~My Edelweis~
Dedication for
my best friends, Rian Hadi and Siti Puji Ratna wati.
God bless you,,,
I love you, we love you,
Be brave, be
strong, we’ll be here for you…
Lop yu,, Rizka & As3
~~~
Sebagian besar kejadian dari tulisan ini ialah imajinasi
penulis semata.
~~~
Selasa, 26
Agustus 2014
Dear edelweiss sayangku…
Aku tak pernah pergi
meninggalkanmu, aku ada disini, di hatimu, di angan dan jiwamu. Jangan pernah
merasa sendiri, aku selalu bersamamu. Tetaplah hidup, karna itu yang ku
inginkan, tetaplah hidup untukku.. Hidup untuk angan dan cinta kita, hidup
untuk membuktikan aku pernah ada, aku pernah ada bersamamu dan masih ada di
hatimu.. jangan pernah menyerah dengan keadaan, jika suatu saat aku tak lagi
disini, tak lagi bersamamu. Tutup matamu dan rasakan aku memelukmu…
Aku
mencintaimu, edelweisku…
^^^
I can almost see it
That dream I am dreaming
But there's a voice inside my head saying
"You'll never reach it"
That dream I am dreaming
But there's a voice inside my head saying
"You'll never reach it"
Every step I'm taking
Every move I make feels
Lost with no direction
My faith is shaking
Every move I make feels
Lost with no direction
My faith is shaking
But I gotta keep
trying
Gotta keep my head held high
Gotta keep my head held high
There's always gonna
be another mountain
I'm always gonna wanna make it move
Always gonna be a uphill battle
Sometimes I'm gonna have to lose
I'm always gonna wanna make it move
Always gonna be a uphill battle
Sometimes I'm gonna have to lose
Ain't about how fast
I get there
Ain't about what's waiting on the other side
It's the climb…
Ain't about what's waiting on the other side
It's the climb…
Nada ini telah
sangat akrap denganku,
Di saat kerinduan ini memuncak
Dan menyisakan
rasa sesak di dada.
Di saat air mata
tak lagi terbendung,
Di saat khayal
tak lagi mampu melukiskan wajahmu.
Hatiku sudah
sangat lelah dengan harapan,
Harapan yang
selalu membuatku kuat
Harapan yang
selalu menghadirkanmu
Walau dalam
mimpi.
Aku tau kau
dekat,
Aku tau kau
disini,
Mereka, mereka
tak berhak menghakimi cinta kita,
Cinta kita teralu
kuat untuk di uji
Dan ketahuilah,
aku akan berada disini,
Menghidupkan
angan dan citamu,
Karna aku
milikmu, aku mencintaimu…
Edelweisku…
***
Senin , Juli , 2008
“hari pertama aku menginjakan kaki
di sekolah ini, hah semoga hari ini menyenangkan dan aku bisa bertemu dengan
dia, dia pangeran impianku”
Cahaya mentari masih terlihat malu
memancarkah kehangatanya, angin pagipun masih terasa menusuk sampai ke tulang,
tapi Ia telah keluar dari kamar mungilnya dengan kostum khas kemeja lengan
panjang putih, rok abu panjang lengkap dengan kaos putih dan sepatu hitam serta
tak ketinggalan jilbab khas dengan warna dasar putih yang memiliki lis abu di
pinggirnya. Semuanya baru. Ia terlihat menawan dengan baju SMA yang Ia kenakan.
Dia hampir tak percaya dapat masuk di SMA yang tergolong favorit dan menjadi
incarannya sejak lama dan menjadi incaran juga bagi sebagian besar anak di
Lombok Timur. Juga karena disana ada seseorang yang telah merebut hatinya.
Dengan sorot
mata indah, hidung mancung dan senyum menawannya selalu bisa membuat orang di
sekitarnya menoleh memberi parhatian untuk wajah yang tak mudah bisa di lupakan
itu. Pribadinya yang lugu, ramah dan mudah bergaul kian membuat dirinya
sempurna. Tubuhnya mungil tapi itu bukanlah menjadi halangan untuk jiwanya yang
pemberani, Ia selalu menyukai tantangan dan senang mencoba hal-hal baru, dia
bukanlah remaja yang suka bersolek ria seperti kebanyakan remaja lainnya.
Dialah Ratna Khaila Nasution. Ratna kami tercinta, Dan inilah sepenggal kisah
hidupnya…
Hari itu ialah
pembagian kelas baru, suara gaduh terdengar di seantero ruang kelas, ada yang
sibuk mengatur meja dan kursi yang sebenarnya sudah rapi, ada yang sibuk
berkenalan bercanda ria dengan teman
barunya, ada yang kebingungan mencari teman duduk dan banyak lagi kesibukan
lainnya. Sementara Ia tetap duduk tenang tanpa memperhatikan hiruk pikuk yang
terjadi, Ia beropang dagu dengan wajahnya terangkat seakan menerawang ke
angkasa, entah apa yang ada di fikiranya.
“hey, kamu Ratna yah? Sini gabung
sama genk kita”. dialah Nindia anak salah satu pengusaha kaya di Lombok timur.
Memang di SMA ini ada beberapa, bukan tapi sebagian besar anak yang
mengelompokan diri mereka, dengan membuat perkumpulan atau semacam genk-genk
anak popular di sekolah, tapi itu bukan masalah.
Ratna tersenyum
dan berjalan kearah mereka. Ia di sambut 4 anak perempuan cantik dan modis yang
tentunya juga kaya. Ia bersalaman dan berbicara sambil tertawa bersama, tetapi
sesaat kemudian Ratna pergi meninggalkan mereka menuju tempat duduknya semula.
“hah, ku rasa, aku tak cocok dengan
mereka”. Ia berbalik tersenyum pada anak perempuan yang duduk di belakangnya.
Anak itu terlihat kikuk dan membalas senyuman Ratna seadanya.
“oya aku Ratna, kamu?”. Katanya
dengan alis terangkat.
“hmm aku Yessa”. Anak itu terlihat
malu. Dia memang pemalu, pendiam, tak modis dan pasti juga tak kaya seperti
Nindia and the genk.
Yah tapi itulah
Ratna, Ratna kami tercinta, tak pernah membedakan teman.
Beberapa hari di
sekolah ini, terkadang Ia sering terlihat menyendiri merenung atau menulis
sesuatu, menulis tentang angannya bersama si Pangeran impiannya. Si Pangeran
impian yang menjadi semangatnya. Kini Si Pangeran impian telah membuatnya
kecewa, Si Pangeran impian yang kini mempunyai seseorang di sampingnya. Ia
terlihat menahan air matanya. Tapi ya sudahlah, toh kisah ini bukan tentang Si
Pangeran impian…
***
Bagi murid baru
di sekolah ini harus mengambil extra kulikuler sesuai dengan bakat dan minat
mereka. Ada beberapa ekskul yang di sarankan diantaranya ialah rohis, PMR,
pecinta alam (PA), basket, pramuka, karya ilmiah remaja dan manga club. Ratna
sendiri mendaftarkan namanya di ekskul pencinta alam.
Pada pertemuan
awal pencinta alam Ratna dengan antusias mengikuti dan mendengarkan para
Pembina dan perintis yang hadir dan memperkenalkan nama masing-masing. Di acara
pertemuan-pertemuan selanjutnya Ratna tak pernah sadar kehadiran sosok yang
selalu tersenyum dan memperhatikannya. Sampai ketika acara pelantikan diadakan
untuk meresmikan anggota baru pecinta alam. Para calon anggota baru satu
persatu di jajal dan di tantang adrenalinenya dengan naik ke atas bukit,
menyebrang sungai, berayun menggunakan dahan pohon, di ajarkan bagaiman
bertahan hidup di hutan dengan memakan beberapa tumbuhan yang tidak beracun.
Ratna duduk
diantara akar-akar pohon jati berusia ratusan tahun yang muncul ke permukaan,
Ia memejamkan matanya menarik nafas dalam dan bersandar untuk mengumpulkan sisa
tenaganya. Di tengah yang lain mengeluh kelelahan Ia sendiri tak pernah
mengeluh seperti kebanyakan temannya yang lain. Disaat mereka beristirahat sambil
mendengar arahan dari salah satu Pembina yang berbicara melalui microfon. Salah
seorang perintis yang tengah berdiri terlihat tak sabar, terlihat dari kakinya
yang tak bias berhenti bergerak dan dengan tiba-tiba Ia mengambil microfon yang
masih berada di tangan Pembina yang sedari tadi berbicara panjang lebar.
Pembina tadi terihat kebingungan, tetapi tak di peduikan sang perintis,
“Ratna Khaila
Nasution!”. Ratna tersentak terkejut mendengar namanya di teriakkan oleh
perintis tersebut. “Ratna!, maju ke depan!”. Kali ini Ratna takut, Ia berfikir
keras, mengingat-ingat adakah kesalahan yang telah Ia perbuat sehingga namanya
diteriakkan dengan begitu keras. Dengan wajah terlihat bingung, Ia berusaha
menepis keraguan dan rasa takut dihatinya, setengah hati Ia berjalan
menyeret-nyeret langkahnya maju ke depan.
“iya?, apa aku
membuat kesalahan?”. Dengan wajah bingung.
Dengan sorot
mata taja Perintis tersebut memandanginya sejenak, semua orang terdiam terpaku
menyaksikan.
“iya, kamu sudah
membuat kesalahan fatal!”. Ratna tertunduk, bolo matanya membesar dan terasa
basah apa yang telah ku lakukan?. Suasana
sunyi, sesunyi malam, bahkan tak ada yang berani membuat gerakan sedikitpun
tanpa aba-aba si perintis. “kesalahanmu, kamu telah mencuri!”. Ratna terkejut
atas apa yang dialamatkan kepadanya, Ia tak habis fikir, apa yang telah Ia
lakukan, apa yang telah Ia curi, lidahnya terasa kelu tak mampu berkata walau
untuk membela dirinya. “mencuri hatiku..” nada si perintis menurun dan
melukiskan senyum di wajahnya. Semua orang terdiam sejenak kemudian tawapun
pecah, menyisakan kegaduhan acara tersebut. Ratna tertunduk berjalan mengjauhi
kerumunan yang sedang tertawa entah mentertawakan dirinya atau lelucon yang di
buat perintis, lelucon yang mengorbankan dirinya hanya untuk menghibur para
calon anggota yang mengeluh kelelahan. Ia berfikir tak mengapa toh membuat
orang bahagia itu pahala ,tetapi Ia
merasakan perih di hatinya. Ia mencoba tertawa seadanya, tawa yang terkesan
dipaksakan. Ia menuju tepi sungai terdekat untuk membasuh muka juga menenangkan
hatinya.
“sorry, aku Andi
dan itu bukan leulcon”. Terdengar suara dari belakang.
“lelucon juga
tak apa” ia menatap dasar sungai, mengambil air dengan tangan dan membasuh
mukanya.”aku senang melihat mereka tertawa” Ia tersenyum kearah si perintis
Andi.
Andi terdiam, Ia
berjalan maju mendekati tepian sungai tepat di samping ratna.
“maaf, tapi aku
benar menyukaimu”. Dengan tatapan mata sayu kearah dasar sungai.
“kenapa kau
mudah sekali mengatakan suka?”. Ratna menyipitkan mata menoleh kearah Andi.
“karna aku tau, kita
punya takdir” seakan menelan bongkahan besar di tenggorokannya “takdir bersama”
lanjutnya mengangkat wajah menerawang ke sebrang sungai tanpa melihat Ratna
yang sedari tadi menoleh menyipitkan mata serta mengerutkan dahi kearahnya.
“kau yakin?”
dengan semakin menyipitkan matanya.
“tentu saja” Ia
tersenyum memandang lekat wajah Ratna. Terlihat ketulusan dan Ratna merasakan itu. Sejenak
mata mereka bertemu, menyadari itu Ratna mengalihkan pandangannya kedepan dan
terdiam.
“gimana?”. Andi
mencondongkan mukanya mendekati Ratna.
“gimana apanya?”.
Ratna sedikit menjauh.
“hah, mau gak
memiliki takdir bersamaku?”.
Ratna diam hanya
tersenyum.
“gimana?”. Andi
menggerakkan kakinya tak sabar mendengar jawaban Ratna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar