Minggu, 01 Maret 2015

Ketakutan Tak Wajarku..



Ketakutanku selanjutnya...
Hahha aku benar-benar penakut, tapi, hey apa yang  sedang kau pikirkan terhadapku hah? Ngaku?
Kau pasti mengira aku takut pada hantu, cerita hantu, mitos, urban legend dan sebagainya.. kau salah besar! Justru aku menyukai hal-hal tersebut.. lalu? Yaah yang aku takutkan hanya hal-hal sederhana yang mungkin tak pernah tersirat di benakmu... aku hanya takut pada imajinasiku sendiri.. apa? Kau tak waras Riz... mamang, apa aku harus bangga? Ckckck
Persisnya aku tak pernah sadar kapan aku memulai hal ini *sepertinya pas masuk kuliah*, tapi ketika aku akan berada di tempat asing, menginjakan kakiku pertama kali disana... otakku telah memulai menggambar dan mendeskripsikan hal apa yang akan terjadi terutama hal-hal negatif dan memalukan yang akan kualami,  padahal aku belum tentu mengalaminya bukan? Hah imajinasiku memang keterlaluan, aku takut pada hal yang sama sekali belum terjadi.
Seperti ketika pertama kali aku akan memasuki ruangan dosen untuk bertemu salah satu dosen terkait dan membicarakan soal KRS, KHS dan urusan perkuliahan lainnya , aku mencoba mencari jalan keluar lainnya untuk tidak berhadapan dengan orang yang tak ingin kuhadapi, otakku penuh, kakiku terasa bergetar, *haaaa apa yang aku lakukan bercerita begini D: , ini aib, aib* tapi aku selalu berusaha tampak baik-baik saja, bersikap wajar, normal seperti manusia lainnya *hah berasa jadi alien* .. kau tau apa yang digambarkan otak nakalku *hey bukan jorok* ketika aku memasuki ruang dosen tersebut? Biar aku ceritakan sedikit, dalam kepalaku telah tergambar jelas aku akan melangkahkan kakiku masuk melewati pintu, ibaratnya seperti sedang melangkah keluar dari zona amanku, dan dengan suara innocent aku mengucap salam menuju meja dosen yang dimaksud, lalu seketika seluruh mata yang berada disana akan mengarah memandangku dengan pandangan eneh mereka,  memikirkan tentang pandangan mereka saja sudah mampu membuat nyaliku ciut, hah apa yang harus kulakukan *aku benar-benar penakut!, waktu itu :D*
Seiring berjalannya waktu, aku lelah menghadapi ketakutan tak wajar ini, dan sekali lagi aku mencoba meminta nasehat mbah abang Biky lagi *ciyyee bang Biky udah kayak embah-embah, penasehat spiritual niyee :v *dan dengan santainya dia bilang “Riz gak PD yah?”. emang PD itu kayak gimana?. “yaa, Percaya diri aja”. udah kok, percaya sama Tuhan jugak.  “ckckck” *mungkin prihatin kali yak liat keadaan saya x’D * “yaudah Riz cari solusi sendiri aja!”. Bang Biky emang baik dan pengertian deh :v .. Dan perbincangan siang itu berakhir begitu saja...
Juga entah karena apa tiba-tiba terbersit niatan untuk mengalahkan ketakutanku yang tak wajar ini, dengan menjadikannya sebuah tentangan.. ‘change your fear become challenge’ ternyata begitu mudah penyelesaian dari semua ini... akh aku memang teralu malas berpikir -_-“ jangan di tiru :D

Sabtu, 28 Februari 2015

Ketakutanku, Menjadi Dewasa...



        Berbulan-bulan, bahkan mungkin dari tahun lalu dan aku, aku bosan dengan pemikiran seperti ini, takut tuk jadi dewasa? Hahh pemikiran macam apa ini?, hal-hal ini benar-benar bodoh... apa yang telah aku lakukan? Membiarkan diriku terbodohi pikiranku sendiri.
       Hah takut jadi dewasa, sebenarnya ketakutanku bukanlah sesederhana itu, aku bukannya takut dewasa nanti kulitku keriput, rambutku memutih, panca indraku berkurang dan aku akan menjadi tua renta *ayolah itu memang hukum alam* percayalah bukan itu yang aku takutkan.
       Hanya saja aku takut akan tanggung jawabku sebagai seorang anak akan gagal, tidak bisa memberi mereka ibu ayahku kebahagiaan yang telah kami rencanakan. Aku takut rencana itu gagal, aku takut akan harapan-harapan mereka, harapan berlebih akan diriku , harapan ini membebaniku, membuatku takut, nanti takkan mampu merealisasikannya lalu meraka akan kecewa, kecewa padaku... sudah kubilangkan, pemikiranku memang konyol.
        Akhirnya aku memberanikan diriku berbicara, mengeluarkan segala pikiran bodoh di kepalaku... dengan hati-hati aku membuka suara, mengatur nafas dan memperindah kosa kataku, hey kau tau? Aku sedang ingin membicarakan hal bodoh yang menurutku penting dan aku tak ingin kehilangan lawan bicaraku hanya karena kebodohanku dalam bercerita, kau tentu takkan mau mendengar cerita bodoh apalagi dengan cara bicara yang yaah, maaf aku tak terlalu pandai dalam bicara apalagi dengan orang yang tak terlalu akrab denganku... salahku *kuper? Masih jaman yah* jadi, aku memilih bercerita kepada salah satu teman baikku yang sebenarnya aku tak tau kenapa kami jadi teman baik, sorry bang Biky J *abaikan dia, chapter ini tentang aku dan pemikiranku :v , ohya tambahan, bang Biky itu cewek yah tapi karena suatu hari terjadi sebuah tragedi, jadilah kami saling memanggil dengan sebutan abang-abang xD , lain kali akan ku bongkar... huahahaa* loh?
          Kembali, untuk berceritapun aku memilih waktu dan tempat yang menurutku tepat, pada pagi menjelang siang, didalam perpustakaan kampus yang tenang aku mengeluarkan segala pertanyaan dan pernyataan dalam otakku... lega aku memulai lalu mengakhirinya dengan baik, Bang Biky terlihat khusuk mendengar setelah itu menghembuskan nafas setengah panjang dan berkata “riz itu sedang dalam keadaan Peterpan holic” , itu apa? , “yah itu, keadaan seperti yang Riz alami ini, takut jadi dewasa”, jadi?, “hmm intinya Riz Cuma gak PD aja sama masa depan sendiri”, terus gimana?, ”ya diubah dong, berusaha untuk masa depan dari sekarang dan yakin kalo masa depan Riz itu akan baik-baik saja” , gitu yah?... dan saya masih bingung, *wah bodohnya hampir ke level idiot nih* Dan begitu saja, setidaknya ada sedikit perasaan lega yang menyeruak dalam hatiku.
          Sampai ketika suatau malam, ibaratnya ini seperti suatu jitakan keras di kepalaku *ough!* yang menanamkan sebuah kata ‘PERCAYA’ belive, just believe someday you can be somebody, kata-kata itu terus mengiang dalam otakku, kata itu seakan menghapus segala ketakutanku, membuatku kuat, berani dan semangat.  sederhana bukan, jawaban yang selama ini kucari ternyata benar-benar sesederhana itu... thanks God, bang Biky jugaa :*

Selasa, 24 Februari 2015

belum ada judulnya,, iseng nyalurin hobi

~~
Aku berdiri didepan sebuah bangunan basar yang belum terlalu tua tetapi masih terlihat menawan, gerbang yang menjulang tinggi memancarkan peringatan bahwa siapapun tak akan bisa lalu langan sembarangan melewatinya. ku lihat seorang lelaki tua yang umurnya mungkin sudah 50-an membuka gerbang ini, seketika bunyi berderitpun terdengar agak mencekam bagai membuka gerbang rumah sarang hantu di film-film horror. Ia menoleh ke arahku dengan sedikit memaksakan untuk tersenyum. Melihat wajahnya yang penuh keriput karena jaman atau mungkin juga karena keadaan, menyiratkan raut kesederhanaan namun terlihat damai. Ia adalah security di institute pendidikan ini.
Sekolah baru ini sama sekali tak membuatku tertarik.  Dalam setahun  ini sudah dua daerah, dua rumah dan dua sekolah yang aku tinggalkan, yah samuanya karna ayah. Keinginannya yang ingin membangun usaha lagi di daerah ini, usahanya cake shop nya di daerah-daerah terdahulu bangkrut, ada yang di sebabkan kebakaran dan yang terakhir ialah karena sebuah truk yang remnya blong menabrak toko ayah, tetapi satu hal yang sangat ku sukai dari ayah ialah pantang mundur dan tak pernah berputus asa. Ia selalu berpikir positif  dan hal-hal yang terjadi padanya dianggapnya hanya kurang beruntung saja.
Hari ini ayah hanya sekedar mengenalkan sekolah ke-tiga ini untukku. Besar dan megah adalah kesan pertama ku untuk tempat ini, tapi entah mengapa enggan sekali rasanya bersekolah di sini.
”pasti deh anak-anak di sini pada sombong”. Anganku ketika melihat mereka acuh tak acuh padaku.
Mereka memberi pandangan aneh padaku, padahal dandananku tidak terlalu kuno dengan potongan rambut bob pendek sebahu, aku pikir suka potongan rambut ini menurutku rambut panjang itu repot dan memerlukan lumayan banyak waktu untuk merawatnya.
“Vira kamu tunggu disini ya sayang.” Kata  ayah membuyarkan lamunanku.
“ok, tapi jangan lama ya yah, aku gak betah disini.” Ucapku. Ayah hanya tersenyum sambil membelai rambutku kemudian berlalu ke ruangan kepala sekolah. Ruangan ini tepat berada di depan lapangan olah raga. Di sekitarnya terdapat beberapa pot bunga cantik untuk memperindah tempat ini.
“cukup nyaman juga.” Anganku. Bangunan sekolah ini menggunakan tema nature tak salah banyak pohon-pohon rindang yang teduh disini.
Aku duduk di sebuah kursi kecil di depan ruangan kepala sekolah. Sambil melihat sekeliling dan membayangkan bahwa besok aku akan di sekolah ini tanpa ayah tanpa pelindungku ohh. Sudah terbayang aku akan di bully oleh anak-anak sombong ini, seperti kejadian disekolahku dulu. Aku memang tak pandai bergaul dengan orang asing, aku lebih suka bergaul di dunia maya. Aku juga lebih sering menyendiri sambil membaca novel atau sekedar mendengarkan music. Mungkin karena itu mereka menjauhiku dan menganggapku freaks atau apalah aku tak peduli.
Di sekolah yang lama aku tak pernah benar-benar mempunyai teman sampai ayah menyuruhku pindah sekolah lagi. Oh my God, plese help me…
Bip bip bip , oh satu pesan.
From: BadBoy
“hey alone girl, gimana sekolah baru kamu?”.
senang rasanya melihat pesan ini. Dia ialah seseorang yang bisa membuatku merasa benar-benar memiliki teman, walau nama aslinya saja aku tak tau, kami saling kenal melalui jejaring social, dia tak pernah memposting fotonya dan selalu menggunakan nick name bad boy, yaah karna itulah aku memanggilnya seperti itu juga. Sedangkan aku memakai nick alone girl, juga tak pernah benar-benar memposting fotoku, aku lebih suka memakai kartun atau emoticon sebagai profilku. Ohya  apa bedanya kami hahhaa.
Reply: “aku takut.”
From: bad boy
“takut? disana ada sadako yah ?”
Reply: “ohhoo disini gak ada sumur tauuuk, aku takut di bully lagi.”
From: bad boy
“oyyaa, heyy sekarang uda gak jaman saling membuli, kamu kan uda kelas 2 SMA, masak takut sih, jangan cemen donk, semangat alone girl, smangat yahh ^-*.”
Reply: “ hahha iya thankz… “ blum selesai aku mengetik balasan untuk bad boy, tiba-tiba,
Ouuhh!! Aku terjatuh Kepalaku sakit.” Siapa sih yang ngelempar bola sembarangan, gak sopan!.”
“sorry, sorry are you ok?”. Seorang cowok tegap berdiri di hadapanku, senyumannya manis, begitu tampan dengan tatapan mata  bersinar, benar-benar seperti malaikat. Oh God …
Aku terdiam. Bodoh!
“hey,, kamu gak apa-apa?.” Sambil membantuku berdiri.
“aa eemm.” Sambil mengangguk tak bisa berkata-kata.
“hmm, kalo gitu aku kesana dulu ya.” Dia berlalu, dia berlalu. Aku memandangnya berjalan menjauhiku dan lanjut bermain basket bersama anak-anak yang lain. Aarrggh kebodohan pertamaku di sekolah ini. Bodoh benar-benar bodoh sekali.
“… iya terimakasih.” Terdengar samar suara ayahku dan di susul wujudnya menampakan diri dari balik pintu.
“nah sayang, besok kamu bisa bersekolah disini, kamu senangkan?”
“hmm,,.” aku mengangguk.
***
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiingggggggggggggg
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiinngggggg “oh tukang ice cream yah.”
 Karena terlalu mengantuk aku melanjutkan tidur, tapi, tunggu tukang ice cream???.
 “Deg” Oh my God!!!. “Ayaaaahhhhh!”
Aku merengut dengan tampang kusut sambil menaiki motor butut ayah yang usianya mungkin lebih tua dariku, katanya sih motor ini sejarah saksi hidupnya makanya kalau motor ini ditawar berapapun tak akan ia jual. Ayah duduk di depan memboncengiku sambil menggerutu tak karuan, intinya kalau dia sedang ngomel ya diam saja. Aku play teenage dreamnya katty pery  sambil menaikan volume music yang ku dengar melalui headset yang selalu ku bawa dan jadi senjata rahasiaku dikala terkena amarah ayah.
Yah semua ini salah si bad boy karena semalaman aku chatting dengan dia. Terlambat bangun dan terkena omelan ayah. Awas dia nanti aku marahi juga, lah kesalahannya apa? Hahha
“nih uda sampai, Besok jangan telat lagi, ayah juga telat buka toko kan!”
“iihhh aku juga gak sempet sarapan ayaaahh.!”
“makanya besok-besok bangunya jangan kesiangan,sudah masuk sana.”
“yaudah,,.” Jawabku kesal sambil menyalami ayah.
Aku melangkahkan kakiku memasuki gerbang sekolah, sudah terbayang tak akan ada anak yang mau berteman denganku.”hhah” aku mendengus.
 “oya aku kan belum tau kelasku dimana, bodoh bodooohh.” Sambil menepuk-nepuk kepalaku.
Ttiiiiiiiiiiiiiiiiiittt….!!! Aku terkejuta dan berbalik, ternyata ada motor besar di belakangku dengan seorang cowok yang memakai jaket dan helm hitam. Aku melangkah ke pinggir untuk memberi jalan, kulihat ia maju perlahan dan berhenti di hadapanku, dengan membuka sedikit kaca helmnya.
 “bodoh!.” Apa? Apa aku tak salah dengar, dia berkata bodoh?. Dia langsung memarkir motornya. Sedangkan aku masih terdiam tak percaya. Apakah kebodohanku begitu jelas terlihat dimatanya?.
 “teeeettttttt…” “oh bel masuk.” Aku berjalan di koridor kelas sambil melihat kasana kemari kebingungan  mencari dimana kelasku. Tiba-tiba,
“hey kamu anak baru? Yang ketemu kemarin kan?”. Oh tuhan dia lagi, aku menatap mata indahya dan hanya terdiam.
“hey,kok bengong? mau kubantu nyari kelas?.” Sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan mukaku.
 “oh hmm apa?”. Bodoh kenapa aku berkata seperti itu, harusnya aku jawab iya kamu kan yang ngelempar bola kamaren sampai ngenain kepalaku itu kan. oh “tidak tidak”  sambil menggelengkan kepalaku.
 “oh, kayaknya kamu gak perlu bantuanku deh, kalo gitu aku masuk duluan ya.” Katanya sedikit melambaikankan tangan dan langsung berjalan pergi menjuhiku . bukan, bukan seperti itu, kembali kumohon kembalilah.
”kenapa,kenapaaa mau ngomong aja rasanya sulit sekali.” Kataku dengan expresi dramatis.
***
“nah ini kelasmu, lain kali jangan malu bertanya yah.” Suara indah ibu kepala sekolah. Aku menyesal sudah berburuk sangka padanya. Karena tampangnya yang agak cruel aku mengira dia itu killer, penyiksa dan tidak berperikesiswaan, hah emang ada?.
“Ayok perkenalkan diri kamu.” suara kepala sekolah terdengar lagi.
 oh aku tak sadar beberapa saat menatap kepala sekolah. sedangkan di depanku telah terhampar pandangan aneh para siswa menatapku, dan sekarang aku ialah pusat perhatian. Canggung sekali rasanya tapi  toh aku kan sudah beberapakali pindah dan memperkenalkan diriku di depan kelas, kali ini aku pasti bisa. aku mencoba tenang dan bersikap wajar. akhirnya,,
”nnnaaammaa sayyy..” belum selesai aku menyebutkan namaku.
 “hahha dia gagap temen-temen”.celoleh salah satu siswa gemuk yang duduk di pojok belakang kelas, tawa satu kelaspun tak terhindarkan. aku tertunduk tak berani menatap mereka, rasanya inginku berlari berlari menyebrangi jembatan menuju valhala ... jhotun…… diamana thor berada dan ku pinjam palunya untuk membinasakan mereka satu persatu, terutama si gemuk itu aku punya perlakuan khusus padanya,akan ku ikat tangan dan kakinya di sebuah kayu kemudian ku panggang sambil ku putar-putar ia, persis daging kambing yang sering kami panggang pada saat berkemah. Tapi apa daya imajinasiku terlalu liar, Aku malu,marah tapi pada diriku sendiri,kenapa aku tak bisa untuk sekedar bicara menyebutkan namaku? padahal aku sudah sangat sering berlatih memperkenalkan diri di depan cermin kamarku, tapi kenapa sekarang aku tak bisa.
“sudah diam anak-anak, ini NaVira Anastasya dan dia akan jadi teman sekelas kalian, tolong bantu dia belajar dan menyesuaikan diri, nah Vira kamu duduk di bangku kosong depan Egi ya.” Aku menganguk berlajan menuju bangku ke dua dari belakang,.
samar-samar kudenger salah satu siswi berbisik pada teman sebangkunya “bantu menyesuaikan diri? Emang dia dari planet mana? xixixixi” Mereka tertawa cekikikan. Aku hanya bisa tertunduk berjalan, rasanya panjang sekali perjalanan menuju tempat dudukku, padahal tempatnya cuma diurutan ke tiga dari tempat duduk terdepan. Aku mempercepat langkahku dan akhirnya sampai juga. Aku duduk dan mengeluarkan beberapa alat tulis, tapi tunggu sekilas aku seperti mengenali sosok di belakang tempat dudukku tapi siapa?.
 “bodoh.” Suara itu terdengar lagi. Oh dia, aku ingat, dia orang yang memakai motor besar tadi.”huhhh” apalagi cobaanmu Tuhan. aku mendengus kesal.
Sepanjang pelajaran aku benar-benar tak konsentrasi dengan baik, hayalanku melayang memikirkan hal yang membuatku malu mungkin untuk selamanya, kesan pertama saja aku sudah di cap cewek gagap dari planet entah berantah, selanjutnya apalagi, tak bisa ku bayangkan.
Sedangkan sepertinya siswa di belakangku juga tak memperhatikan pelajaran dia seperti sibuk sendiri, oh ya si cowok sombong yang tadi disebut namanya, tapi siapa ya? aku lupa gara-gara tragedy gagap tadi. Selang beberapa lama kemudian. teeeeeeeeeeeeettt...!!!Yes, akhirnya bel kebebasanpun datang, aku senang sekali mendengarnya, suara itu bagai bunyi yang paling merdu yang pernah ku dengar karna itu tanda berakhirnya peneritaanku di kelas ini. Begitu bel berbunyi para siswa langsung berbondong keluar tanpa memperhatikan keberadaan guru yang masih berada di kelas. Tapi aku masih terduduk di bangku ini, kalaupun harus keluar, aku harus kemana? Aku belum tau benar sekolah ini, kantinya saja aku tak tau dimana.
Kruuucckkk kruucckk, aku memegang perutku berharap rasa lapar ini hilang. “aku harus gimana? Lapeerr” anganku.
Tiba-tiba sebuah tangan menarikku keluar dari tempat dudukku.
“ayok keluar.” Suaranya datar. Ternyata si cowok sombong tadi, dan ia juga masih berada di kelas.
tanpa mendengar sepatah kata dariku dia menarik tanganku keluar kelas.
“kita mau kemana?”. Tanyaku polos.
Dia tak menjawab hanya tetap berjalan sambil menarik tanganku.
Dia membawaku ke sebuah bangku taman di bawah pohon rindang yang berada di dekat perpustakaan sepertinya karena sekilas terlihat banyak rak-rak buku.
“tunggu disini.” Dengan suara sok cool dengan tampang datarnya.
Kruuckk kruuuckk aduh kompromi sedikit dong cacing-cacing perutku. Beberapa menit kemudian.
“nih,makan.” Sambil menyodorkan sebuah burger dan air mineral.
“aah eemm, aku gak lap…” krucckk krucckk aduuuhhh
“hmm” dia tersenyum, sambil duduk disampingku.
 oh tak kusangka, aku kira dia tak bisa tersenyum dengan tampang datarnya yang sok cool itu. kupikir Sebenarnya dia cukup tampan dengan senyum semanis itu.
” hahh jangan! Gak boleh gak boleh, dia kan uda ngatain kamu bodoh Vira, jangan jangan.” bisikku pada dariku sendiri.
“hahha ternyata memang benar bodoh, cepat makan.” Ejeknya padaku.
Aku merengut kesal, siapa dia berani sekali menghinaku hahh, aku melotot ke arahnya.
“aku gak butuh!!” jawabku kesal.
“oh, ternyata gak gagap juga, syukur deh.” Dengan masih tertawa seakan tak berdosa. Kali ini Ia benar-benar menguji kesabaranku. Takkan ku biarkan diriku terhina seperti ini terus menerus, setidak nya aku harus bertindak melakukan perlawanan walaupun aku tak peduli tapi aku tetap tak mau di remehkan seperti ini.
“iish belum cukup puas kalian menghinaku dari tadi hah!”. Aku mulai naik darah.
Tawanya reda dan terdiam sejenak seperti menerawang ke angkasa.

“maaf.” Tanpa melihatku.”makanlah”  lanjutnya dan langsung berdiri beranjak pergi.

Experimen Brownis :v



ini brownis ke dua buatan saya, hmm kelihatannya agak, yaa begitulaah.. heem pemula :)
ungtunglah teman-teman kampus saya suka, yeeyy :D *sssttt padahal itu brownis waktu jadi adonan, gak pake baking powder.. hahha lupaa
yah ini bermula dari mana yah? entah kenapa saya tiba-tiba suka ngebaking alias bikin kue, belajar cuma ngandelin internet, dari cari resep sampe cara buatnya... tapi karna saya suka dan udah berniat banget buat bisa bikin, nekat aja langsung bikin, dan hasilnya... Alhamdulillah... gagal chuy hehhee tapi saya gak nyerah, walau percobaan yang kedua pun, nggak gagal total sih, cuma lupa masukin baking powder aja *pantes gak ngembang, payah :D
tapi entah kenapa semangat saya untuk bisa bikin kue loncah jadi makin tinggi, tinggi banget haaha dari itu saya berusaha buat beli alat satu persatu, biar gak ngandelin alat orang lagi alias minjem! huh
dan akhirnya bikin dan pake alat sendiri sensasinya itu berasa lebih uuhh, bangga, bangga banget :)
dari itu saya gak akan nyerah, walau gagal dan gagal lagi *asal gagalnya gak nyampe 1000x aja hehe*
kapan-kapan cobain yaahhh... see you next time :)

Selasa, 27 Januari 2015

MY EDELWEIS chapter 2 (full version)



My Edelweis
CHAPTER 2
Tak pernah kubayangkan Tuhan mentakdirkan kita,
Kau datang, ketika aku mendamba seseorang,
Kau hadir, ketika aku mengiba kasih sayang,
Maaf, Kau luput dari pandanganku yang silau auramu.
Masihku merasakan ketulusan dalam nadimu
Kita di takdirkan bersama, dengan cara yang luar biasa.
***
Dua orang laki-laki terlihat sedang asik mengobrol, terkadang juga bersenda gurau terihat jelas dari tawa lepas keduanya.
“eh, Gun gimana menurutmu junior yang sekarang?”. Laki-laki itu memulai pembicaraan.
“cantik-cantik bang”. Sambil melepas tawa.
“bukan yang itu Guntur! Maksudku skill mereka, gimana? mereka udah ada perkembangan gak, sebelum kita ngadain pendidikan ”. Tanyanya serius.
“hahha itu sih info tambahannya bang, keliatannya udah siap deh, atur aja waktu pendidikannya, biar gak ganggu jadwal kuliahnya abang”. Jawab Guntur santai.
“okelah kalo gitu”. Katanya mengangguk-anggukan kepalanya.
“bang , ini tantangan dan harus di terima! nih ku kasi nomor hp sepupuku, kalo abang bisa ngeluluhin hatinya berarti abang hebat! Gimana? Terima?”. Guntur meraih setengah ponsel lelaki tersebut kemudian mengetik beberapa angka dan menyimpannya.
“hmm, oke siapa takut!” jawab lelaki tersebut dan merekapun tertawa bersama lagi.
***
Jum’at , August, 2008
08.15 petang, warna orange telah berganti dengan pekatnya hitam malam, suara-suara kebisingan khas terangpun berganti suara jangkrik yang mencerminkan suasana gelap. Indahnya cahaya bulan sempurna yang terlihat bersinar memantulkan hangatnya mentari dari sisi bumi yang berbeda. Malam ini Ratna tengah sibuk mempersiapkan segala peralatan dan keperluan untuk kegiatan pendidikan, besok siang Ia beserta anggota baru PALAMAS harus berangkat menuju hutan Mayung Polak. Ia harus mempersiapkan segalanya dengan tepat karena ini ialah pertama kalinya Ia masuk dan harus menginap semalam di dalam hutan.
Krriiingg,, kriinngg privat number calling…
Ratna tak menghiraukan ponselnya, Ia lebih memusatkan perhatiannya pada persiapan besok. Dia berfikir untuk istirahat lebih awal untuk memaksimalkan staminanya, jika besok Ia di gembleng habis-habisan oleh seniornya, meskipun Julian telah menjamin bahwa Ia akan aman dari senior yang akan memberinya latihan fisik yang cukup berat, Ia merasa tetap harus bersiap-siap atas kemungkinan yang tak bisa Ia bayangkan.
12.03 petang
Kriiiinngg…kriiingg… privat number calling… Dengan mata masih terpejam, Ia berusaha meraih ponselnya yang berada di bawah bantalnya.
“iya, halo?”. Ratna menjawab panggilan tanpa membuka matanya.
“halo”. Terdengar suara laki-laki diseberang.
“siapa?”. Ratna berusaha berbicara walau tertahan kantuk yang luar biasa.
“ini Udin!” jawab laki-laki tersebut.
Ratna tersenyum melawan kantuknya, dalam pejaman matanya Ia membayangkan sosok yang sedang berbicara dengannya melalui ponsel tersebut ialah Udin Sedunia artis dari Lombok yang tenar karena lagu andalanya yang di upload ke youtube dan berjudul sama dengan namanya.
“kenapa diam?” suara lelaki tersebut bertanya.
“gak, hanya saja ini udah malam dan aku sangat ngantuk”. Jawab ratna masih tersenyum tanpa suara.
“oh sorry, kalau gitu aku tutup, selamat malam.” Suara di sebrang.
“selamat malam juga Udin”. Ratna menjutkan tidurnya dengan senyum yang masih berbekas di wajahnya.
***
03.00 PM
Keesokan harinya semua orang sudah berkumpul dilapangan basket sekolah tak terkecuali Ia dan Julian. Semuanya berbaris rapi dan di absen satu persatu. Para senior dan perintispun telah hadir dengan bawaan masing-masing. Ransel Ratna terlihat begitu penuh dan berat, Ia tetap terlihat cantik mengenakan baju olah raga putih biru muda khas sekolah ini.
“nanti di hutan, kau jangan menjauh dariku yah”. Bisik Julian yang berbaris di samping Ratna.
“emang kau bisa menjagaku?” Tanya Ratna dengan nada meremehkan.
“tentu aja, kau tau kan aku punya sabuk hitam.” Jawab Julian percaya diri.
“karate?” Ratna menoleh kearahnya.
“gak sabuk biasa kok”. Jawab Julian polos kemudian tersenyum.
“isshh, menjauh dariku!” Ratna menjawab ketus.
***
Mereka tiba di hutan menjelang malam, dan telah menemukan tempat yang tepat untuk mendirikan tenda dengan sumber air yaitu sungai kecil yang berada tak jauh dari lokasi mereka. Hutan ini terlihat begitu mencekam dalam petangnya malam, suara-suara malampun semakin jelas terdengar. Kodok, burung malam, jangkrik dan suara serangga lainnya kian semakin tajam terdengar di habitat asli mereka. Terlihat anggota dan senior lain menyalakan api untuk penerangan dalam kegelapan ini. Malam ini masing-masing dari kelompok anggota baru akan berjalan melalui rute yang telah di siapkan. Mereka akan berjalan dan harus menemukan pos-pos penjagaan para senior. Mereka juga harus melakukan tantangan dan harus melaksanakan perintah senior.
Paginya anggota baru tersebut satu persatu di jajal dan di tantang adrenalinenya dengan naik ke atas bukit, menyebrangi sungai, berayun menggunakan dahan pohon, juga di ajarkan bertahan hidup di hutan dengan makanan seadanya atau dengan memakan beberapa tumbuhan yang tidak beracun.
Sorenya para anggota baru PALAMAS dan juga para senior kembali ke area tempat mereka mendirikan tenda. Semuanya terlihat lelah, ada yang mengeluh kehausan, ada yang mengeluh kesakitan karena kakinya sedikit terluka saat di perjalanan, dan ada juga yang mengeluh kecapaian kemudian merebahkan tubuhnya di atas rerumputan hijau hutan untuk mengembalikan tenaganya lagi.
Ratna sendiri duduk bersandar diantara akar-akar pohon jati berusia puluhanan tahun yang muncul ke permukaan, Ia memejamkan matanya menarik nafas dalam, membiarkan akar jati menopah tubuh lelahnya untuk mengumpulkan sisa tenaganya. Di tengah yang lain mengeluh kelelahan Ia sendiri merasa tak harus mengeluh dengan keadaan, karena inilah pilihannya dan Ia tak akan menyesal telah memilih PALAMAS.
Sayup-sayup terdengar ketua dari PALAMAS tengah berbicara melalui microfon, memberi selamat pada anggota baru yang telah berhasil menjalani pendidikan ini. Ia berbicara panjang lebar dan memberi kata-kata mutiara untuk menyemangati para anggota yang tengah duduk beristirahat.  Salah seorang senior lainnya yang tengah berdiri di samping ketua PALAMAS terlihat tak sabar, terlihat dari kakinya yang tak bisa berhenti bergerak menunggu ketua selesai berbicara. Dengan tiba-tiba Ia mengambil microfon yang masih berada di tangan ketua dengan setengah merampas. Ketua tersebut terlihat kebingungan, tetapi tak di peduikan sang senior.
“Ratna Khaila Nasution!”. Ratna tersentak terkejut mendengar namanya di teriakkan oleh senior tersebut. “Ratna!, maju ke depan!”. Kali ini Ratna takut, Ia berfikir keras, mengingat-ingat adakah kesalahan yang telah Ia perbuat sehingga namanya diteriakkan dengan begitu keras. Dengan wajah terlihat bingung, Ia berusaha menepis keraguan dan rasa takut dihatinya, setengah hati Ia berjalan menyeret-nyeret langkahnya maju ke depan.
“iya?, apa aku membuat kesalahan?”. Ratna dengan wajah bingung.
Dengan sorot mata tajam senior tersebut memandanginya sejenak, semua orang terdiam terpaku menyaksikan.
“iya, kamu sudah membuat kesalahan fatal!”. Ratna tertunduk dia, bola matanya membesar dan terasa basah apa yang telah ku lakukan?. Suasana sunyi mencekam, sesunyi malam, bahkan tak ada yang berani membuat gerakan sedikitpun tanpa aba-aba sang senior. “kesalahanmu, kamu telah mencuri!”. Lanjut sang senior. Ratna terkejut atas apa yang dialamatkan kepadanya, Ia tak habis fikir, apa yang telah Ia lakukan, apa yang telah Ia curi, lidahnya terasa kelu tak mampu berkata walau untuk membela dirinya. “mencuri hatiku..” nada si perintis menurun dan melukiskan senyum di wajahnya. Semua orang terdiam sejenak kemudian tawapun pecah, menyisakan kegaduhan acara tersebut. Ratna tertunduk berjalan mengjauhi kerumunan yang sedang tertawa entah mentertawakan dirinya atau lelucon yang di buat perintis, lelucon yang mengorbankan dirinya hanya untuk menghibur para anggota yang mengeluh kelelahan. Ia berfikir tak mengapa toh Ia telah membuat yang lain tertawa bahagia melupakan rasa lelahnya dan Ia akan menerima pahala karena itu, tetapi Ia merasakan perih di hatinya. Ia mencoba tertawa seadanya seakan tak terjadi apa-apa, tawa yang terkesan dipaksakan. Ia berjalan menuju tepi sungai terdekat untuk membasuh muka juga menenangkan hatinya.
“sorry, aku Andi dan itu bukan leulcon”. Terdengar suara dari belakang.
“lelucon juga tak apa” ia menatap dasar sungai, mengambil air dengan tangan dan membasuh mukanya.”aku senang melihat mereka tertawa” Ia tersenyum kearah si senior Andi.
Andi terdiam, Ia berjalan maju mendekati tepian sungai tepat di samping ratna. “maaf, tapi aku benar menyukaimu”. Dengan tatapan mata sayu yang terarah ke dasar sungai.
Ratna menyipitkan mata menoleh kearah Andi. “kenapa kau mudah sekali mengatakan suka?”.
“karna aku tau, kita punya takdir” seakan menelan bongkahan besar di tenggorokannya “takdir bersama” lanjutnya mengangkat wajah menerawang ke sebrang sungai tanpa melihat Ratna yang sedari tadi menoleh menyipitkan mata serta mengerutkan dahi kearahnya.
“kau yakin?” dengan semakin menyipitkan matanya.
Ia tersenyum memandang lekat wajah Ratna “tentu saja”. Terlihat  ketulusan, Ratna bisa merasakan itu. Sejenak mata mereka bertemu, menyadari itu Ratna mengalihkan pandangannya kedepan dan terdiam.
“gimana?”. Andi mencondongkan mukanya mendekati Ratna.
Ratna sedikit menjauh, “gimana apanya?”
“hah, mau gak memiliki takdir bersamaku?”.
Ratna diam hanya tersenyum.
“gimana?”. Andi menggerakkan kakinya tak sabar mendengar jawaban Ratna.
“maaf, tapi ibuku mengajariku untuk tidak mudah percaya pada orang yang baru ku kenal”.
“ya, ibumu memang benar, dan aku takkan menjadi orang asing bagimu, akan ku buktikan dan aku takkan menyerah, Ratna”. Ia tersenyum dan berlalu meninggalkan Ratna.
Ratna bertanya pada dirinya sendiri apakah yang sudah Ia lakukan itu benar?, Ia mencoba menyakinkan dirinya sendiri ya aku memang benar.. tapi Ia juga tak bisa berbohong pada dirinya sendiri bahwa Ia mempercayai semua perkataan Andi hanya dengan melihat matanya, Ia merasakannya, merasakan ketulusan dalam mata itu.
***
Sehari setelah pendidikan usai Ratna memperbanyak istirahatnya, Ia merasa kepalanya sangat berat. Ia juga merasakan linu di persendiannya. Sambil mencoba tidur merebahkan badannya di atas kasurnya yang nyaman.
kriiingg…kringgg 087763654xxx calling…
“halo?” Ratna meraih ponselnya yang terletak di meja samping tempat tidurnya.
“halo, Ratna?” suara lelaki bertanya.
“iya, siapa?” kini giliran Ratna yang bertanya.
“ini bang Andi”.  Ia menjawab.
“iya, kenapa bang?”
begini, biasanya kami para senior setelah acara pendidikan usai, kami akan menghubungi para anggota untuk meminta maaf  atas kesalahan-kesalahan yang kami lakukan ketika acara kemarin berlangsung”
“oh, gak apa-apa kok bang”. Jawab Ratna santai.
“tapi soal pembicaraan di dekat sungai itu bukan rekayasa dan aku tidak akan meminta maaf untuk hal itu”. Suara Andi terdengar tegas.
“karna kau gak menganggap itu kesalahan bukan?”. Ratna berkata spontan.
“tentu saja, aku serius mengenai itu dan aku akan bertanya lagi” Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkannya “Ratna Khaila Nasution, maukah kau menjadi bagian dari takdirku?” suaranya terdengar kian begitu tegas.
“hmm, sebentar, bukankah organisasi kita punya aturan kalo diantara para anggota maupun senior tidak boleh ada hubungan special?” Ratna berkata padanya.
“iya. Tapi tidak untuk kita, aku serius dan karena keseriusanku ini aku rela melanggar semua aturan itu.” Jawabnya tanpa terdengar ragu.
“tapi itu salah”. Suara Ratna melemah.
“apa yang salah untuk orang yang di anugrahi perasaan cinta?, apa dengan ini kau melarangku mencintaimu?”.
Ratna terdiam, tak mampu berkata. Ia tahu bahwa Ia tak memiliki hak untuk menghakimi perasaan orang lain, walau perasaan itu ialah rasa cinta seseorang untuknya sendiri.
“jawablah Ratna”. Suara Andi terdengar lembut.
Ratna mengenggam erat ponselnya, terlihat jari tanganya memutih mengisyaratkan kekuatan genggamannya. Bibirnya bergetar tanpa suara, kepalanya penuh dengan semua pemikiran tentang pertanyaan Andi, Ia tahu Andi bukanlah sosok yang mudah menyerah walaupun Ia tolak berkali-kali, disisi lain hatinya percaya dan merasakan ketulusan Andi, Ia tak ingin menyia-nyiakan sosok yang menyayangi dirinya karna Ia tahu rasanya di acuhkan, tetapi juga Ia ragu mempercayai hatinya sendiri, apakah hatinya berkata benar dan baik untuknya. Begitu banyak pertimbangan di kepalanya.
“bang Andi”. Ratna menghela nafasnya, terdengar begitu berat.
“iya?”. Suara Andi masih terdengar lembut.
“aku ingin kau tetap meyakinkan hatiku kalau aku benar, pilihanku memang benar untuk memilihmu, kau bisa?”. Ratna terdengar mengatur nafasnya.
Sunyi, Andi diam sejenak. Kemudian,
“ya, yah! Aku berjanji, aku berjanji Ratna!”. Suara Andi terdengar begitu riang.
Ratna menutup ponselnya perlahan, menggenggam dan mendekapnya, Ia menutup mata berusaha mengatur nafasnya seakan menyakinkan dirinya sendiri “yah, aku benar, aku akan mencoba mencintainya”.
***
Seminggu berlalu setelah Ia menerima pernyataan Andi, Andi menghilang tanpa kabar seakan di telan bumi. Ratna bingung bercampur kesal dan khawatir sesuatu terjadi pada Andi “apa yang dilakukan orang itu? Apa dia hanya mempermainkan aku?” angannya. Ia menyalakan ponselnya mencari nama Andi di phone book poselnya dan segera menekan tanda panggil tetapi yang terdengar hanyalah voice mail, nomornya tak aktif. “apa kau mengganti nomor tanpa membritauku? Setidaknya kau memberi kabar, aku kan pacarmu Andi” Ratna berbicara pada poselnya sendiri kesal. Belum selesai Ia menggerutu mengomeli ponselnya yang tidak bersalah, Ia di kejutkan lagi dengan ponselnya yang bergetar.
Bip...bip...bip
1 message received
From: +6287863777xxx
temui aku sore ini di halte depan sekolah. Your boy friend Andi”
Ratna melototi ponselnya geram. “kau kira aku akan datang hah?! Tidak akan!” Ia berbicara pada ponselnya lagi.
Bip..bip..bip
1 message received
From: +6287863777xxx
“aku akan menunggumu, jadi datanglah dan akan ku jelaskan semuanya”
Ratna memandangi ponselnya, Ia menggigit bibirnya berusaha berfikir jernih dan menghilangkan amarahnya. Ia tak habis fikir seorang Andi bisa membuatnya sampai merasa bingung sekaigus khawatir seperti sekarang ini.
Reply to: +6287863777xxx
“baiklah aku akan datang”
***
Ratna berjalan keluar dari kamar kosnya menuju sekolah yang berjarak tak terlalu jauh dari tempatnya menetap. Ia berjalan perlahan, mata besarnya terlihat sayu seperti biasa selalu nampak indah. Ia sudah bisa melihat sekolahnya yang berdiri megah berlantai dua dengan tembok bercat hijau muda dan kuning, Ia mendongak ke atas melihat setiap jendela di lantai dua memantulkan cahaya mentari sore, terlihat begitu cemerlang. Dari kejauhan Ia bisa melihat kekasihnya Andi sedang berdiri melambaikan tangan untuknya di depan halte dan Ia bersama seseorang. “sepertinya aku kenal?” angannya. Ia mempercepat langkahnya tak sabar ingin memarahi juga mendengar penjelasan Andi.
Andi tersenyum lega. Ia mengenakan jaket parasut dengan celana pendek berwarna krem dan sepatu kets untuk naik gunung, tak lupa Ia mengikat kepalanya menggunakan sapu tangan slayer yang di bentuk segitiga. Disampingnya terdapat tas ransel besar yang disandarkan pada tempat duduk halte. “akhirnya kau datang juga”.
“Ratna?”. Lelaki yang bersama Andi nampak terkejut.
“julian? Kok kalian bisa bersama?” tanya Ratna memandang keduanya.
“aku belum bilang yah? Hahha maaf, Julian ini keponakanku”. Andi memegang bahu Julian setengah memeluk.
“gak, aku yang terambat bilang”. Julian menatap Ratna dengan sorot mata melemah.
“oya apa kalian satu kelas?”. Tanya Andi.
“kapan kalian jadian?”. Julian balik bertanya tak sabaran.
“seminggu yang lalu, ya kan Na? Maaf ya om baru cerita sekarang, lagian kita jarang ketemu kan.” Andi tersenyum menatap Ratna.
“yah, om sibuk kuliah sih” Julian terlihat memaksakan tawanya “oya aku hampir lupa ada urusan yang harus ku selesaikan sekarang, jadi sepertinya aku harus pergi”. Julian mengeluarkan konci motor dari saku celananya.
“kenapa mendadak begitu? Duduklah sebentar” Andi seakan mempersilahkan.
“lain kali aja, aku buru-buru, duluan yah”. Julian langsung menaiki motornya dan melesat pergi.
“dia teman sekelasmu?” tanya Andi pada Ratna.
Ratna mengangguk sambil berkata “dia temanku” matanya kearah Julian pergi, Ia merasa Julian terlihat berbeda tidak seperti biasa.
***
Julian melaju motornya kencang, Ia tak nyakin kemana tujuannya pergi, Ia membiarkan motornya mengendalikannya, mata beningnya membesar seakan tak mampu menahan gumpalan air dimatanya. Kepalanya terasa penuh memikirkan kejadian yang baru Ia lalui. Matanya semakin memerah dan terjangan angin yang menerpa mukanya akhirnya mampu menerobos bendungan air dimatanya. Sesuatu jatuh dipipinya, tersadar Ia langsung mengusapnya dengan lengan kirinya. Motornya semakin melaju kencang Ia tak tau kapan dan dimana Ia akan berhenti, yang Ia tahu hanya melarikan diri dari perasaannya.
***
“apa! Kau menghilang selama seminggu hanya untuk mengetesku?”. Ratna menyipitkan matanya seakan menginginkan penjelasan lebih dari pacarnya.
“iya sayang maafkan aku, ku kira kau tak akan peduli padaku”
“dengar, kau sudah menjadi pacarku, aku punya hak untuk tau keadaan dan keberadaanmu!”
Julian tersenyum lega, Ia bahagia mendengar kemarahan Ratna “terimakasih, ”
“untuk apa?”
“untuk marah padaku, bukankah itu artinya kau khawatir padaku?”
“ya, memang aku khawatir padamu,” Ratna terlihat gelagapan.
Julian kembali tersenyum “berarti kau sayang padaku,” tawa Julian pecah diikuti wajah Ratna yang memerah. “baiklah, aku janji tak akan seperti itu lagi, mau memaafkan aku?” Julian bertanya.
Ratna mengangguk malu “tapi awas kalau kau ulangi lagi.”
“nih.” Andi mengeuarkan beberapa tangkai bunga mungil yang diikat menjadi satu, bunganya memiliki mahkota kecil dengan warna putih pucat, daun yang kecil hijau dan tangkai yang terlihat rapuh tetapi begitu kuat.
Senyum Ratna mengembang “edelweis!” Ia bersorak girang “kapan kau naik?”
“hey aku baru pulang dan langsung menemuimu.”
Ratna tak teralu memperhatikan jawaban Andi, Ia asik memperhatikan edelweis yang Ia pegang. “kenapa sedikit sekali?”
Andi mengetahui Ratna mengabaikan jawabannya “ iya nanti ku bawakan lagi”. Jawabnya seadanya. Ratna hanya tersenyum perhatiannya hanya terfokus pada edelweis tersebut.
Ratna memandang Andi “terimakasih” Ia tersenyum, senyum yang selalu mampu meluluhkan hati Andi. Andi membalasnya.
***
Di kelasnya setelah jam pelajaran terakhir selesai, Ratna nampak riang seperti biasa selalu tersenyum dan menyapa teman-temannya yang sedang berkemas merapikan alat tulis mereka untuk segera pulang. Matanya melihat sekeiling seakan sedang mencari sesuatu. “disana rupanya” senyumnya mengembang melihat Julian yang duduk di bangku paling belakang menghadap keluar jendela. Tatapannya kosong kearah lapangan basket yang berada tepat di depan kelas.
Ratna berusaha merunduk mengendap-endap mencoba untuk mengagetkan Julian, setelah mendapatkan posisi yang tepat, Ia segera mengambil ancang-ancang membuat gerakaan tiba-tiba. “hey!, mikirin apa sih?”
“Ratna berhenti melakukan itu!”
“oke sorry” Ratna kembali tersenyum menarik bangku didepannya lalu duduk disamping Julian.
Melihat Ratna tersenyum itu Julian hampir mengurungkan niatnya untuk berbicara serius pada Ratna, Ia menghela nafas panjang menyakinkan dirinya bahwa Ia memang harus melakukan ini.” Ratna...”
“iya?”
“Aku rasa kita tak perlu bertemu lagi, ada baiknya kita membuat jarak satu sama lain.”
“kenapa? kau sedang marah? Sini aku hibur,” Ratna meraih tangan Julian.
Julian menarik paksa tangannya “aku serius!”
Ratna diam, sikap Julian cukup mengagetkannya.
Julian tersadar bahwa Ia telah berbuat kasar pada Ratna, Ia segera menyesali perbuatannya “maafkan aku Ratna, aku tak bermaksud menyakitimu,” Julian diam menghela nafas panjang dan berat seakan berfikir dari mana Ia akan memulai pembicaraannya dengan Ratna.
Ratna membuka suara “apa ini karena hal kemarin, maaf aku tak memberitaumu tentang hubunganku dengan Andi,”
“aku marah, aku benci pada diriku sendiri Ratna...,” Ia menghentikan perkatanya.
“maksudmu?”
Julian memalingkan muka kearah jendela sekali lagi mengumpukan keberaniannya. “aku sayang padamu,,”
Ratna terlihat kebingungan dan gugup “apa? tapi aku... Julian aku kira kita berteman baik,”
“kau memang tak pernah sadar Ratna... kau tak pernah mengerti kenapa aku selalu disampingmu, bersamamu.. kau tak pernah benar-benar menganggapku ada, aku memang tak memiliki arti bagimu...”
“Julian! Kau sahabatku.”
Dadanya terasa sesak seakan sedang menahan berton-ton beban didalamnya “ya sahabat, seorang sahabat yang selama ini memendam cinta untukmu. Yang selalu menatapmu dari kejauhan, ada perasaan bahagia di hatiku.. yah, aku bahagia, bahkan sangat, walau hanya dengan melihat tawamu, caramu bicara ataupun ketika marah padaku...”
Mata Ratna terasa penuh, Ia berkaca-kaca “Julian, maafkan aku”
Julian bangkit, berdiri menatap Ratna. “harusnya kita memang tak pernah bertemu, Ratna” Ia meraih tasnya, menyeret langkahnya berjalan pergi menjauh meninggalkan Ratna dan bersama dengan itu Ia mencoba meninggalkan semua perasaanya , disana.
Ratna tak henti memandang punggung Julian yang pergi meninggalkannya seakan tak ada lagi hari setelah itu, bagai pertemuan terakhir, Ia masih tak bisa menahan air di matanya yang akhirnya menyeruak keluar. Ia menutup mulutnya tidak membiarkan Isak tangisnya keluar sedang tangan yang lainya mencengkram bagian sesak di ulu hatinya.
***
Hah, sepi...
Hari ini tak seperti biasa, rasanya terlalu sunyi. Walaupun keadaan sebenarnya kelas ini penuh hiruk pikuk para siswa dijam istirahat. Terbayang bagaimana siswa ini lari berkejaran di dalam kelas, saling melempar dengan gundukan kertas dan ada juga yang hanya mengobrol biasa tetapi ketika obrolah telah sampai pada klimaks, tawa nyaring merekapun akan terdengar seisi kelas. Ratna sendiri tak melakukan  sesuatupun yang bermakna hanya saja Ia sedang menumpukan kedua siku di meja dan menopang dagunya. Sesekali Ia melirik kearah Julian yang duduk paling belakang menjauh tadi tempatnya semula. Julian tak melihatnya sedikitpun Ia seperti acuh melipat tangan di dadanya dan menerawang keluar jendela. “Huh!” Ratna mendengus berharap bisa mengeluarkan sedikit beban di hatinya. Tiba-tiba Julian bergerak mengubah posisinya, Ratna segera memalingkan dirinya kedepan, ke posisi semula. Julian berjalan menatap lurus kedepan tanpa berkata, secarik kertas putih terlipat rapi dalam genggamannya. Ia melangkah melewati satu persatu meja dan korsi di depannya, meja ke empat, ke tiga dan berhenti sejenak di meja kedua, tepat di samping Ratna. Tanpa bersuara Ia mendorong secarik kertas itu di atas meja Ratna. Ratna memperhatikan sutat tersebut dan mengangkat wajahnya untuk melihat Julian. Terlihat dingin, wajah Julian tanpa expresi dan tanpa menatapnya kemudian pergi setelah meninggalkan surat tersebut di atas meja Ratna.
Segera Ratna meraih benda yang ada di hadapannya itu lalu menggenggamnya erat. Ia menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Apa isinya? Hati-hati Ia membukanya, membuka lipatan demi lipatan sehingga terpampang beberapa baris tulisan.
Ratna...
Ratna, maafkan segala perkataanku, aku tak berhak menyalahkanmu,,,
Karena semua ini memang bukan kesalahanmu..
Aku juga sama sekali tak memiliki alasan untuk marah ataupun membencimu.. kau bukanlah sosok yang pantas untuk dibenci.
Kau adalah seseorang yang berhak menerima cinta dari seorang yang lebih baik, bahkan ebih dariku...
Berbahagialah, dan tunjukan padaku kalau dia memang terbaik untukmu..
Dan tentang persahabatan kita, aku rasa tak berubah, hanya saja kau dan aku akan menjadi orang yang hanya saling mengenal saja,,, ini bukan perpisahan Ratna percayalah, aku tak kan pergi... hanya,, tolong biarkan aku terbiasa tanpa dirimu dan belajar untuk hidup seperti ketika aku belum mengenalmu ..
Aku menyayangimu ...

Julian.
Dengan keras, Ia berusaha keras menahan untuk tidak membiarkan air matanya jatuh. Ia mengangkat kepalanya, berusaha membenamkan kembali bendungan air mata yang rasaya ingin menyeruak keluar. Jangan disini Ratna, kau bisa menahannya.. Ia mengapal tangannya berusaha keras mengontrol emosinya. Seulas senyum menghiasi wajahnya, ada perasaan lega di hatinya, mengetahui Julian tak membencinya, hal yang Ia takutkan.