Selasa, 27 Januari 2015

MY EDELWEIS chapter 2 (full version)



My Edelweis
CHAPTER 2
Tak pernah kubayangkan Tuhan mentakdirkan kita,
Kau datang, ketika aku mendamba seseorang,
Kau hadir, ketika aku mengiba kasih sayang,
Maaf, Kau luput dari pandanganku yang silau auramu.
Masihku merasakan ketulusan dalam nadimu
Kita di takdirkan bersama, dengan cara yang luar biasa.
***
Dua orang laki-laki terlihat sedang asik mengobrol, terkadang juga bersenda gurau terihat jelas dari tawa lepas keduanya.
“eh, Gun gimana menurutmu junior yang sekarang?”. Laki-laki itu memulai pembicaraan.
“cantik-cantik bang”. Sambil melepas tawa.
“bukan yang itu Guntur! Maksudku skill mereka, gimana? mereka udah ada perkembangan gak, sebelum kita ngadain pendidikan ”. Tanyanya serius.
“hahha itu sih info tambahannya bang, keliatannya udah siap deh, atur aja waktu pendidikannya, biar gak ganggu jadwal kuliahnya abang”. Jawab Guntur santai.
“okelah kalo gitu”. Katanya mengangguk-anggukan kepalanya.
“bang , ini tantangan dan harus di terima! nih ku kasi nomor hp sepupuku, kalo abang bisa ngeluluhin hatinya berarti abang hebat! Gimana? Terima?”. Guntur meraih setengah ponsel lelaki tersebut kemudian mengetik beberapa angka dan menyimpannya.
“hmm, oke siapa takut!” jawab lelaki tersebut dan merekapun tertawa bersama lagi.
***
Jum’at , August, 2008
08.15 petang, warna orange telah berganti dengan pekatnya hitam malam, suara-suara kebisingan khas terangpun berganti suara jangkrik yang mencerminkan suasana gelap. Indahnya cahaya bulan sempurna yang terlihat bersinar memantulkan hangatnya mentari dari sisi bumi yang berbeda. Malam ini Ratna tengah sibuk mempersiapkan segala peralatan dan keperluan untuk kegiatan pendidikan, besok siang Ia beserta anggota baru PALAMAS harus berangkat menuju hutan Mayung Polak. Ia harus mempersiapkan segalanya dengan tepat karena ini ialah pertama kalinya Ia masuk dan harus menginap semalam di dalam hutan.
Krriiingg,, kriinngg privat number calling…
Ratna tak menghiraukan ponselnya, Ia lebih memusatkan perhatiannya pada persiapan besok. Dia berfikir untuk istirahat lebih awal untuk memaksimalkan staminanya, jika besok Ia di gembleng habis-habisan oleh seniornya, meskipun Julian telah menjamin bahwa Ia akan aman dari senior yang akan memberinya latihan fisik yang cukup berat, Ia merasa tetap harus bersiap-siap atas kemungkinan yang tak bisa Ia bayangkan.
12.03 petang
Kriiiinngg…kriiingg… privat number calling… Dengan mata masih terpejam, Ia berusaha meraih ponselnya yang berada di bawah bantalnya.
“iya, halo?”. Ratna menjawab panggilan tanpa membuka matanya.
“halo”. Terdengar suara laki-laki diseberang.
“siapa?”. Ratna berusaha berbicara walau tertahan kantuk yang luar biasa.
“ini Udin!” jawab laki-laki tersebut.
Ratna tersenyum melawan kantuknya, dalam pejaman matanya Ia membayangkan sosok yang sedang berbicara dengannya melalui ponsel tersebut ialah Udin Sedunia artis dari Lombok yang tenar karena lagu andalanya yang di upload ke youtube dan berjudul sama dengan namanya.
“kenapa diam?” suara lelaki tersebut bertanya.
“gak, hanya saja ini udah malam dan aku sangat ngantuk”. Jawab ratna masih tersenyum tanpa suara.
“oh sorry, kalau gitu aku tutup, selamat malam.” Suara di sebrang.
“selamat malam juga Udin”. Ratna menjutkan tidurnya dengan senyum yang masih berbekas di wajahnya.
***
03.00 PM
Keesokan harinya semua orang sudah berkumpul dilapangan basket sekolah tak terkecuali Ia dan Julian. Semuanya berbaris rapi dan di absen satu persatu. Para senior dan perintispun telah hadir dengan bawaan masing-masing. Ransel Ratna terlihat begitu penuh dan berat, Ia tetap terlihat cantik mengenakan baju olah raga putih biru muda khas sekolah ini.
“nanti di hutan, kau jangan menjauh dariku yah”. Bisik Julian yang berbaris di samping Ratna.
“emang kau bisa menjagaku?” Tanya Ratna dengan nada meremehkan.
“tentu aja, kau tau kan aku punya sabuk hitam.” Jawab Julian percaya diri.
“karate?” Ratna menoleh kearahnya.
“gak sabuk biasa kok”. Jawab Julian polos kemudian tersenyum.
“isshh, menjauh dariku!” Ratna menjawab ketus.
***
Mereka tiba di hutan menjelang malam, dan telah menemukan tempat yang tepat untuk mendirikan tenda dengan sumber air yaitu sungai kecil yang berada tak jauh dari lokasi mereka. Hutan ini terlihat begitu mencekam dalam petangnya malam, suara-suara malampun semakin jelas terdengar. Kodok, burung malam, jangkrik dan suara serangga lainnya kian semakin tajam terdengar di habitat asli mereka. Terlihat anggota dan senior lain menyalakan api untuk penerangan dalam kegelapan ini. Malam ini masing-masing dari kelompok anggota baru akan berjalan melalui rute yang telah di siapkan. Mereka akan berjalan dan harus menemukan pos-pos penjagaan para senior. Mereka juga harus melakukan tantangan dan harus melaksanakan perintah senior.
Paginya anggota baru tersebut satu persatu di jajal dan di tantang adrenalinenya dengan naik ke atas bukit, menyebrangi sungai, berayun menggunakan dahan pohon, juga di ajarkan bertahan hidup di hutan dengan makanan seadanya atau dengan memakan beberapa tumbuhan yang tidak beracun.
Sorenya para anggota baru PALAMAS dan juga para senior kembali ke area tempat mereka mendirikan tenda. Semuanya terlihat lelah, ada yang mengeluh kehausan, ada yang mengeluh kesakitan karena kakinya sedikit terluka saat di perjalanan, dan ada juga yang mengeluh kecapaian kemudian merebahkan tubuhnya di atas rerumputan hijau hutan untuk mengembalikan tenaganya lagi.
Ratna sendiri duduk bersandar diantara akar-akar pohon jati berusia puluhanan tahun yang muncul ke permukaan, Ia memejamkan matanya menarik nafas dalam, membiarkan akar jati menopah tubuh lelahnya untuk mengumpulkan sisa tenaganya. Di tengah yang lain mengeluh kelelahan Ia sendiri merasa tak harus mengeluh dengan keadaan, karena inilah pilihannya dan Ia tak akan menyesal telah memilih PALAMAS.
Sayup-sayup terdengar ketua dari PALAMAS tengah berbicara melalui microfon, memberi selamat pada anggota baru yang telah berhasil menjalani pendidikan ini. Ia berbicara panjang lebar dan memberi kata-kata mutiara untuk menyemangati para anggota yang tengah duduk beristirahat.  Salah seorang senior lainnya yang tengah berdiri di samping ketua PALAMAS terlihat tak sabar, terlihat dari kakinya yang tak bisa berhenti bergerak menunggu ketua selesai berbicara. Dengan tiba-tiba Ia mengambil microfon yang masih berada di tangan ketua dengan setengah merampas. Ketua tersebut terlihat kebingungan, tetapi tak di peduikan sang senior.
“Ratna Khaila Nasution!”. Ratna tersentak terkejut mendengar namanya di teriakkan oleh senior tersebut. “Ratna!, maju ke depan!”. Kali ini Ratna takut, Ia berfikir keras, mengingat-ingat adakah kesalahan yang telah Ia perbuat sehingga namanya diteriakkan dengan begitu keras. Dengan wajah terlihat bingung, Ia berusaha menepis keraguan dan rasa takut dihatinya, setengah hati Ia berjalan menyeret-nyeret langkahnya maju ke depan.
“iya?, apa aku membuat kesalahan?”. Ratna dengan wajah bingung.
Dengan sorot mata tajam senior tersebut memandanginya sejenak, semua orang terdiam terpaku menyaksikan.
“iya, kamu sudah membuat kesalahan fatal!”. Ratna tertunduk dia, bola matanya membesar dan terasa basah apa yang telah ku lakukan?. Suasana sunyi mencekam, sesunyi malam, bahkan tak ada yang berani membuat gerakan sedikitpun tanpa aba-aba sang senior. “kesalahanmu, kamu telah mencuri!”. Lanjut sang senior. Ratna terkejut atas apa yang dialamatkan kepadanya, Ia tak habis fikir, apa yang telah Ia lakukan, apa yang telah Ia curi, lidahnya terasa kelu tak mampu berkata walau untuk membela dirinya. “mencuri hatiku..” nada si perintis menurun dan melukiskan senyum di wajahnya. Semua orang terdiam sejenak kemudian tawapun pecah, menyisakan kegaduhan acara tersebut. Ratna tertunduk berjalan mengjauhi kerumunan yang sedang tertawa entah mentertawakan dirinya atau lelucon yang di buat perintis, lelucon yang mengorbankan dirinya hanya untuk menghibur para anggota yang mengeluh kelelahan. Ia berfikir tak mengapa toh Ia telah membuat yang lain tertawa bahagia melupakan rasa lelahnya dan Ia akan menerima pahala karena itu, tetapi Ia merasakan perih di hatinya. Ia mencoba tertawa seadanya seakan tak terjadi apa-apa, tawa yang terkesan dipaksakan. Ia berjalan menuju tepi sungai terdekat untuk membasuh muka juga menenangkan hatinya.
“sorry, aku Andi dan itu bukan leulcon”. Terdengar suara dari belakang.
“lelucon juga tak apa” ia menatap dasar sungai, mengambil air dengan tangan dan membasuh mukanya.”aku senang melihat mereka tertawa” Ia tersenyum kearah si senior Andi.
Andi terdiam, Ia berjalan maju mendekati tepian sungai tepat di samping ratna. “maaf, tapi aku benar menyukaimu”. Dengan tatapan mata sayu yang terarah ke dasar sungai.
Ratna menyipitkan mata menoleh kearah Andi. “kenapa kau mudah sekali mengatakan suka?”.
“karna aku tau, kita punya takdir” seakan menelan bongkahan besar di tenggorokannya “takdir bersama” lanjutnya mengangkat wajah menerawang ke sebrang sungai tanpa melihat Ratna yang sedari tadi menoleh menyipitkan mata serta mengerutkan dahi kearahnya.
“kau yakin?” dengan semakin menyipitkan matanya.
Ia tersenyum memandang lekat wajah Ratna “tentu saja”. Terlihat  ketulusan, Ratna bisa merasakan itu. Sejenak mata mereka bertemu, menyadari itu Ratna mengalihkan pandangannya kedepan dan terdiam.
“gimana?”. Andi mencondongkan mukanya mendekati Ratna.
Ratna sedikit menjauh, “gimana apanya?”
“hah, mau gak memiliki takdir bersamaku?”.
Ratna diam hanya tersenyum.
“gimana?”. Andi menggerakkan kakinya tak sabar mendengar jawaban Ratna.
“maaf, tapi ibuku mengajariku untuk tidak mudah percaya pada orang yang baru ku kenal”.
“ya, ibumu memang benar, dan aku takkan menjadi orang asing bagimu, akan ku buktikan dan aku takkan menyerah, Ratna”. Ia tersenyum dan berlalu meninggalkan Ratna.
Ratna bertanya pada dirinya sendiri apakah yang sudah Ia lakukan itu benar?, Ia mencoba menyakinkan dirinya sendiri ya aku memang benar.. tapi Ia juga tak bisa berbohong pada dirinya sendiri bahwa Ia mempercayai semua perkataan Andi hanya dengan melihat matanya, Ia merasakannya, merasakan ketulusan dalam mata itu.
***
Sehari setelah pendidikan usai Ratna memperbanyak istirahatnya, Ia merasa kepalanya sangat berat. Ia juga merasakan linu di persendiannya. Sambil mencoba tidur merebahkan badannya di atas kasurnya yang nyaman.
kriiingg…kringgg 087763654xxx calling…
“halo?” Ratna meraih ponselnya yang terletak di meja samping tempat tidurnya.
“halo, Ratna?” suara lelaki bertanya.
“iya, siapa?” kini giliran Ratna yang bertanya.
“ini bang Andi”.  Ia menjawab.
“iya, kenapa bang?”
begini, biasanya kami para senior setelah acara pendidikan usai, kami akan menghubungi para anggota untuk meminta maaf  atas kesalahan-kesalahan yang kami lakukan ketika acara kemarin berlangsung”
“oh, gak apa-apa kok bang”. Jawab Ratna santai.
“tapi soal pembicaraan di dekat sungai itu bukan rekayasa dan aku tidak akan meminta maaf untuk hal itu”. Suara Andi terdengar tegas.
“karna kau gak menganggap itu kesalahan bukan?”. Ratna berkata spontan.
“tentu saja, aku serius mengenai itu dan aku akan bertanya lagi” Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkannya “Ratna Khaila Nasution, maukah kau menjadi bagian dari takdirku?” suaranya terdengar kian begitu tegas.
“hmm, sebentar, bukankah organisasi kita punya aturan kalo diantara para anggota maupun senior tidak boleh ada hubungan special?” Ratna berkata padanya.
“iya. Tapi tidak untuk kita, aku serius dan karena keseriusanku ini aku rela melanggar semua aturan itu.” Jawabnya tanpa terdengar ragu.
“tapi itu salah”. Suara Ratna melemah.
“apa yang salah untuk orang yang di anugrahi perasaan cinta?, apa dengan ini kau melarangku mencintaimu?”.
Ratna terdiam, tak mampu berkata. Ia tahu bahwa Ia tak memiliki hak untuk menghakimi perasaan orang lain, walau perasaan itu ialah rasa cinta seseorang untuknya sendiri.
“jawablah Ratna”. Suara Andi terdengar lembut.
Ratna mengenggam erat ponselnya, terlihat jari tanganya memutih mengisyaratkan kekuatan genggamannya. Bibirnya bergetar tanpa suara, kepalanya penuh dengan semua pemikiran tentang pertanyaan Andi, Ia tahu Andi bukanlah sosok yang mudah menyerah walaupun Ia tolak berkali-kali, disisi lain hatinya percaya dan merasakan ketulusan Andi, Ia tak ingin menyia-nyiakan sosok yang menyayangi dirinya karna Ia tahu rasanya di acuhkan, tetapi juga Ia ragu mempercayai hatinya sendiri, apakah hatinya berkata benar dan baik untuknya. Begitu banyak pertimbangan di kepalanya.
“bang Andi”. Ratna menghela nafasnya, terdengar begitu berat.
“iya?”. Suara Andi masih terdengar lembut.
“aku ingin kau tetap meyakinkan hatiku kalau aku benar, pilihanku memang benar untuk memilihmu, kau bisa?”. Ratna terdengar mengatur nafasnya.
Sunyi, Andi diam sejenak. Kemudian,
“ya, yah! Aku berjanji, aku berjanji Ratna!”. Suara Andi terdengar begitu riang.
Ratna menutup ponselnya perlahan, menggenggam dan mendekapnya, Ia menutup mata berusaha mengatur nafasnya seakan menyakinkan dirinya sendiri “yah, aku benar, aku akan mencoba mencintainya”.
***
Seminggu berlalu setelah Ia menerima pernyataan Andi, Andi menghilang tanpa kabar seakan di telan bumi. Ratna bingung bercampur kesal dan khawatir sesuatu terjadi pada Andi “apa yang dilakukan orang itu? Apa dia hanya mempermainkan aku?” angannya. Ia menyalakan ponselnya mencari nama Andi di phone book poselnya dan segera menekan tanda panggil tetapi yang terdengar hanyalah voice mail, nomornya tak aktif. “apa kau mengganti nomor tanpa membritauku? Setidaknya kau memberi kabar, aku kan pacarmu Andi” Ratna berbicara pada poselnya sendiri kesal. Belum selesai Ia menggerutu mengomeli ponselnya yang tidak bersalah, Ia di kejutkan lagi dengan ponselnya yang bergetar.
Bip...bip...bip
1 message received
From: +6287863777xxx
temui aku sore ini di halte depan sekolah. Your boy friend Andi”
Ratna melototi ponselnya geram. “kau kira aku akan datang hah?! Tidak akan!” Ia berbicara pada ponselnya lagi.
Bip..bip..bip
1 message received
From: +6287863777xxx
“aku akan menunggumu, jadi datanglah dan akan ku jelaskan semuanya”
Ratna memandangi ponselnya, Ia menggigit bibirnya berusaha berfikir jernih dan menghilangkan amarahnya. Ia tak habis fikir seorang Andi bisa membuatnya sampai merasa bingung sekaigus khawatir seperti sekarang ini.
Reply to: +6287863777xxx
“baiklah aku akan datang”
***
Ratna berjalan keluar dari kamar kosnya menuju sekolah yang berjarak tak terlalu jauh dari tempatnya menetap. Ia berjalan perlahan, mata besarnya terlihat sayu seperti biasa selalu nampak indah. Ia sudah bisa melihat sekolahnya yang berdiri megah berlantai dua dengan tembok bercat hijau muda dan kuning, Ia mendongak ke atas melihat setiap jendela di lantai dua memantulkan cahaya mentari sore, terlihat begitu cemerlang. Dari kejauhan Ia bisa melihat kekasihnya Andi sedang berdiri melambaikan tangan untuknya di depan halte dan Ia bersama seseorang. “sepertinya aku kenal?” angannya. Ia mempercepat langkahnya tak sabar ingin memarahi juga mendengar penjelasan Andi.
Andi tersenyum lega. Ia mengenakan jaket parasut dengan celana pendek berwarna krem dan sepatu kets untuk naik gunung, tak lupa Ia mengikat kepalanya menggunakan sapu tangan slayer yang di bentuk segitiga. Disampingnya terdapat tas ransel besar yang disandarkan pada tempat duduk halte. “akhirnya kau datang juga”.
“Ratna?”. Lelaki yang bersama Andi nampak terkejut.
“julian? Kok kalian bisa bersama?” tanya Ratna memandang keduanya.
“aku belum bilang yah? Hahha maaf, Julian ini keponakanku”. Andi memegang bahu Julian setengah memeluk.
“gak, aku yang terambat bilang”. Julian menatap Ratna dengan sorot mata melemah.
“oya apa kalian satu kelas?”. Tanya Andi.
“kapan kalian jadian?”. Julian balik bertanya tak sabaran.
“seminggu yang lalu, ya kan Na? Maaf ya om baru cerita sekarang, lagian kita jarang ketemu kan.” Andi tersenyum menatap Ratna.
“yah, om sibuk kuliah sih” Julian terlihat memaksakan tawanya “oya aku hampir lupa ada urusan yang harus ku selesaikan sekarang, jadi sepertinya aku harus pergi”. Julian mengeluarkan konci motor dari saku celananya.
“kenapa mendadak begitu? Duduklah sebentar” Andi seakan mempersilahkan.
“lain kali aja, aku buru-buru, duluan yah”. Julian langsung menaiki motornya dan melesat pergi.
“dia teman sekelasmu?” tanya Andi pada Ratna.
Ratna mengangguk sambil berkata “dia temanku” matanya kearah Julian pergi, Ia merasa Julian terlihat berbeda tidak seperti biasa.
***
Julian melaju motornya kencang, Ia tak nyakin kemana tujuannya pergi, Ia membiarkan motornya mengendalikannya, mata beningnya membesar seakan tak mampu menahan gumpalan air dimatanya. Kepalanya terasa penuh memikirkan kejadian yang baru Ia lalui. Matanya semakin memerah dan terjangan angin yang menerpa mukanya akhirnya mampu menerobos bendungan air dimatanya. Sesuatu jatuh dipipinya, tersadar Ia langsung mengusapnya dengan lengan kirinya. Motornya semakin melaju kencang Ia tak tau kapan dan dimana Ia akan berhenti, yang Ia tahu hanya melarikan diri dari perasaannya.
***
“apa! Kau menghilang selama seminggu hanya untuk mengetesku?”. Ratna menyipitkan matanya seakan menginginkan penjelasan lebih dari pacarnya.
“iya sayang maafkan aku, ku kira kau tak akan peduli padaku”
“dengar, kau sudah menjadi pacarku, aku punya hak untuk tau keadaan dan keberadaanmu!”
Julian tersenyum lega, Ia bahagia mendengar kemarahan Ratna “terimakasih, ”
“untuk apa?”
“untuk marah padaku, bukankah itu artinya kau khawatir padaku?”
“ya, memang aku khawatir padamu,” Ratna terlihat gelagapan.
Julian kembali tersenyum “berarti kau sayang padaku,” tawa Julian pecah diikuti wajah Ratna yang memerah. “baiklah, aku janji tak akan seperti itu lagi, mau memaafkan aku?” Julian bertanya.
Ratna mengangguk malu “tapi awas kalau kau ulangi lagi.”
“nih.” Andi mengeuarkan beberapa tangkai bunga mungil yang diikat menjadi satu, bunganya memiliki mahkota kecil dengan warna putih pucat, daun yang kecil hijau dan tangkai yang terlihat rapuh tetapi begitu kuat.
Senyum Ratna mengembang “edelweis!” Ia bersorak girang “kapan kau naik?”
“hey aku baru pulang dan langsung menemuimu.”
Ratna tak teralu memperhatikan jawaban Andi, Ia asik memperhatikan edelweis yang Ia pegang. “kenapa sedikit sekali?”
Andi mengetahui Ratna mengabaikan jawabannya “ iya nanti ku bawakan lagi”. Jawabnya seadanya. Ratna hanya tersenyum perhatiannya hanya terfokus pada edelweis tersebut.
Ratna memandang Andi “terimakasih” Ia tersenyum, senyum yang selalu mampu meluluhkan hati Andi. Andi membalasnya.
***
Di kelasnya setelah jam pelajaran terakhir selesai, Ratna nampak riang seperti biasa selalu tersenyum dan menyapa teman-temannya yang sedang berkemas merapikan alat tulis mereka untuk segera pulang. Matanya melihat sekeiling seakan sedang mencari sesuatu. “disana rupanya” senyumnya mengembang melihat Julian yang duduk di bangku paling belakang menghadap keluar jendela. Tatapannya kosong kearah lapangan basket yang berada tepat di depan kelas.
Ratna berusaha merunduk mengendap-endap mencoba untuk mengagetkan Julian, setelah mendapatkan posisi yang tepat, Ia segera mengambil ancang-ancang membuat gerakaan tiba-tiba. “hey!, mikirin apa sih?”
“Ratna berhenti melakukan itu!”
“oke sorry” Ratna kembali tersenyum menarik bangku didepannya lalu duduk disamping Julian.
Melihat Ratna tersenyum itu Julian hampir mengurungkan niatnya untuk berbicara serius pada Ratna, Ia menghela nafas panjang menyakinkan dirinya bahwa Ia memang harus melakukan ini.” Ratna...”
“iya?”
“Aku rasa kita tak perlu bertemu lagi, ada baiknya kita membuat jarak satu sama lain.”
“kenapa? kau sedang marah? Sini aku hibur,” Ratna meraih tangan Julian.
Julian menarik paksa tangannya “aku serius!”
Ratna diam, sikap Julian cukup mengagetkannya.
Julian tersadar bahwa Ia telah berbuat kasar pada Ratna, Ia segera menyesali perbuatannya “maafkan aku Ratna, aku tak bermaksud menyakitimu,” Julian diam menghela nafas panjang dan berat seakan berfikir dari mana Ia akan memulai pembicaraannya dengan Ratna.
Ratna membuka suara “apa ini karena hal kemarin, maaf aku tak memberitaumu tentang hubunganku dengan Andi,”
“aku marah, aku benci pada diriku sendiri Ratna...,” Ia menghentikan perkatanya.
“maksudmu?”
Julian memalingkan muka kearah jendela sekali lagi mengumpukan keberaniannya. “aku sayang padamu,,”
Ratna terlihat kebingungan dan gugup “apa? tapi aku... Julian aku kira kita berteman baik,”
“kau memang tak pernah sadar Ratna... kau tak pernah mengerti kenapa aku selalu disampingmu, bersamamu.. kau tak pernah benar-benar menganggapku ada, aku memang tak memiliki arti bagimu...”
“Julian! Kau sahabatku.”
Dadanya terasa sesak seakan sedang menahan berton-ton beban didalamnya “ya sahabat, seorang sahabat yang selama ini memendam cinta untukmu. Yang selalu menatapmu dari kejauhan, ada perasaan bahagia di hatiku.. yah, aku bahagia, bahkan sangat, walau hanya dengan melihat tawamu, caramu bicara ataupun ketika marah padaku...”
Mata Ratna terasa penuh, Ia berkaca-kaca “Julian, maafkan aku”
Julian bangkit, berdiri menatap Ratna. “harusnya kita memang tak pernah bertemu, Ratna” Ia meraih tasnya, menyeret langkahnya berjalan pergi menjauh meninggalkan Ratna dan bersama dengan itu Ia mencoba meninggalkan semua perasaanya , disana.
Ratna tak henti memandang punggung Julian yang pergi meninggalkannya seakan tak ada lagi hari setelah itu, bagai pertemuan terakhir, Ia masih tak bisa menahan air di matanya yang akhirnya menyeruak keluar. Ia menutup mulutnya tidak membiarkan Isak tangisnya keluar sedang tangan yang lainya mencengkram bagian sesak di ulu hatinya.
***
Hah, sepi...
Hari ini tak seperti biasa, rasanya terlalu sunyi. Walaupun keadaan sebenarnya kelas ini penuh hiruk pikuk para siswa dijam istirahat. Terbayang bagaimana siswa ini lari berkejaran di dalam kelas, saling melempar dengan gundukan kertas dan ada juga yang hanya mengobrol biasa tetapi ketika obrolah telah sampai pada klimaks, tawa nyaring merekapun akan terdengar seisi kelas. Ratna sendiri tak melakukan  sesuatupun yang bermakna hanya saja Ia sedang menumpukan kedua siku di meja dan menopang dagunya. Sesekali Ia melirik kearah Julian yang duduk paling belakang menjauh tadi tempatnya semula. Julian tak melihatnya sedikitpun Ia seperti acuh melipat tangan di dadanya dan menerawang keluar jendela. “Huh!” Ratna mendengus berharap bisa mengeluarkan sedikit beban di hatinya. Tiba-tiba Julian bergerak mengubah posisinya, Ratna segera memalingkan dirinya kedepan, ke posisi semula. Julian berjalan menatap lurus kedepan tanpa berkata, secarik kertas putih terlipat rapi dalam genggamannya. Ia melangkah melewati satu persatu meja dan korsi di depannya, meja ke empat, ke tiga dan berhenti sejenak di meja kedua, tepat di samping Ratna. Tanpa bersuara Ia mendorong secarik kertas itu di atas meja Ratna. Ratna memperhatikan sutat tersebut dan mengangkat wajahnya untuk melihat Julian. Terlihat dingin, wajah Julian tanpa expresi dan tanpa menatapnya kemudian pergi setelah meninggalkan surat tersebut di atas meja Ratna.
Segera Ratna meraih benda yang ada di hadapannya itu lalu menggenggamnya erat. Ia menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Apa isinya? Hati-hati Ia membukanya, membuka lipatan demi lipatan sehingga terpampang beberapa baris tulisan.
Ratna...
Ratna, maafkan segala perkataanku, aku tak berhak menyalahkanmu,,,
Karena semua ini memang bukan kesalahanmu..
Aku juga sama sekali tak memiliki alasan untuk marah ataupun membencimu.. kau bukanlah sosok yang pantas untuk dibenci.
Kau adalah seseorang yang berhak menerima cinta dari seorang yang lebih baik, bahkan ebih dariku...
Berbahagialah, dan tunjukan padaku kalau dia memang terbaik untukmu..
Dan tentang persahabatan kita, aku rasa tak berubah, hanya saja kau dan aku akan menjadi orang yang hanya saling mengenal saja,,, ini bukan perpisahan Ratna percayalah, aku tak kan pergi... hanya,, tolong biarkan aku terbiasa tanpa dirimu dan belajar untuk hidup seperti ketika aku belum mengenalmu ..
Aku menyayangimu ...

Julian.
Dengan keras, Ia berusaha keras menahan untuk tidak membiarkan air matanya jatuh. Ia mengangkat kepalanya, berusaha membenamkan kembali bendungan air mata yang rasaya ingin menyeruak keluar. Jangan disini Ratna, kau bisa menahannya.. Ia mengapal tangannya berusaha keras mengontrol emosinya. Seulas senyum menghiasi wajahnya, ada perasaan lega di hatinya, mengetahui Julian tak membencinya, hal yang Ia takutkan.

Jumat, 02 Januari 2015

MY EDELWEIS chapter 2



My Edelweis
CHAPTER 2
Tak pernah kubayangkan Tuhan mentakdirkan kita,
Kau datang, ketika aku mendamba seseorang,
Kau hadir, ketika aku mengiba kasih sayang,
Maaf, Kau luput dari pandanganku yang silau auramu.
Masihku merasakan ketulusan dalam nadimu
Kita di takdirkan bersama, dengan cara yang luar biasa.

***
Dua orang laki-laki terlihat sedang asik mengobrol, terkadang juga bersenda gurau terihat jelas dari tawa lepas keduanya.
“eh, Gun gimana menurutmu junior yang sekarang?”. Laki-laki itu memulai pembicaraan.
“cantik-cantik bang”. Sambil melepas tawa.
“bukan yang itu Guntur! Maksudku skill mereka, gimana? mereka udah ada perkembangan gak, sebelum kita ngadain pendidikan ”. Tanyanya serius.
“hahha itu sih info tambahannya bang, keliatannya udah siap deh, atur aja waktu pendidikannya, biar gak ganggu jadwal kuliahnya abang”. Jawab Guntur santai.
“okelah kalo gitu”. Katanya mengangguk-anggukan kepalanya.
“bang , ini tantangan dan harus di terima! nih ku kasi nomor hp sepupuku, kalo abang bisa ngeluluhin hatinya berarti abang hebat! Gimana? Terima?”. Guntur meraih setengah ponsel lelaki tersebut kemudian mengetik beberapa angka dan menyimpannya.
“hmm, oke siapa takut!” jawab lelaki tersebut dan merekapun tertawa bersama lagi.
***
Jum’at , August, 2008
08.15 petang, warna orange telah berganti dengan pekatnya hitam malam, suara-suara kebisingan khas terangpun berganti suara jangkrik yang mencerminkan suasana gelap. Indahnya cahaya bulan sempurna yang terlihat bersinar memantulkan hangatnya mentari dari sisi bumi yang berbeda. Malam ini Ratna tengah sibuk mempersiapkan segala peralatan dan keperluan untuk kegiatan pendidikan, besok siang Ia beserta anggota baru PALAMAS harus berangkat menuju hutan Mayung Polak. Ia harus mempersiapkan segalanya dengan tepat karena ini ialah pertama kalinya Ia masuk dan harus menginap semalam di dalam hutan.
Krriiingg,, kriinngg privat number calling…
Ratna tak menghiraukan ponselnya, Ia lebih memusatkan perhatiannya pada persiapan besok. Dia berfikir untuk istirahat lebih awal untuk memaksimalkan staminanya, jika besok Ia di gembleng habis-habisan oleh seniornya, meskipun Julian telah menjamin bahwa Ia akan aman dari senior yang akan memberinya latihan fisik yang cukup berat, Ia merasa tetap harus bersiap-siap atas kemungkinan yang tak bisa Ia bayangkan.
12.03 petang
Kriiiinngg…kriiingg… privat number calling… Dengan mata masih terpejam, Ia berusaha meraih ponselnya yang berada di bawah bantalnya.
“iya, halo?”. Ratna menjawab panggilan tanpa membuka matanya.
“halo”. Terdengar suara laki-laki diseberang.
“siapa?”. Ratna berusaha berbicara walau tertahan kantuk yang luar biasa.
“ini Udin!” jawab laki-laki tersebut.
Ratna tersenyum melawan kantuknya, dalam pejaman matanya Ia membayangkan sosok yang sedang berbicara dengannya melalui ponsel tersebut ialah Udin Sedunia artis dari Lombok yang tenar karena lagu andalanya yang di upload ke youtube dan berjudul sama dengan namanya.
“kenapa diam?” suara lelaki tersebut bertanya.
“gak, hanya saja ini udah malam dan aku sangat ngantuk”. Jawab ratna masih tersenyum tanpa suara.
“oh sorry, kalau gitu aku tutup, selamat malam.” Suara di sebrang.
“selamat malam juga Udin”. Ratna menjutkan tidurnya dengan senyum yang masih berbekas di wajahnya.
***
03.00 PM
Keesokan harinya semua orang sudah berkumpul dilapangan basket sekolah tak terkecuali Ia dan Julian. Semuanya berbaris rapi dan di absen satu persatu. Para senior dan perintispun telah hadir dengan bawaan masing-masing. Ransel Ratna terlihat begitu penuh dan berat, Ia tetap terlihat cantik mengenakan baju olah raga putih biru muda khas sekolah ini.
“nanti di hutan, kau jangan menjauh dariku yah”. Bisik Julian yang berbaris di samping Ratna.
“emang kau bisa menjagaku?” Tanya Ratna dengan nada meremehkan.
“tentu aja, kau tau kan aku punya sabuk hitam.” Jawab Julian percaya diri.
“karate?” Ratna menoleh kearahnya.
“gak sabuk biasa kok”. Jawab Julian polos kemudian tersenyum.
“isshh, menjauh dariku!” Ratna menjawab ketus.
***
Mereka tiba di hutan menjelang malam, dan telah menemukan tempat yang tepat untuk mendirikan tenda dengan sumber air yaitu sungai kecil yang berada tak jauh dari lokasi mereka. Hutan ini terlihat begitu mencekam dalam petangnya malam, suara-suara malampun semakin jelas terdengar. Kodok, burung malam, jangkrik dan suara serangga lainnya kian semakin tajam terdengar di habitat asli mereka. Terlihat anggota dan senior lain menyalakan api untuk penerangan dalam kegelapan ini. Malam ini masing-masing dari kelompok anggota baru akan berjalan melalui rute yang telah di siapkan. Mereka akan berjalan dan harus menemukan pos-pos penjagaan para senior. Mereka juga harus melakukan tantangan dan harus melaksanakan perintah senior.
Paginya anggota baru tersebut satu persatu di jajal dan di tantang adrenalinenya dengan naik ke atas bukit, menyebrangi sungai, berayun menggunakan dahan pohon, juga di ajarkan bertahan hidup di hutan dengan makanan seadanya atau dengan memakan beberapa tumbuhan yang tidak beracun.
Sorenya para anggota baru PALAMAS dan juga para senior kembali ke area tempat mereka mendirikan tenda. Semuanya terlihat lelah, ada yang mengeluh kehausan, ada yang mengeluh kesakitan karena kakinya sedikit terluka saat di perjalanan, dan ada juga yang mengeluh kecapaian kemudian merebahkan tubuhnya di atas rerumputan hijau hutan untuk mengembalikan tenaganya lagi.
Ratna sendiri duduk bersandar diantara akar-akar pohon jati berusia puluhanan tahun yang muncul ke permukaan, Ia memejamkan matanya menarik nafas dalam, membiarkan akar jati menopah tubuh lelahnya untuk mengumpulkan sisa tenaganya. Di tengah yang lain mengeluh kelelahan Ia sendiri merasa tak harus mengeluh dengan keadaan, karena inilah pilihannya dan Ia tak akan menyesal telah memilih PALAMAS.
Sayup-sayup terdengar ketua dari PALAMAS tengah berbicara melalui microfon, memberi selamat pada anggota baru yang telah berhasil menjalani pendidikan ini. Ia berbicara panjang lebar dan memberi kata-kata mutiara untuk menyemangati para anggota yang tengah duduk beristirahat.  Salah seorang senior lainnya yang tengah berdiri di samping ketua PALAMAS terlihat tak sabar, terlihat dari kakinya yang tak bisa berhenti bergerak menunggu ketua selesai berbicara. Dengan tiba-tiba Ia mengambil microfon yang masih berada di tangan ketua dengan setengah merampas. Ketua tersebut terlihat kebingungan, tetapi tak di peduikan sang senior.
“Ratna Khaila Nasution!”. Ratna tersentak terkejut mendengar namanya di teriakkan oleh senior tersebut. “Ratna!, maju ke depan!”. Kali ini Ratna takut, Ia berfikir keras, mengingat-ingat adakah kesalahan yang telah Ia perbuat sehingga namanya diteriakkan dengan begitu keras. Dengan wajah terlihat bingung, Ia berusaha menepis keraguan dan rasa takut dihatinya, setengah hati Ia berjalan menyeret-nyeret langkahnya maju ke depan.
“iya?, apa aku membuat kesalahan?”. Ratna dengan wajah bingung.
Dengan sorot mata tajam senior tersebut memandanginya sejenak, semua orang terdiam terpaku menyaksikan.
“iya, kamu sudah membuat kesalahan fatal!”. Ratna tertunduk dia, bola matanya membesar dan terasa basah apa yang telah ku lakukan?. Suasana sunyi mencekam, sesunyi malam, bahkan tak ada yang berani membuat gerakan sedikitpun tanpa aba-aba sang senior. “kesalahanmu, kamu telah mencuri!”. Lanjut sang senior. Ratna terkejut atas apa yang dialamatkan kepadanya, Ia tak habis fikir, apa yang telah Ia lakukan, apa yang telah Ia curi, lidahnya terasa kelu tak mampu berkata walau untuk membela dirinya. “mencuri hatiku..” nada si perintis menurun dan melukiskan senyum di wajahnya. Semua orang terdiam sejenak kemudian tawapun pecah, menyisakan kegaduhan acara tersebut. Ratna tertunduk berjalan mengjauhi kerumunan yang sedang tertawa entah mentertawakan dirinya atau lelucon yang di buat perintis, lelucon yang mengorbankan dirinya hanya untuk menghibur para anggota yang mengeluh kelelahan. Ia berfikir tak mengapa toh Ia telah membuat yang lain tertawa bahagia melupakan rasa lelahnya dan Ia akan menerima pahala karena itu, tetapi Ia merasakan perih di hatinya. Ia mencoba tertawa seadanya seakan tak terjadi apa-apa, tawa yang terkesan dipaksakan. Ia berjalan menuju tepi sungai terdekat untuk membasuh muka juga menenangkan hatinya.
“sorry, aku Andi dan itu bukan leulcon”. Terdengar suara dari belakang.
“lelucon juga tak apa” ia menatap dasar sungai, mengambil air dengan tangan dan membasuh mukanya.”aku senang melihat mereka tertawa” Ia tersenyum kearah si perintis Andi.
Andi terdiam, Ia berjalan maju mendekati tepian sungai tepat di samping ratna.
“maaf, tapi aku benar menyukaimu”. Dengan tatapan mata sayu kearah dasar sungai.
“kenapa kau mudah sekali mengatakan suka?”. Ratna menyipitkan mata menoleh kearah Andi.
“karna aku tau, kita punya takdir” seakan menelan bongkahan besar di tenggorokannya “takdir bersama” lanjutnya mengangkat wajah menerawang ke sebrang sungai tanpa melihat Ratna yang sedari tadi menoleh menyipitkan mata serta mengerutkan dahi kearahnya.
“kau yakin?” dengan semakin menyipitkan matanya.
“tentu saja” Ia tersenyum memandang lekat wajah Ratna. Terlihat  ketulusan dan Ratna merasakan itu. Sejenak mata mereka bertemu, menyadari itu Ratna mengalihkan pandangannya kedepan dan terdiam.
“gimana?”. Andi mencondongkan mukanya mendekati Ratna.
“gimana apanya?”. Ratna sedikit menjauh.
“hah, mau gak memiliki takdir bersamaku?”.
Ratna diam hanya tersenyum.
“gimana?”. Andi menggerakkan kakinya tak sabar mendengar jawaban Ratna.
“maaf, tapi ibuku mengajariku untuk tidak mudah percaya pada orang yang baru ku kenal”.
“ya, ibumu memang benar, dan aku takkan menjadi orang asing bagimu, akan ku buktikan dan aku takkan menyerah, Ratna”. Ia tersenyun dan berlalu meninggalkan Ratna.
Ratna bertanya pada dirinya sendiri apakah yang sudah Ia lakukan itu benar?, Ia mencoba menyakinkan dirinya sendiri ya aku memang benar.. tapi Ia juga tak bisa berbohong pada dirinya sendiri bahwa Ia mempercayai semua perkataan Andi hanya dengan melihat matanya, Ia merasakannya, merasakan ketulusan dalam mata itu.
***
Sehari setelah pendidikan usai Ratna memperbanyak istirahatnya, Ia merasa kepalanya sangat berat. Ia juga merasakan linu di persendiannya. Sambil mencoba tidur merebahkan badannya di atas kasurnya yang nyaman.
kriiingg…kringgg 087763654xxx calling…
“halo?” Ratna meraih ponselnya yang terletak di meja samping tempat tidurnya.
“halo, Ratna?” suara lelaki bertanya.
“iya, siapa?” kini giliran Ratna yang bertanya.
“ini bang Andi”.  Ia menjawab.
“iya, kenapa bang?”
“biasanya kami senior setelah cara pendidikan usai akan menghubungi para anggota untuk meminta maaf  atas kesalahan-kesalahan yang kami lakukan ketika acara kemarin berlangsung”
“oh, gak apa-apa kok bang”
“tapi soal pembicaraan di dekat sungai itu bukan rekayasa dan aku tidak akan meminta maaf untuk hal itu”
“karna kau gak menganggap itu kesalahan bukan?”
“tentu saja, aku serius mengenai itu dan aku akan bertanya lagi” Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkannya “Ratna Khaila Nasution, maukah kau menjadi bagian dari takdirku?” suaranya terdengar begitu tegas.
“hmm, sebentar, bukankah organisasi kita punya aturan kalo diantara para anggota maupun senior tidak boleh ada hubungan special?” Ratna berkata padanya.
“iya. Tapi tidak untuk kita, aku serius dan karena keseriusanku ini aku rela melanggar semua aturan itu.” Jawabnya tegas.
“tapi itu salah”
“apa yang salah untuk orang yang di anugrahi perasaan cinta, apa dengan ini kau melarangku mencintaimu?”.
Ratna terdiam, tak mampu berkata. Ia tau Ia tak memiliki hak untuk menghakimi perasaan orang lain walau itu perasaan ialah cinta untuknya sendiri.
“jawablah Ratna” …
Tobe continou…