Jumat, 02 Januari 2015

MY EDELWEIS chapter 2



My Edelweis
CHAPTER 2
Tak pernah kubayangkan Tuhan mentakdirkan kita,
Kau datang, ketika aku mendamba seseorang,
Kau hadir, ketika aku mengiba kasih sayang,
Maaf, Kau luput dari pandanganku yang silau auramu.
Masihku merasakan ketulusan dalam nadimu
Kita di takdirkan bersama, dengan cara yang luar biasa.

***
Dua orang laki-laki terlihat sedang asik mengobrol, terkadang juga bersenda gurau terihat jelas dari tawa lepas keduanya.
“eh, Gun gimana menurutmu junior yang sekarang?”. Laki-laki itu memulai pembicaraan.
“cantik-cantik bang”. Sambil melepas tawa.
“bukan yang itu Guntur! Maksudku skill mereka, gimana? mereka udah ada perkembangan gak, sebelum kita ngadain pendidikan ”. Tanyanya serius.
“hahha itu sih info tambahannya bang, keliatannya udah siap deh, atur aja waktu pendidikannya, biar gak ganggu jadwal kuliahnya abang”. Jawab Guntur santai.
“okelah kalo gitu”. Katanya mengangguk-anggukan kepalanya.
“bang , ini tantangan dan harus di terima! nih ku kasi nomor hp sepupuku, kalo abang bisa ngeluluhin hatinya berarti abang hebat! Gimana? Terima?”. Guntur meraih setengah ponsel lelaki tersebut kemudian mengetik beberapa angka dan menyimpannya.
“hmm, oke siapa takut!” jawab lelaki tersebut dan merekapun tertawa bersama lagi.
***
Jum’at , August, 2008
08.15 petang, warna orange telah berganti dengan pekatnya hitam malam, suara-suara kebisingan khas terangpun berganti suara jangkrik yang mencerminkan suasana gelap. Indahnya cahaya bulan sempurna yang terlihat bersinar memantulkan hangatnya mentari dari sisi bumi yang berbeda. Malam ini Ratna tengah sibuk mempersiapkan segala peralatan dan keperluan untuk kegiatan pendidikan, besok siang Ia beserta anggota baru PALAMAS harus berangkat menuju hutan Mayung Polak. Ia harus mempersiapkan segalanya dengan tepat karena ini ialah pertama kalinya Ia masuk dan harus menginap semalam di dalam hutan.
Krriiingg,, kriinngg privat number calling…
Ratna tak menghiraukan ponselnya, Ia lebih memusatkan perhatiannya pada persiapan besok. Dia berfikir untuk istirahat lebih awal untuk memaksimalkan staminanya, jika besok Ia di gembleng habis-habisan oleh seniornya, meskipun Julian telah menjamin bahwa Ia akan aman dari senior yang akan memberinya latihan fisik yang cukup berat, Ia merasa tetap harus bersiap-siap atas kemungkinan yang tak bisa Ia bayangkan.
12.03 petang
Kriiiinngg…kriiingg… privat number calling… Dengan mata masih terpejam, Ia berusaha meraih ponselnya yang berada di bawah bantalnya.
“iya, halo?”. Ratna menjawab panggilan tanpa membuka matanya.
“halo”. Terdengar suara laki-laki diseberang.
“siapa?”. Ratna berusaha berbicara walau tertahan kantuk yang luar biasa.
“ini Udin!” jawab laki-laki tersebut.
Ratna tersenyum melawan kantuknya, dalam pejaman matanya Ia membayangkan sosok yang sedang berbicara dengannya melalui ponsel tersebut ialah Udin Sedunia artis dari Lombok yang tenar karena lagu andalanya yang di upload ke youtube dan berjudul sama dengan namanya.
“kenapa diam?” suara lelaki tersebut bertanya.
“gak, hanya saja ini udah malam dan aku sangat ngantuk”. Jawab ratna masih tersenyum tanpa suara.
“oh sorry, kalau gitu aku tutup, selamat malam.” Suara di sebrang.
“selamat malam juga Udin”. Ratna menjutkan tidurnya dengan senyum yang masih berbekas di wajahnya.
***
03.00 PM
Keesokan harinya semua orang sudah berkumpul dilapangan basket sekolah tak terkecuali Ia dan Julian. Semuanya berbaris rapi dan di absen satu persatu. Para senior dan perintispun telah hadir dengan bawaan masing-masing. Ransel Ratna terlihat begitu penuh dan berat, Ia tetap terlihat cantik mengenakan baju olah raga putih biru muda khas sekolah ini.
“nanti di hutan, kau jangan menjauh dariku yah”. Bisik Julian yang berbaris di samping Ratna.
“emang kau bisa menjagaku?” Tanya Ratna dengan nada meremehkan.
“tentu aja, kau tau kan aku punya sabuk hitam.” Jawab Julian percaya diri.
“karate?” Ratna menoleh kearahnya.
“gak sabuk biasa kok”. Jawab Julian polos kemudian tersenyum.
“isshh, menjauh dariku!” Ratna menjawab ketus.
***
Mereka tiba di hutan menjelang malam, dan telah menemukan tempat yang tepat untuk mendirikan tenda dengan sumber air yaitu sungai kecil yang berada tak jauh dari lokasi mereka. Hutan ini terlihat begitu mencekam dalam petangnya malam, suara-suara malampun semakin jelas terdengar. Kodok, burung malam, jangkrik dan suara serangga lainnya kian semakin tajam terdengar di habitat asli mereka. Terlihat anggota dan senior lain menyalakan api untuk penerangan dalam kegelapan ini. Malam ini masing-masing dari kelompok anggota baru akan berjalan melalui rute yang telah di siapkan. Mereka akan berjalan dan harus menemukan pos-pos penjagaan para senior. Mereka juga harus melakukan tantangan dan harus melaksanakan perintah senior.
Paginya anggota baru tersebut satu persatu di jajal dan di tantang adrenalinenya dengan naik ke atas bukit, menyebrangi sungai, berayun menggunakan dahan pohon, juga di ajarkan bertahan hidup di hutan dengan makanan seadanya atau dengan memakan beberapa tumbuhan yang tidak beracun.
Sorenya para anggota baru PALAMAS dan juga para senior kembali ke area tempat mereka mendirikan tenda. Semuanya terlihat lelah, ada yang mengeluh kehausan, ada yang mengeluh kesakitan karena kakinya sedikit terluka saat di perjalanan, dan ada juga yang mengeluh kecapaian kemudian merebahkan tubuhnya di atas rerumputan hijau hutan untuk mengembalikan tenaganya lagi.
Ratna sendiri duduk bersandar diantara akar-akar pohon jati berusia puluhanan tahun yang muncul ke permukaan, Ia memejamkan matanya menarik nafas dalam, membiarkan akar jati menopah tubuh lelahnya untuk mengumpulkan sisa tenaganya. Di tengah yang lain mengeluh kelelahan Ia sendiri merasa tak harus mengeluh dengan keadaan, karena inilah pilihannya dan Ia tak akan menyesal telah memilih PALAMAS.
Sayup-sayup terdengar ketua dari PALAMAS tengah berbicara melalui microfon, memberi selamat pada anggota baru yang telah berhasil menjalani pendidikan ini. Ia berbicara panjang lebar dan memberi kata-kata mutiara untuk menyemangati para anggota yang tengah duduk beristirahat.  Salah seorang senior lainnya yang tengah berdiri di samping ketua PALAMAS terlihat tak sabar, terlihat dari kakinya yang tak bisa berhenti bergerak menunggu ketua selesai berbicara. Dengan tiba-tiba Ia mengambil microfon yang masih berada di tangan ketua dengan setengah merampas. Ketua tersebut terlihat kebingungan, tetapi tak di peduikan sang senior.
“Ratna Khaila Nasution!”. Ratna tersentak terkejut mendengar namanya di teriakkan oleh senior tersebut. “Ratna!, maju ke depan!”. Kali ini Ratna takut, Ia berfikir keras, mengingat-ingat adakah kesalahan yang telah Ia perbuat sehingga namanya diteriakkan dengan begitu keras. Dengan wajah terlihat bingung, Ia berusaha menepis keraguan dan rasa takut dihatinya, setengah hati Ia berjalan menyeret-nyeret langkahnya maju ke depan.
“iya?, apa aku membuat kesalahan?”. Ratna dengan wajah bingung.
Dengan sorot mata tajam senior tersebut memandanginya sejenak, semua orang terdiam terpaku menyaksikan.
“iya, kamu sudah membuat kesalahan fatal!”. Ratna tertunduk dia, bola matanya membesar dan terasa basah apa yang telah ku lakukan?. Suasana sunyi mencekam, sesunyi malam, bahkan tak ada yang berani membuat gerakan sedikitpun tanpa aba-aba sang senior. “kesalahanmu, kamu telah mencuri!”. Lanjut sang senior. Ratna terkejut atas apa yang dialamatkan kepadanya, Ia tak habis fikir, apa yang telah Ia lakukan, apa yang telah Ia curi, lidahnya terasa kelu tak mampu berkata walau untuk membela dirinya. “mencuri hatiku..” nada si perintis menurun dan melukiskan senyum di wajahnya. Semua orang terdiam sejenak kemudian tawapun pecah, menyisakan kegaduhan acara tersebut. Ratna tertunduk berjalan mengjauhi kerumunan yang sedang tertawa entah mentertawakan dirinya atau lelucon yang di buat perintis, lelucon yang mengorbankan dirinya hanya untuk menghibur para anggota yang mengeluh kelelahan. Ia berfikir tak mengapa toh Ia telah membuat yang lain tertawa bahagia melupakan rasa lelahnya dan Ia akan menerima pahala karena itu, tetapi Ia merasakan perih di hatinya. Ia mencoba tertawa seadanya seakan tak terjadi apa-apa, tawa yang terkesan dipaksakan. Ia berjalan menuju tepi sungai terdekat untuk membasuh muka juga menenangkan hatinya.
“sorry, aku Andi dan itu bukan leulcon”. Terdengar suara dari belakang.
“lelucon juga tak apa” ia menatap dasar sungai, mengambil air dengan tangan dan membasuh mukanya.”aku senang melihat mereka tertawa” Ia tersenyum kearah si perintis Andi.
Andi terdiam, Ia berjalan maju mendekati tepian sungai tepat di samping ratna.
“maaf, tapi aku benar menyukaimu”. Dengan tatapan mata sayu kearah dasar sungai.
“kenapa kau mudah sekali mengatakan suka?”. Ratna menyipitkan mata menoleh kearah Andi.
“karna aku tau, kita punya takdir” seakan menelan bongkahan besar di tenggorokannya “takdir bersama” lanjutnya mengangkat wajah menerawang ke sebrang sungai tanpa melihat Ratna yang sedari tadi menoleh menyipitkan mata serta mengerutkan dahi kearahnya.
“kau yakin?” dengan semakin menyipitkan matanya.
“tentu saja” Ia tersenyum memandang lekat wajah Ratna. Terlihat  ketulusan dan Ratna merasakan itu. Sejenak mata mereka bertemu, menyadari itu Ratna mengalihkan pandangannya kedepan dan terdiam.
“gimana?”. Andi mencondongkan mukanya mendekati Ratna.
“gimana apanya?”. Ratna sedikit menjauh.
“hah, mau gak memiliki takdir bersamaku?”.
Ratna diam hanya tersenyum.
“gimana?”. Andi menggerakkan kakinya tak sabar mendengar jawaban Ratna.
“maaf, tapi ibuku mengajariku untuk tidak mudah percaya pada orang yang baru ku kenal”.
“ya, ibumu memang benar, dan aku takkan menjadi orang asing bagimu, akan ku buktikan dan aku takkan menyerah, Ratna”. Ia tersenyun dan berlalu meninggalkan Ratna.
Ratna bertanya pada dirinya sendiri apakah yang sudah Ia lakukan itu benar?, Ia mencoba menyakinkan dirinya sendiri ya aku memang benar.. tapi Ia juga tak bisa berbohong pada dirinya sendiri bahwa Ia mempercayai semua perkataan Andi hanya dengan melihat matanya, Ia merasakannya, merasakan ketulusan dalam mata itu.
***
Sehari setelah pendidikan usai Ratna memperbanyak istirahatnya, Ia merasa kepalanya sangat berat. Ia juga merasakan linu di persendiannya. Sambil mencoba tidur merebahkan badannya di atas kasurnya yang nyaman.
kriiingg…kringgg 087763654xxx calling…
“halo?” Ratna meraih ponselnya yang terletak di meja samping tempat tidurnya.
“halo, Ratna?” suara lelaki bertanya.
“iya, siapa?” kini giliran Ratna yang bertanya.
“ini bang Andi”.  Ia menjawab.
“iya, kenapa bang?”
“biasanya kami senior setelah cara pendidikan usai akan menghubungi para anggota untuk meminta maaf  atas kesalahan-kesalahan yang kami lakukan ketika acara kemarin berlangsung”
“oh, gak apa-apa kok bang”
“tapi soal pembicaraan di dekat sungai itu bukan rekayasa dan aku tidak akan meminta maaf untuk hal itu”
“karna kau gak menganggap itu kesalahan bukan?”
“tentu saja, aku serius mengenai itu dan aku akan bertanya lagi” Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkannya “Ratna Khaila Nasution, maukah kau menjadi bagian dari takdirku?” suaranya terdengar begitu tegas.
“hmm, sebentar, bukankah organisasi kita punya aturan kalo diantara para anggota maupun senior tidak boleh ada hubungan special?” Ratna berkata padanya.
“iya. Tapi tidak untuk kita, aku serius dan karena keseriusanku ini aku rela melanggar semua aturan itu.” Jawabnya tegas.
“tapi itu salah”
“apa yang salah untuk orang yang di anugrahi perasaan cinta, apa dengan ini kau melarangku mencintaimu?”.
Ratna terdiam, tak mampu berkata. Ia tau Ia tak memiliki hak untuk menghakimi perasaan orang lain walau itu perasaan ialah cinta untuknya sendiri.
“jawablah Ratna” …
Tobe continou…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar