My Edelweis
CHAPTER 2
Tak pernah kubayangkan Tuhan mentakdirkan
kita,
Kau datang, ketika aku mendamba
seseorang,
Kau hadir, ketika aku mengiba kasih
sayang,
Maaf, Kau luput dari pandanganku yang
silau auramu.
Masihku merasakan ketulusan dalam nadimu
Kita di takdirkan bersama, dengan cara
yang luar biasa.
***
Dua orang laki-laki
terlihat sedang asik mengobrol, terkadang juga bersenda gurau terihat jelas
dari tawa lepas keduanya.
“eh, Gun gimana
menurutmu junior yang sekarang?”. Laki-laki itu memulai pembicaraan.
“cantik-cantik
bang”. Sambil melepas tawa.
“bukan yang itu Guntur!
Maksudku skill mereka, gimana? mereka udah ada perkembangan gak, sebelum kita
ngadain pendidikan ”. Tanyanya
serius.
“hahha itu sih
info tambahannya bang, keliatannya udah siap deh, atur aja waktu pendidikannya, biar gak ganggu jadwal
kuliahnya abang”. Jawab Guntur santai.
“okelah kalo
gitu”. Katanya mengangguk-anggukan kepalanya.
“bang , ini
tantangan dan harus di terima! nih ku kasi nomor hp sepupuku, kalo abang bisa
ngeluluhin hatinya berarti abang hebat! Gimana? Terima?”. Guntur meraih
setengah ponsel lelaki tersebut kemudian mengetik beberapa angka dan
menyimpannya.
“hmm, oke siapa
takut!” jawab lelaki tersebut dan merekapun tertawa bersama lagi.
***
Jum’at , August,
2008
08.15
petang, warna orange telah berganti dengan pekatnya hitam malam, suara-suara
kebisingan khas terangpun berganti suara jangkrik yang mencerminkan suasana
gelap. Indahnya cahaya bulan sempurna yang terlihat bersinar memantulkan
hangatnya mentari dari sisi bumi yang berbeda. Malam ini Ratna tengah sibuk
mempersiapkan segala peralatan dan keperluan untuk kegiatan pendidikan, besok siang Ia beserta
anggota baru PALAMAS harus berangkat menuju hutan Mayung Polak. Ia harus
mempersiapkan segalanya dengan tepat karena ini ialah pertama kalinya Ia masuk
dan harus menginap semalam di dalam hutan.
Krriiingg,,
kriinngg privat number calling…
Ratna
tak menghiraukan ponselnya, Ia lebih memusatkan perhatiannya pada persiapan
besok. Dia berfikir untuk istirahat lebih awal untuk memaksimalkan staminanya,
jika besok Ia di gembleng habis-habisan oleh seniornya, meskipun Julian telah
menjamin bahwa Ia akan aman dari senior yang akan memberinya latihan fisik yang
cukup berat, Ia merasa tetap harus bersiap-siap atas kemungkinan yang tak bisa
Ia bayangkan.
12.03
petang
Kriiiinngg…kriiingg…
privat number calling… Dengan mata
masih terpejam, Ia berusaha meraih ponselnya yang berada di bawah bantalnya.
“iya,
halo?”. Ratna menjawab panggilan tanpa membuka matanya.
“halo”.
Terdengar suara laki-laki diseberang.
“siapa?”.
Ratna berusaha berbicara walau tertahan kantuk yang luar biasa.
“ini
Udin!” jawab laki-laki tersebut.
Ratna
tersenyum melawan kantuknya, dalam pejaman matanya Ia membayangkan sosok yang
sedang berbicara dengannya melalui ponsel tersebut ialah Udin Sedunia artis
dari Lombok yang tenar karena lagu andalanya yang di upload ke youtube dan
berjudul sama dengan namanya.
“kenapa
diam?” suara lelaki tersebut bertanya.
“gak,
hanya saja ini udah malam dan aku sangat ngantuk”. Jawab ratna masih tersenyum
tanpa suara.
“oh
sorry, kalau gitu aku tutup, selamat malam.” Suara di sebrang.
“selamat
malam juga Udin”. Ratna menjutkan tidurnya dengan senyum yang masih berbekas di
wajahnya.
***
03.00
PM
Keesokan
harinya semua orang sudah berkumpul dilapangan basket sekolah tak terkecuali Ia
dan Julian. Semuanya berbaris rapi dan di absen satu persatu. Para senior dan
perintispun telah hadir dengan bawaan masing-masing. Ransel Ratna terlihat
begitu penuh dan berat, Ia tetap terlihat cantik mengenakan baju olah raga
putih biru muda khas sekolah ini.
“nanti
di hutan, kau jangan menjauh dariku yah”. Bisik Julian yang berbaris di samping
Ratna.
“emang
kau bisa menjagaku?” Tanya Ratna dengan nada meremehkan.
“tentu
aja, kau tau kan aku punya sabuk hitam.” Jawab Julian percaya diri.
“karate?”
Ratna menoleh kearahnya.
“gak
sabuk biasa kok”. Jawab Julian polos kemudian tersenyum.
“isshh,
menjauh dariku!” Ratna menjawab ketus.
***
Mereka
tiba di hutan menjelang malam, dan telah menemukan tempat yang tepat untuk
mendirikan tenda dengan sumber air yaitu sungai kecil yang berada tak jauh dari
lokasi mereka. Hutan ini terlihat begitu mencekam dalam petangnya malam,
suara-suara malampun semakin jelas terdengar. Kodok, burung malam, jangkrik dan
suara serangga lainnya kian semakin tajam terdengar di habitat asli mereka.
Terlihat anggota dan senior lain menyalakan api untuk penerangan dalam
kegelapan ini. Malam ini masing-masing dari kelompok anggota baru akan berjalan
melalui rute yang telah di siapkan. Mereka akan berjalan dan harus menemukan
pos-pos penjagaan para senior. Mereka juga harus melakukan tantangan dan harus
melaksanakan perintah senior.
Paginya
anggota baru tersebut satu persatu di jajal dan di tantang adrenalinenya dengan
naik ke atas bukit, menyebrangi sungai, berayun menggunakan dahan pohon, juga di
ajarkan bertahan hidup di hutan dengan makanan seadanya atau dengan memakan
beberapa tumbuhan yang tidak beracun.
Sorenya
para anggota baru PALAMAS dan juga para senior kembali ke area tempat mereka
mendirikan tenda. Semuanya terlihat lelah, ada yang mengeluh kehausan, ada yang
mengeluh kesakitan karena kakinya sedikit terluka saat di perjalanan, dan ada
juga yang mengeluh kecapaian kemudian merebahkan tubuhnya di atas rerumputan
hijau hutan untuk mengembalikan tenaganya lagi.
Ratna sendiri
duduk bersandar diantara akar-akar pohon jati berusia puluhanan tahun yang
muncul ke permukaan, Ia memejamkan matanya menarik nafas dalam, membiarkan akar
jati menopah tubuh lelahnya untuk mengumpulkan sisa tenaganya. Di tengah yang
lain mengeluh kelelahan Ia sendiri merasa tak harus mengeluh dengan keadaan,
karena inilah pilihannya dan Ia tak akan menyesal telah memilih PALAMAS.
Sayup-sayup
terdengar ketua dari PALAMAS tengah berbicara melalui microfon, memberi selamat
pada anggota baru yang telah berhasil menjalani pendidikan ini. Ia berbicara panjang lebar dan memberi kata-kata
mutiara untuk menyemangati para anggota yang tengah duduk beristirahat. Salah seorang senior lainnya yang tengah
berdiri di samping ketua PALAMAS terlihat tak sabar, terlihat dari kakinya yang
tak bisa berhenti bergerak menunggu ketua selesai berbicara. Dengan tiba-tiba
Ia mengambil microfon yang masih berada di tangan ketua dengan setengah
merampas. Ketua tersebut terlihat kebingungan, tetapi tak di peduikan sang
senior.
“Ratna Khaila
Nasution!”. Ratna tersentak terkejut mendengar namanya di teriakkan oleh senior
tersebut. “Ratna!, maju ke depan!”. Kali ini Ratna takut, Ia berfikir keras,
mengingat-ingat adakah kesalahan yang telah Ia perbuat sehingga namanya
diteriakkan dengan begitu keras. Dengan wajah terlihat bingung, Ia berusaha
menepis keraguan dan rasa takut dihatinya, setengah hati Ia berjalan menyeret-nyeret
langkahnya maju ke depan.
“iya?, apa aku
membuat kesalahan?”. Ratna dengan wajah bingung.
Dengan sorot
mata tajam senior tersebut memandanginya sejenak, semua orang terdiam terpaku
menyaksikan.
“iya, kamu sudah
membuat kesalahan fatal!”. Ratna tertunduk dia, bola matanya membesar dan
terasa basah apa yang telah ku lakukan?.
Suasana sunyi mencekam, sesunyi malam, bahkan tak ada yang berani membuat
gerakan sedikitpun tanpa aba-aba sang senior. “kesalahanmu, kamu telah
mencuri!”. Lanjut sang senior. Ratna terkejut atas apa yang dialamatkan
kepadanya, Ia tak habis fikir, apa yang telah Ia lakukan, apa yang telah Ia
curi, lidahnya terasa kelu tak mampu berkata walau untuk membela dirinya.
“mencuri hatiku..” nada si perintis menurun dan melukiskan senyum di wajahnya.
Semua orang terdiam sejenak kemudian tawapun pecah, menyisakan kegaduhan acara
tersebut. Ratna tertunduk berjalan mengjauhi kerumunan yang sedang tertawa
entah mentertawakan dirinya atau lelucon yang di buat perintis, lelucon yang
mengorbankan dirinya hanya untuk menghibur para anggota yang mengeluh
kelelahan. Ia berfikir tak mengapa toh Ia telah membuat yang lain tertawa
bahagia melupakan rasa lelahnya dan Ia akan menerima pahala karena itu, tetapi
Ia merasakan perih di hatinya. Ia mencoba tertawa seadanya seakan tak terjadi
apa-apa, tawa yang terkesan dipaksakan. Ia berjalan menuju tepi sungai terdekat
untuk membasuh muka juga menenangkan hatinya.
“sorry, aku Andi
dan itu bukan leulcon”. Terdengar suara dari belakang.
“lelucon juga
tak apa” ia menatap dasar sungai, mengambil air dengan tangan dan membasuh
mukanya.”aku senang melihat mereka tertawa” Ia tersenyum kearah si perintis
Andi.
Andi terdiam, Ia
berjalan maju mendekati tepian sungai tepat di samping ratna.
“maaf, tapi aku
benar menyukaimu”. Dengan tatapan mata sayu kearah dasar sungai.
“kenapa kau
mudah sekali mengatakan suka?”. Ratna menyipitkan mata menoleh kearah Andi.
“karna aku tau, kita
punya takdir” seakan menelan bongkahan besar di tenggorokannya “takdir bersama”
lanjutnya mengangkat wajah menerawang ke sebrang sungai tanpa melihat Ratna
yang sedari tadi menoleh menyipitkan mata serta mengerutkan dahi kearahnya.
“kau yakin?”
dengan semakin menyipitkan matanya.
“tentu saja” Ia
tersenyum memandang lekat wajah Ratna. Terlihat ketulusan dan Ratna merasakan itu. Sejenak
mata mereka bertemu, menyadari itu Ratna mengalihkan pandangannya kedepan dan
terdiam.
“gimana?”. Andi
mencondongkan mukanya mendekati Ratna.
“gimana apanya?”.
Ratna sedikit menjauh.
“hah, mau gak
memiliki takdir bersamaku?”.
Ratna diam hanya
tersenyum.
“gimana?”. Andi
menggerakkan kakinya tak sabar mendengar jawaban Ratna.
“maaf, tapi
ibuku mengajariku untuk tidak mudah percaya pada orang yang baru ku kenal”.
“ya, ibumu
memang benar, dan aku takkan menjadi orang asing bagimu, akan ku buktikan dan
aku takkan menyerah, Ratna”. Ia tersenyun dan berlalu meninggalkan Ratna.
Ratna bertanya
pada dirinya sendiri apakah yang sudah Ia lakukan itu benar?, Ia mencoba
menyakinkan dirinya sendiri ya aku memang
benar.. tapi Ia juga tak bisa berbohong pada dirinya sendiri bahwa Ia
mempercayai semua perkataan Andi hanya dengan melihat matanya, Ia merasakannya,
merasakan ketulusan dalam mata itu.
***
Sehari setelah pendidikan usai Ratna memperbanyak
istirahatnya, Ia merasa kepalanya sangat berat. Ia juga merasakan linu di
persendiannya. Sambil mencoba tidur merebahkan badannya di atas kasurnya yang
nyaman.
kriiingg…kringgg
087763654xxx calling…
“halo?” Ratna
meraih ponselnya yang terletak di meja samping tempat tidurnya.
“halo, Ratna?”
suara lelaki bertanya.
“iya, siapa?”
kini giliran Ratna yang bertanya.
“ini bang Andi”. Ia menjawab.
“iya, kenapa
bang?”
“biasanya kami
senior setelah cara pendidikan usai
akan menghubungi para anggota untuk meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang kami lakukan
ketika acara kemarin berlangsung”
“oh, gak apa-apa
kok bang”
“tapi soal
pembicaraan di dekat sungai itu bukan rekayasa dan aku tidak akan meminta maaf
untuk hal itu”
“karna kau gak
menganggap itu kesalahan bukan?”
“tentu saja, aku
serius mengenai itu dan aku akan bertanya lagi” Ia terdiam sejenak, lalu
melanjutkannya “Ratna Khaila Nasution, maukah kau menjadi bagian dari
takdirku?” suaranya terdengar begitu tegas.
“hmm, sebentar,
bukankah organisasi kita punya aturan kalo diantara para anggota maupun senior
tidak boleh ada hubungan special?” Ratna berkata padanya.
“iya. Tapi tidak
untuk kita, aku serius dan karena keseriusanku ini aku rela melanggar semua
aturan itu.” Jawabnya tegas.
“tapi itu salah”
“apa yang salah
untuk orang yang di anugrahi perasaan cinta, apa dengan ini kau melarangku
mencintaimu?”.
Ratna terdiam,
tak mampu berkata. Ia tau Ia tak memiliki hak untuk menghakimi perasaan orang
lain walau itu perasaan ialah cinta untuknya sendiri.
“jawablah Ratna”
…
Tobe continou…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar