully.”
To BadBoy:
“aku bisa menghadapi mereka, tak perlu menghawatirkan aku, everythings gonna be ok.”
Yah ku berharap seperti itu, walau aku tak yakin apa aku bisa atau tidak menghadapi anak-anak yang sudah men cap aku sebagai cewek gagap dari planet entah berantah.
From BadBoy:
“adalagi yang mau kamu katakan?”
To BadBoy:
“hmm gimana kalo ngebahas hidupmu, mulai dari tempat tinggalmu?”
From BadBoy:
“heemm akhirnya, sudah mulai tertarik padaku rupanya hahha”
To BadBoy:
“hey itu cuma pertanyaan biasa”
From BadBoy:
“menurutku tidak, setelah beberapa bulan kita kenal dan saling chat, tapi baru sekarang kamu nanyain itu.”
Sebenarnya dulu aku tak begitu tertarik chat dengannya, karena ku pikir dia hanya seorang cowok iseng yang ngechat ke sembarang cewek kemudian tebar pesona gak jelas lalu menjurus kearah rayuan gombal dan ujung-ujungnya minta nomer hp, tapi lama kelamaan harus ku akui kalau ia cukup menyenangkan, ia tak pernah berkata kotor, salah satu poin plus dan selalu menghargai pendapat orang lain. Kami juga menyukai beberapa hal yang sama seperti cerita mitos atau sesuatu yang misterius. Kami suka membahas hal-hal yang mungkin tidak penting bagi sebagian orang. Entah kenapa kami berteman cukup baik walau hanya melalui dunia maya. aku merasa nyaman dan tak canggung lagi untuk minta pendapat atau sekedar mendiskusikan  masalahku dengannya.
Yah selama ini aku memang tak pernah ingin tau segala tentangnya tapi setelah bebrapa lama berteman dengannya entah mengapa rasa ingin tau ku tentang hidupnya muncul. Aku tau dia ialah tipe seorang yang cukup misterius yang tak terlalu membiarkan informasi tentang dirinya di komsumsi public dengan memajang nya di social media seperti kebanyakan orang lain lakukan. Mungkin hal itulah yang memunculkan rasa penasaran diriku terhadapnya, tapi melihat balasan chat nya tadi, sebagai wanita aku tak mungkin mengatakan sebenarnya, yah aku penasaran padamu, tidak-tidak! dimana harga diriku. *dimana? Dimana? Carikan. Abaikan*
To BadBoy:
“ok, kalo gitu kamu gak pelu jawab.”
From BadBoy:
“hey jangan marah gitu dong, gimana kalo kita ketemu secara langsung, kamu bisa kirimin alamat kamu.”
To BadBoy:
“hah, kamu pikir aku cewek apaan, nyebarin alamat gitu aja.”
From BadBoy:
“itu ajakan pertama dan terakhirku loh.”
To BadBoy:
“so, hmm aku ngantuk off dulu ya, bye.”
To BadBoy:
“besok minggu, biasanya juga begadang kan.”
Yah sebenarnya aku memang belum terlalu mengantuk, tapi entah kenapa aku merasa gugup saat dia mengajakku bertemu face to face, aku berkilah seperti itu karena memang aku tak tau apa yang harus ku katakan, jujur saja selama ini aku belum pernah memiliki pengalaman menghadapi cowok, yah seperti yang kalian duga aku belum pernah pacaran *so poor, abaikan*. Ayahku terlalu over protective, melarangku pacaran sampai aku lulus sekolah, entahlah maksudnya lulus SMA atau lulus kuliah aku tak tau dan tak terlalu memusingkan itu. Ah aku menduga ayah merencanakan sesuatu terhadapku. Ya sudahlah toh aku juga belum memiliki seseorang yang benar-benar aku sukai. Ngomong-ngomong soal suka, aku jadi mengingat cowok keren, manis, baik yang super duper tampan dengan tatapan mata seperti malaikat itu. Oh tapi aku sungguh menyayangkan dua kali kesempatan yang terbuang percuma untuk sekedar bicara padanya, jika ke tiga kalinya aku bertemu tanpa sengaja dengannya mungkin itu takdir dan tak akan ku sia-siakan kesempatan itu. Oh sepertinya aku sangat menyukainya.
***