My
Edelweis
CHAPTER
2
Tak pernah kubayangkan
Tuhan mentakdirkan kita,
Kau datang, ketika aku
mendamba seseorang,
Kau hadir, ketika aku
mengiba kasih sayang,
Maaf, Kau luput dari
pandanganku yang silau auramu.
Masihku merasakan
ketulusan dalam nadimu
Kita di takdirkan
bersama, dengan cara yang luar biasa.
***
Dua orang laki-laki terlihat sedang asik mengobrol, terkadang juga
bersenda gurau terihat jelas dari tawa lepas keduanya.
“eh, Gun gimana menurutmu junior yang sekarang?”. Laki-laki itu
memulai pembicaraan.
“cantik-cantik bang”. Sambil melepas tawa.
“bukan yang itu Guntur! Maksudku skill mereka, gimana? mereka udah
ada perkembangan gak, sebelum kita ngadain pendidikan
”. Tanyanya serius.
“hahha itu sih info tambahannya bang, keliatannya udah siap deh,
atur aja waktu pendidikannya, biar
gak ganggu jadwal kuliahnya abang”. Jawab Guntur santai.
“okelah kalo gitu”. Katanya mengangguk-anggukan kepalanya.
“bang , ini tantangan dan harus di terima! nih ku kasi nomor hp
sepupuku, kalo abang bisa ngeluluhin hatinya berarti abang hebat! Gimana? Terima?”.
Guntur meraih setengah ponsel lelaki tersebut kemudian mengetik beberapa angka
dan menyimpannya.
“hmm, oke siapa takut!” jawab lelaki tersebut dan merekapun tertawa
bersama lagi.
***
Jum’at , August, 2008
08.15 petang, warna orange telah berganti dengan pekatnya hitam
malam, suara-suara kebisingan khas terangpun berganti suara jangkrik yang
mencerminkan suasana gelap. Indahnya cahaya bulan sempurna yang terlihat
bersinar memantulkan hangatnya mentari dari sisi bumi yang berbeda. Malam ini
Ratna tengah sibuk mempersiapkan segala peralatan dan keperluan untuk kegiatan pendidikan, besok siang Ia beserta
anggota baru PALAMAS harus berangkat menuju hutan Mayung Polak. Ia harus
mempersiapkan segalanya dengan tepat karena ini ialah pertama kalinya Ia masuk
dan harus menginap semalam di dalam hutan.
Krriiingg,, kriinngg privat
number calling…
Ratna tak menghiraukan ponselnya, Ia lebih memusatkan perhatiannya
pada persiapan besok. Dia berfikir untuk istirahat lebih awal untuk
memaksimalkan staminanya, jika besok Ia di gembleng habis-habisan oleh
seniornya, meskipun Julian telah menjamin bahwa Ia akan aman dari senior yang
akan memberinya latihan fisik yang cukup berat, Ia merasa tetap harus
bersiap-siap atas kemungkinan yang tak bisa Ia bayangkan.
12.03 petang
Kriiiinngg…kriiingg… privat
number calling… Dengan mata masih terpejam, Ia berusaha meraih ponselnya
yang berada di bawah bantalnya.
“iya, halo?”. Ratna menjawab panggilan tanpa membuka matanya.
“halo”. Terdengar suara laki-laki diseberang.
“siapa?”. Ratna berusaha berbicara walau tertahan kantuk yang luar
biasa.
“ini Udin!” jawab laki-laki tersebut.
Ratna tersenyum melawan kantuknya, dalam pejaman matanya Ia
membayangkan sosok yang sedang berbicara dengannya melalui ponsel tersebut
ialah Udin Sedunia artis dari Lombok yang tenar karena lagu andalanya yang di
upload ke youtube dan berjudul sama dengan namanya.
“kenapa diam?” suara lelaki tersebut bertanya.
“gak, hanya saja ini udah malam dan aku sangat ngantuk”. Jawab ratna
masih tersenyum tanpa suara.
“oh sorry, kalau gitu aku tutup, selamat malam.” Suara di sebrang.
“selamat malam juga Udin”. Ratna menjutkan tidurnya dengan senyum
yang masih berbekas di wajahnya.
***
03.00 PM
Keesokan harinya semua orang sudah berkumpul dilapangan basket
sekolah tak terkecuali Ia dan Julian. Semuanya berbaris rapi dan di absen satu
persatu. Para senior dan perintispun telah hadir dengan bawaan masing-masing.
Ransel Ratna terlihat begitu penuh dan berat, Ia tetap terlihat cantik
mengenakan baju olah raga putih biru muda khas sekolah ini.
“nanti di hutan, kau jangan menjauh dariku yah”. Bisik Julian yang
berbaris di samping Ratna.
“emang kau bisa menjagaku?” Tanya Ratna dengan nada meremehkan.
“tentu aja, kau tau kan aku punya sabuk hitam.” Jawab Julian percaya
diri.
“karate?” Ratna menoleh kearahnya.
“gak sabuk biasa kok”. Jawab Julian polos kemudian tersenyum.
“isshh, menjauh dariku!” Ratna menjawab ketus.
***
Mereka tiba di hutan menjelang malam, dan telah menemukan tempat
yang tepat untuk mendirikan tenda dengan sumber air yaitu sungai kecil yang
berada tak jauh dari lokasi mereka. Hutan ini terlihat begitu mencekam dalam
petangnya malam, suara-suara malampun semakin jelas terdengar. Kodok, burung
malam, jangkrik dan suara serangga lainnya kian semakin tajam terdengar di habitat
asli mereka. Terlihat anggota dan senior lain menyalakan api untuk penerangan
dalam kegelapan ini. Malam ini masing-masing dari kelompok anggota baru akan
berjalan melalui rute yang telah di siapkan. Mereka akan berjalan dan harus
menemukan pos-pos penjagaan para senior. Mereka juga harus melakukan tantangan
dan harus melaksanakan perintah senior.
Paginya anggota baru tersebut satu persatu di jajal dan di tantang
adrenalinenya dengan naik ke atas bukit, menyebrangi sungai, berayun
menggunakan dahan pohon, juga di ajarkan bertahan hidup di hutan dengan makanan
seadanya atau dengan memakan beberapa tumbuhan yang tidak beracun.
Sorenya para anggota baru PALAMAS dan juga para senior kembali ke
area tempat mereka mendirikan tenda. Semuanya terlihat lelah, ada yang mengeluh
kehausan, ada yang mengeluh kesakitan karena kakinya sedikit terluka saat di
perjalanan, dan ada juga yang mengeluh kecapaian kemudian merebahkan tubuhnya
di atas rerumputan hijau hutan untuk mengembalikan tenaganya lagi.
Ratna sendiri duduk bersandar diantara akar-akar pohon jati berusia
puluhanan tahun yang muncul ke permukaan, Ia memejamkan matanya menarik nafas
dalam, membiarkan akar jati menopah tubuh lelahnya untuk mengumpulkan sisa
tenaganya. Di tengah yang lain mengeluh kelelahan Ia sendiri merasa tak harus
mengeluh dengan keadaan, karena inilah pilihannya dan Ia tak akan menyesal
telah memilih PALAMAS.
Sayup-sayup terdengar ketua dari PALAMAS tengah berbicara melalui
microfon, memberi selamat pada anggota baru yang telah berhasil menjalani pendidikan ini. Ia berbicara panjang
lebar dan memberi kata-kata mutiara untuk menyemangati para anggota yang tengah
duduk beristirahat. Salah seorang senior
lainnya yang tengah berdiri di samping ketua PALAMAS terlihat tak sabar, terlihat
dari kakinya yang tak bisa berhenti bergerak menunggu ketua selesai berbicara. Dengan
tiba-tiba Ia mengambil microfon yang masih berada di tangan ketua dengan
setengah merampas. Ketua tersebut terlihat kebingungan, tetapi tak di peduikan
sang senior.
“Ratna Khaila Nasution!”. Ratna tersentak terkejut mendengar namanya
di teriakkan oleh senior tersebut. “Ratna!, maju ke depan!”. Kali ini Ratna
takut, Ia berfikir keras, mengingat-ingat adakah kesalahan yang telah Ia perbuat
sehingga namanya diteriakkan dengan begitu keras. Dengan wajah terlihat
bingung, Ia berusaha menepis keraguan dan rasa takut dihatinya, setengah hati
Ia berjalan menyeret-nyeret langkahnya maju ke depan.
“iya?, apa aku membuat kesalahan?”. Ratna dengan wajah bingung.
Dengan sorot mata tajam senior tersebut memandanginya sejenak, semua
orang terdiam terpaku menyaksikan.
“iya, kamu sudah membuat kesalahan fatal!”. Ratna tertunduk dia,
bola matanya membesar dan terasa basah apa
yang telah ku lakukan?. Suasana sunyi mencekam, sesunyi malam, bahkan tak
ada yang berani membuat gerakan sedikitpun tanpa aba-aba sang senior.
“kesalahanmu, kamu telah mencuri!”. Lanjut sang senior. Ratna terkejut atas apa
yang dialamatkan kepadanya, Ia tak habis fikir, apa yang telah Ia lakukan, apa
yang telah Ia curi, lidahnya terasa kelu tak mampu berkata walau untuk membela
dirinya. “mencuri hatiku..” nada si perintis menurun dan melukiskan senyum di
wajahnya. Semua orang terdiam sejenak kemudian tawapun pecah, menyisakan
kegaduhan acara tersebut. Ratna tertunduk berjalan mengjauhi kerumunan yang
sedang tertawa entah mentertawakan dirinya atau lelucon yang di buat perintis,
lelucon yang mengorbankan dirinya hanya untuk menghibur para anggota yang mengeluh
kelelahan. Ia berfikir tak mengapa toh Ia telah membuat yang lain tertawa
bahagia melupakan rasa lelahnya dan Ia akan menerima pahala karena itu, tetapi
Ia merasakan perih di hatinya. Ia mencoba tertawa seadanya seakan tak terjadi
apa-apa, tawa yang terkesan dipaksakan. Ia berjalan menuju tepi sungai terdekat
untuk membasuh muka juga menenangkan hatinya.
“sorry, aku Andi dan itu bukan leulcon”. Terdengar suara dari
belakang.
“lelucon juga tak apa” ia menatap dasar sungai, mengambil air dengan
tangan dan membasuh mukanya.”aku senang melihat mereka tertawa” Ia tersenyum
kearah si senior Andi.
Andi terdiam, Ia berjalan maju mendekati tepian sungai tepat di
samping ratna. “maaf, tapi aku benar menyukaimu”. Dengan tatapan mata sayu yang terarah ke dasar sungai.
Ratna menyipitkan mata menoleh kearah Andi. “kenapa kau mudah sekali
mengatakan suka?”.
“karna aku tau, kita punya takdir” seakan menelan bongkahan besar di
tenggorokannya “takdir bersama” lanjutnya mengangkat wajah menerawang ke
sebrang sungai tanpa melihat Ratna yang sedari tadi menoleh menyipitkan mata
serta mengerutkan dahi kearahnya.
“kau yakin?” dengan semakin menyipitkan matanya.
Ia tersenyum memandang lekat wajah Ratna “tentu saja”. Terlihat ketulusan, Ratna
bisa merasakan itu. Sejenak mata mereka bertemu,
menyadari itu Ratna mengalihkan pandangannya kedepan dan terdiam.
“gimana?”. Andi mencondongkan mukanya mendekati Ratna.
Ratna sedikit menjauh, “gimana apanya?”
“hah, mau gak memiliki takdir bersamaku?”.
Ratna diam hanya tersenyum.
“gimana?”. Andi menggerakkan kakinya tak sabar mendengar jawaban
Ratna.
“maaf, tapi ibuku mengajariku untuk tidak mudah percaya pada orang
yang baru ku kenal”.
“ya, ibumu memang benar, dan aku takkan menjadi orang asing bagimu,
akan ku buktikan dan aku takkan menyerah, Ratna”. Ia tersenyum dan berlalu meninggalkan
Ratna.
Ratna bertanya pada dirinya sendiri apakah yang sudah Ia lakukan itu
benar?, Ia mencoba menyakinkan dirinya sendiri ya aku memang benar.. tapi Ia juga tak bisa berbohong pada dirinya
sendiri bahwa Ia mempercayai semua perkataan Andi hanya dengan melihat matanya,
Ia merasakannya, merasakan ketulusan dalam mata itu.
***
Sehari setelah pendidikan
usai Ratna memperbanyak istirahatnya, Ia merasa kepalanya sangat berat. Ia juga
merasakan linu di persendiannya. Sambil mencoba tidur merebahkan badannya di
atas kasurnya yang nyaman.
kriiingg…kringgg 087763654xxx calling…
“halo?” Ratna meraih ponselnya yang terletak di meja samping tempat
tidurnya.
“halo, Ratna?” suara lelaki bertanya.
“iya, siapa?” kini giliran Ratna yang bertanya.
“ini bang Andi”. Ia menjawab.
“iya, kenapa bang?”
“begini, biasanya kami para senior setelah acara pendidikan usai, kami akan menghubungi
para anggota untuk meminta maaf atas
kesalahan-kesalahan yang kami lakukan ketika acara kemarin berlangsung”
“oh, gak apa-apa kok bang”. Jawab Ratna santai.
“tapi soal pembicaraan di dekat sungai itu bukan rekayasa dan aku
tidak akan meminta maaf untuk hal itu”. Suara Andi terdengar tegas.
“karna kau gak menganggap itu kesalahan bukan?”. Ratna berkata spontan.
“tentu saja, aku serius mengenai itu dan aku akan bertanya lagi” Ia
terdiam sejenak, lalu melanjutkannya “Ratna Khaila Nasution, maukah kau menjadi
bagian dari takdirku?” suaranya terdengar kian begitu tegas.
“hmm, sebentar, bukankah organisasi kita punya aturan kalo diantara
para anggota maupun senior tidak boleh ada hubungan special?” Ratna berkata
padanya.
“iya. Tapi tidak untuk kita, aku serius dan karena keseriusanku ini
aku rela melanggar semua aturan itu.” Jawabnya tanpa terdengar ragu.
“tapi itu salah”. Suara
Ratna melemah.
“apa yang salah untuk orang yang di anugrahi perasaan cinta?, apa dengan ini kau
melarangku mencintaimu?”.
Ratna terdiam, tak mampu berkata. Ia tahu bahwa Ia tak memiliki hak
untuk menghakimi perasaan orang lain, walau perasaan itu ialah rasa cinta seseorang untuknya sendiri.
“jawablah Ratna”. Suara
Andi terdengar lembut.
Ratna mengenggam erat ponselnya, terlihat jari
tanganya memutih mengisyaratkan kekuatan genggamannya. Bibirnya bergetar tanpa
suara, kepalanya penuh dengan semua pemikiran tentang pertanyaan Andi, Ia tahu
Andi bukanlah sosok yang mudah menyerah walaupun Ia tolak berkali-kali, disisi
lain hatinya percaya dan merasakan ketulusan Andi, Ia tak ingin menyia-nyiakan
sosok yang menyayangi dirinya karna Ia tahu rasanya di acuhkan, tetapi juga Ia
ragu mempercayai hatinya sendiri, apakah hatinya berkata benar dan baik
untuknya. Begitu banyak pertimbangan di kepalanya.
“bang Andi”. Ratna menghela nafasnya, terdengar
begitu berat.
“iya?”. Suara Andi masih terdengar lembut.
“aku ingin kau tetap meyakinkan hatiku kalau aku
benar, pilihanku memang benar untuk memilihmu, kau bisa?”. Ratna terdengar
mengatur nafasnya.
Sunyi, Andi diam sejenak. Kemudian,
“ya, yah! Aku berjanji, aku berjanji Ratna!”.
Suara Andi terdengar begitu riang.
Ratna menutup ponselnya perlahan, menggenggam dan
mendekapnya, Ia menutup mata berusaha mengatur nafasnya seakan menyakinkan
dirinya sendiri “yah, aku benar, aku akan
mencoba mencintainya”.
***
Seminggu berlalu setelah Ia menerima pernyataan Andi,
Andi menghilang tanpa kabar seakan di telan bumi. Ratna bingung bercampur kesal
dan khawatir sesuatu terjadi pada Andi
“apa yang dilakukan orang itu? Apa dia hanya mempermainkan aku?” angannya.
Ia menyalakan ponselnya mencari nama Andi di phone book poselnya dan segera
menekan tanda panggil tetapi yang terdengar hanyalah voice mail, nomornya tak
aktif. “apa kau mengganti nomor tanpa membritauku? Setidaknya kau memberi
kabar, aku kan pacarmu Andi” Ratna berbicara pada poselnya sendiri kesal. Belum
selesai Ia menggerutu mengomeli ponselnya yang tidak bersalah, Ia di kejutkan
lagi dengan ponselnya yang bergetar.
Bip...bip...bip
1 message received
From: +6287863777xxx
“temui aku
sore ini di halte depan sekolah. Your boy friend Andi”
Ratna melototi ponselnya geram. “kau kira aku akan
datang hah?! Tidak akan!” Ia berbicara pada ponselnya lagi.
Bip..bip..bip
1 message received
From: +6287863777xxx
“aku akan
menunggumu, jadi datanglah dan akan ku jelaskan semuanya”
Ratna memandangi ponselnya, Ia menggigit bibirnya
berusaha berfikir jernih dan menghilangkan amarahnya. Ia tak habis fikir
seorang Andi bisa membuatnya sampai merasa bingung sekaigus khawatir seperti
sekarang ini.
Reply to: +6287863777xxx
“baiklah
aku akan datang”
***
Ratna berjalan keluar dari kamar kosnya menuju
sekolah yang berjarak tak terlalu jauh dari tempatnya menetap. Ia berjalan
perlahan, mata besarnya terlihat sayu seperti biasa selalu nampak indah. Ia
sudah bisa melihat sekolahnya yang berdiri megah berlantai dua dengan tembok
bercat hijau muda dan kuning, Ia mendongak ke atas melihat setiap jendela di
lantai dua memantulkan cahaya mentari sore, terlihat begitu cemerlang. Dari
kejauhan Ia bisa melihat kekasihnya Andi sedang berdiri melambaikan tangan
untuknya di depan halte dan Ia bersama seseorang. “sepertinya aku kenal?” angannya. Ia mempercepat langkahnya tak
sabar ingin memarahi juga mendengar penjelasan Andi.
Andi tersenyum lega. Ia mengenakan jaket parasut
dengan celana pendek berwarna krem dan sepatu kets untuk naik gunung, tak lupa
Ia mengikat kepalanya menggunakan sapu tangan slayer yang di bentuk segitiga.
Disampingnya terdapat tas ransel besar yang disandarkan pada tempat duduk
halte. “akhirnya kau datang juga”.
“Ratna?”. Lelaki yang bersama Andi nampak
terkejut.
“julian? Kok kalian bisa bersama?” tanya Ratna
memandang keduanya.
“aku belum bilang yah? Hahha maaf, Julian ini
keponakanku”. Andi memegang bahu Julian setengah memeluk.
“gak, aku yang terambat bilang”. Julian menatap
Ratna dengan sorot mata melemah.
“oya apa kalian satu kelas?”. Tanya Andi.
“kapan kalian jadian?”. Julian balik bertanya tak
sabaran.
“seminggu yang lalu, ya kan Na? Maaf ya om baru
cerita sekarang, lagian kita jarang ketemu kan.” Andi tersenyum menatap Ratna.
“yah, om sibuk kuliah sih” Julian terlihat memaksakan
tawanya “oya aku hampir lupa ada urusan yang harus ku selesaikan sekarang, jadi
sepertinya aku harus pergi”. Julian mengeluarkan konci motor dari saku
celananya.
“kenapa mendadak begitu? Duduklah sebentar” Andi
seakan mempersilahkan.
“lain kali aja, aku buru-buru, duluan yah”. Julian
langsung menaiki motornya dan melesat pergi.
“dia teman sekelasmu?” tanya Andi pada Ratna.
Ratna mengangguk sambil berkata “dia temanku”
matanya kearah Julian pergi, Ia merasa Julian terlihat berbeda tidak seperti biasa.
***
Julian melaju motornya kencang, Ia tak nyakin
kemana tujuannya pergi, Ia membiarkan motornya mengendalikannya, mata beningnya
membesar seakan tak mampu menahan gumpalan air dimatanya. Kepalanya terasa
penuh memikirkan kejadian yang baru Ia lalui. Matanya semakin memerah dan
terjangan angin yang menerpa mukanya akhirnya mampu menerobos bendungan air
dimatanya. Sesuatu jatuh dipipinya, tersadar Ia langsung mengusapnya dengan
lengan kirinya. Motornya semakin melaju kencang Ia tak tau kapan dan dimana Ia
akan berhenti, yang Ia tahu hanya melarikan diri dari perasaannya.
***
“apa! Kau menghilang selama seminggu hanya untuk
mengetesku?”. Ratna menyipitkan matanya seakan menginginkan penjelasan lebih
dari pacarnya.
“iya sayang maafkan aku, ku kira kau tak akan
peduli padaku”
“dengar, kau sudah menjadi pacarku, aku punya hak
untuk tau keadaan dan keberadaanmu!”
Julian tersenyum lega, Ia bahagia mendengar
kemarahan Ratna “terimakasih, ”
“untuk apa?”
“untuk marah padaku, bukankah itu artinya kau
khawatir padaku?”
“ya, memang aku khawatir padamu,” Ratna terlihat
gelagapan.
Julian kembali tersenyum “berarti kau sayang padaku,”
tawa Julian pecah diikuti wajah Ratna yang memerah. “baiklah, aku janji tak
akan seperti itu lagi, mau memaafkan aku?” Julian bertanya.
Ratna mengangguk malu “tapi awas kalau kau ulangi
lagi.”
“nih.” Andi mengeuarkan beberapa tangkai bunga
mungil yang diikat menjadi satu, bunganya memiliki mahkota kecil dengan warna
putih pucat, daun yang kecil hijau dan tangkai yang terlihat rapuh tetapi begitu
kuat.
Senyum Ratna mengembang “edelweis!” Ia bersorak
girang “kapan kau naik?”
“hey aku baru pulang dan langsung menemuimu.”
Ratna tak teralu memperhatikan jawaban Andi, Ia
asik memperhatikan edelweis yang Ia pegang. “kenapa sedikit sekali?”
Andi mengetahui Ratna mengabaikan jawabannya “ iya
nanti ku bawakan lagi”. Jawabnya seadanya. Ratna hanya tersenyum perhatiannya
hanya terfokus pada edelweis tersebut.
Ratna memandang Andi “terimakasih” Ia tersenyum,
senyum yang selalu mampu meluluhkan hati Andi. Andi membalasnya.
***
Di kelasnya setelah jam pelajaran terakhir
selesai, Ratna nampak riang seperti biasa selalu tersenyum dan menyapa
teman-temannya yang sedang berkemas merapikan alat tulis mereka untuk segera
pulang. Matanya melihat sekeiling seakan sedang mencari sesuatu. “disana
rupanya” senyumnya mengembang melihat Julian yang duduk di bangku paling
belakang menghadap keluar jendela. Tatapannya kosong kearah lapangan basket yang
berada tepat di depan kelas.
Ratna berusaha merunduk mengendap-endap mencoba
untuk mengagetkan Julian, setelah mendapatkan posisi yang tepat, Ia segera
mengambil ancang-ancang membuat gerakaan tiba-tiba. “hey!, mikirin apa sih?”
“Ratna berhenti melakukan itu!”
“oke sorry” Ratna kembali tersenyum menarik bangku
didepannya lalu duduk disamping Julian.
Melihat Ratna tersenyum itu Julian hampir
mengurungkan niatnya untuk berbicara serius pada Ratna, Ia menghela nafas
panjang menyakinkan dirinya bahwa Ia memang harus melakukan ini.” Ratna...”
“iya?”
“Aku rasa kita tak perlu bertemu lagi, ada baiknya
kita membuat jarak satu sama lain.”
“kenapa? kau sedang marah? Sini aku hibur,” Ratna
meraih tangan Julian.
Julian menarik paksa tangannya “aku serius!”
Ratna diam, sikap Julian cukup mengagetkannya.
Julian tersadar bahwa Ia telah berbuat kasar pada
Ratna, Ia segera menyesali perbuatannya “maafkan aku Ratna, aku tak bermaksud
menyakitimu,” Julian diam menghela nafas panjang dan berat seakan berfikir dari
mana Ia akan memulai pembicaraannya dengan Ratna.
Ratna membuka suara “apa ini karena hal kemarin,
maaf aku tak memberitaumu tentang hubunganku dengan Andi,”
“aku marah, aku benci pada diriku sendiri Ratna...,”
Ia menghentikan perkatanya.
“maksudmu?”
Julian memalingkan muka kearah jendela sekali lagi
mengumpukan keberaniannya. “aku sayang padamu,,”
Ratna terlihat kebingungan dan gugup “apa? tapi
aku... Julian aku kira kita berteman baik,”
“kau memang tak pernah sadar Ratna... kau tak
pernah mengerti kenapa aku selalu disampingmu, bersamamu.. kau tak pernah
benar-benar menganggapku ada, aku memang tak memiliki arti bagimu...”
“Julian! Kau sahabatku.”
Dadanya terasa sesak seakan sedang menahan
berton-ton beban didalamnya “ya sahabat, seorang sahabat yang selama ini
memendam cinta untukmu. Yang selalu menatapmu dari kejauhan, ada perasaan
bahagia di hatiku.. yah, aku bahagia, bahkan sangat, walau hanya dengan melihat
tawamu, caramu bicara ataupun ketika marah padaku...”
Mata Ratna terasa penuh, Ia berkaca-kaca “Julian,
maafkan aku”
Julian bangkit, berdiri menatap Ratna. “harusnya
kita memang tak pernah bertemu, Ratna” Ia meraih tasnya, menyeret langkahnya
berjalan pergi menjauh meninggalkan Ratna dan bersama dengan itu Ia mencoba
meninggalkan semua perasaanya , disana.
Ratna tak henti memandang punggung Julian yang
pergi meninggalkannya seakan tak ada lagi hari setelah itu, bagai pertemuan
terakhir, Ia masih tak bisa menahan air di matanya yang akhirnya menyeruak
keluar. Ia menutup mulutnya tidak membiarkan Isak tangisnya keluar sedang
tangan yang lainya mencengkram bagian sesak di ulu hatinya.
***
Hah, sepi...
Hari ini tak seperti biasa, rasanya terlalu sunyi.
Walaupun keadaan sebenarnya kelas ini penuh hiruk pikuk para siswa dijam
istirahat. Terbayang bagaimana siswa ini lari berkejaran di dalam kelas, saling
melempar dengan gundukan kertas dan ada juga yang hanya mengobrol biasa tetapi
ketika obrolah telah sampai pada klimaks, tawa nyaring merekapun akan terdengar
seisi kelas. Ratna sendiri tak melakukan
sesuatupun yang bermakna hanya saja Ia sedang menumpukan kedua siku di
meja dan menopang dagunya. Sesekali Ia melirik kearah Julian yang duduk paling
belakang menjauh tadi tempatnya semula. Julian tak melihatnya sedikitpun Ia
seperti acuh melipat tangan di dadanya dan menerawang keluar jendela. “Huh!”
Ratna mendengus berharap bisa mengeluarkan sedikit beban di hatinya. Tiba-tiba
Julian bergerak mengubah posisinya, Ratna segera memalingkan dirinya kedepan,
ke posisi semula. Julian berjalan menatap lurus kedepan tanpa berkata, secarik
kertas putih terlipat rapi dalam genggamannya. Ia melangkah melewati satu
persatu meja dan korsi di depannya, meja ke empat, ke tiga dan berhenti sejenak
di meja kedua, tepat di samping Ratna. Tanpa bersuara Ia mendorong secarik
kertas itu di atas meja Ratna. Ratna memperhatikan sutat tersebut dan
mengangkat wajahnya untuk melihat Julian. Terlihat dingin, wajah Julian tanpa
expresi dan tanpa menatapnya kemudian pergi setelah meninggalkan surat tersebut
di atas meja Ratna.
Segera Ratna meraih benda yang ada di hadapannya itu
lalu menggenggamnya erat. Ia menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Apa isinya? Hati-hati Ia membukanya,
membuka lipatan demi lipatan sehingga terpampang beberapa baris tulisan.
Ratna...
Ratna, maafkan
segala perkataanku, aku tak berhak menyalahkanmu,,,
Karena semua ini
memang bukan kesalahanmu..
Aku juga sama
sekali tak memiliki alasan untuk marah ataupun membencimu.. kau bukanlah sosok
yang pantas untuk dibenci.
Kau adalah
seseorang yang berhak menerima cinta dari seorang yang lebih baik, bahkan ebih
dariku...
Berbahagialah,
dan tunjukan padaku kalau dia memang terbaik untukmu..
Dan tentang
persahabatan kita, aku rasa tak berubah, hanya saja kau dan aku akan menjadi
orang yang hanya saling mengenal saja,,, ini bukan perpisahan Ratna percayalah,
aku tak kan pergi... hanya,, tolong biarkan aku terbiasa tanpa dirimu dan
belajar untuk hidup seperti ketika aku belum mengenalmu ..
Aku menyayangimu
...
Julian.
Dengan keras, Ia berusaha keras menahan untuk
tidak membiarkan air matanya jatuh. Ia mengangkat kepalanya, berusaha
membenamkan kembali bendungan air mata yang rasaya ingin menyeruak keluar. Jangan disini Ratna, kau bisa menahannya..
Ia mengapal tangannya berusaha keras mengontrol emosinya. Seulas senyum
menghiasi wajahnya, ada perasaan lega di hatinya, mengetahui Julian tak
membencinya, hal yang Ia takutkan.