Selasa, 24 Februari 2015

belum ada judulnya,, iseng nyalurin hobi

~~
Aku berdiri didepan sebuah bangunan basar yang belum terlalu tua tetapi masih terlihat menawan, gerbang yang menjulang tinggi memancarkan peringatan bahwa siapapun tak akan bisa lalu langan sembarangan melewatinya. ku lihat seorang lelaki tua yang umurnya mungkin sudah 50-an membuka gerbang ini, seketika bunyi berderitpun terdengar agak mencekam bagai membuka gerbang rumah sarang hantu di film-film horror. Ia menoleh ke arahku dengan sedikit memaksakan untuk tersenyum. Melihat wajahnya yang penuh keriput karena jaman atau mungkin juga karena keadaan, menyiratkan raut kesederhanaan namun terlihat damai. Ia adalah security di institute pendidikan ini.
Sekolah baru ini sama sekali tak membuatku tertarik.  Dalam setahun  ini sudah dua daerah, dua rumah dan dua sekolah yang aku tinggalkan, yah samuanya karna ayah. Keinginannya yang ingin membangun usaha lagi di daerah ini, usahanya cake shop nya di daerah-daerah terdahulu bangkrut, ada yang di sebabkan kebakaran dan yang terakhir ialah karena sebuah truk yang remnya blong menabrak toko ayah, tetapi satu hal yang sangat ku sukai dari ayah ialah pantang mundur dan tak pernah berputus asa. Ia selalu berpikir positif  dan hal-hal yang terjadi padanya dianggapnya hanya kurang beruntung saja.
Hari ini ayah hanya sekedar mengenalkan sekolah ke-tiga ini untukku. Besar dan megah adalah kesan pertama ku untuk tempat ini, tapi entah mengapa enggan sekali rasanya bersekolah di sini.
”pasti deh anak-anak di sini pada sombong”. Anganku ketika melihat mereka acuh tak acuh padaku.
Mereka memberi pandangan aneh padaku, padahal dandananku tidak terlalu kuno dengan potongan rambut bob pendek sebahu, aku pikir suka potongan rambut ini menurutku rambut panjang itu repot dan memerlukan lumayan banyak waktu untuk merawatnya.
“Vira kamu tunggu disini ya sayang.” Kata  ayah membuyarkan lamunanku.
“ok, tapi jangan lama ya yah, aku gak betah disini.” Ucapku. Ayah hanya tersenyum sambil membelai rambutku kemudian berlalu ke ruangan kepala sekolah. Ruangan ini tepat berada di depan lapangan olah raga. Di sekitarnya terdapat beberapa pot bunga cantik untuk memperindah tempat ini.
“cukup nyaman juga.” Anganku. Bangunan sekolah ini menggunakan tema nature tak salah banyak pohon-pohon rindang yang teduh disini.
Aku duduk di sebuah kursi kecil di depan ruangan kepala sekolah. Sambil melihat sekeliling dan membayangkan bahwa besok aku akan di sekolah ini tanpa ayah tanpa pelindungku ohh. Sudah terbayang aku akan di bully oleh anak-anak sombong ini, seperti kejadian disekolahku dulu. Aku memang tak pandai bergaul dengan orang asing, aku lebih suka bergaul di dunia maya. Aku juga lebih sering menyendiri sambil membaca novel atau sekedar mendengarkan music. Mungkin karena itu mereka menjauhiku dan menganggapku freaks atau apalah aku tak peduli.
Di sekolah yang lama aku tak pernah benar-benar mempunyai teman sampai ayah menyuruhku pindah sekolah lagi. Oh my God, plese help me…
Bip bip bip , oh satu pesan.
From: BadBoy
“hey alone girl, gimana sekolah baru kamu?”.
senang rasanya melihat pesan ini. Dia ialah seseorang yang bisa membuatku merasa benar-benar memiliki teman, walau nama aslinya saja aku tak tau, kami saling kenal melalui jejaring social, dia tak pernah memposting fotonya dan selalu menggunakan nick name bad boy, yaah karna itulah aku memanggilnya seperti itu juga. Sedangkan aku memakai nick alone girl, juga tak pernah benar-benar memposting fotoku, aku lebih suka memakai kartun atau emoticon sebagai profilku. Ohya  apa bedanya kami hahhaa.
Reply: “aku takut.”
From: bad boy
“takut? disana ada sadako yah ?”
Reply: “ohhoo disini gak ada sumur tauuuk, aku takut di bully lagi.”
From: bad boy
“oyyaa, heyy sekarang uda gak jaman saling membuli, kamu kan uda kelas 2 SMA, masak takut sih, jangan cemen donk, semangat alone girl, smangat yahh ^-*.”
Reply: “ hahha iya thankz… “ blum selesai aku mengetik balasan untuk bad boy, tiba-tiba,
Ouuhh!! Aku terjatuh Kepalaku sakit.” Siapa sih yang ngelempar bola sembarangan, gak sopan!.”
“sorry, sorry are you ok?”. Seorang cowok tegap berdiri di hadapanku, senyumannya manis, begitu tampan dengan tatapan mata  bersinar, benar-benar seperti malaikat. Oh God …
Aku terdiam. Bodoh!
“hey,, kamu gak apa-apa?.” Sambil membantuku berdiri.
“aa eemm.” Sambil mengangguk tak bisa berkata-kata.
“hmm, kalo gitu aku kesana dulu ya.” Dia berlalu, dia berlalu. Aku memandangnya berjalan menjauhiku dan lanjut bermain basket bersama anak-anak yang lain. Aarrggh kebodohan pertamaku di sekolah ini. Bodoh benar-benar bodoh sekali.
“… iya terimakasih.” Terdengar samar suara ayahku dan di susul wujudnya menampakan diri dari balik pintu.
“nah sayang, besok kamu bisa bersekolah disini, kamu senangkan?”
“hmm,,.” aku mengangguk.
***
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiingggggggggggggg
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiinngggggg “oh tukang ice cream yah.”
 Karena terlalu mengantuk aku melanjutkan tidur, tapi, tunggu tukang ice cream???.
 “Deg” Oh my God!!!. “Ayaaaahhhhh!”
Aku merengut dengan tampang kusut sambil menaiki motor butut ayah yang usianya mungkin lebih tua dariku, katanya sih motor ini sejarah saksi hidupnya makanya kalau motor ini ditawar berapapun tak akan ia jual. Ayah duduk di depan memboncengiku sambil menggerutu tak karuan, intinya kalau dia sedang ngomel ya diam saja. Aku play teenage dreamnya katty pery  sambil menaikan volume music yang ku dengar melalui headset yang selalu ku bawa dan jadi senjata rahasiaku dikala terkena amarah ayah.
Yah semua ini salah si bad boy karena semalaman aku chatting dengan dia. Terlambat bangun dan terkena omelan ayah. Awas dia nanti aku marahi juga, lah kesalahannya apa? Hahha
“nih uda sampai, Besok jangan telat lagi, ayah juga telat buka toko kan!”
“iihhh aku juga gak sempet sarapan ayaaahh.!”
“makanya besok-besok bangunya jangan kesiangan,sudah masuk sana.”
“yaudah,,.” Jawabku kesal sambil menyalami ayah.
Aku melangkahkan kakiku memasuki gerbang sekolah, sudah terbayang tak akan ada anak yang mau berteman denganku.”hhah” aku mendengus.
 “oya aku kan belum tau kelasku dimana, bodoh bodooohh.” Sambil menepuk-nepuk kepalaku.
Ttiiiiiiiiiiiiiiiiiittt….!!! Aku terkejuta dan berbalik, ternyata ada motor besar di belakangku dengan seorang cowok yang memakai jaket dan helm hitam. Aku melangkah ke pinggir untuk memberi jalan, kulihat ia maju perlahan dan berhenti di hadapanku, dengan membuka sedikit kaca helmnya.
 “bodoh!.” Apa? Apa aku tak salah dengar, dia berkata bodoh?. Dia langsung memarkir motornya. Sedangkan aku masih terdiam tak percaya. Apakah kebodohanku begitu jelas terlihat dimatanya?.
 “teeeettttttt…” “oh bel masuk.” Aku berjalan di koridor kelas sambil melihat kasana kemari kebingungan  mencari dimana kelasku. Tiba-tiba,
“hey kamu anak baru? Yang ketemu kemarin kan?”. Oh tuhan dia lagi, aku menatap mata indahya dan hanya terdiam.
“hey,kok bengong? mau kubantu nyari kelas?.” Sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan mukaku.
 “oh hmm apa?”. Bodoh kenapa aku berkata seperti itu, harusnya aku jawab iya kamu kan yang ngelempar bola kamaren sampai ngenain kepalaku itu kan. oh “tidak tidak”  sambil menggelengkan kepalaku.
 “oh, kayaknya kamu gak perlu bantuanku deh, kalo gitu aku masuk duluan ya.” Katanya sedikit melambaikankan tangan dan langsung berjalan pergi menjuhiku . bukan, bukan seperti itu, kembali kumohon kembalilah.
”kenapa,kenapaaa mau ngomong aja rasanya sulit sekali.” Kataku dengan expresi dramatis.
***
“nah ini kelasmu, lain kali jangan malu bertanya yah.” Suara indah ibu kepala sekolah. Aku menyesal sudah berburuk sangka padanya. Karena tampangnya yang agak cruel aku mengira dia itu killer, penyiksa dan tidak berperikesiswaan, hah emang ada?.
“Ayok perkenalkan diri kamu.” suara kepala sekolah terdengar lagi.
 oh aku tak sadar beberapa saat menatap kepala sekolah. sedangkan di depanku telah terhampar pandangan aneh para siswa menatapku, dan sekarang aku ialah pusat perhatian. Canggung sekali rasanya tapi  toh aku kan sudah beberapakali pindah dan memperkenalkan diriku di depan kelas, kali ini aku pasti bisa. aku mencoba tenang dan bersikap wajar. akhirnya,,
”nnnaaammaa sayyy..” belum selesai aku menyebutkan namaku.
 “hahha dia gagap temen-temen”.celoleh salah satu siswa gemuk yang duduk di pojok belakang kelas, tawa satu kelaspun tak terhindarkan. aku tertunduk tak berani menatap mereka, rasanya inginku berlari berlari menyebrangi jembatan menuju valhala ... jhotun…… diamana thor berada dan ku pinjam palunya untuk membinasakan mereka satu persatu, terutama si gemuk itu aku punya perlakuan khusus padanya,akan ku ikat tangan dan kakinya di sebuah kayu kemudian ku panggang sambil ku putar-putar ia, persis daging kambing yang sering kami panggang pada saat berkemah. Tapi apa daya imajinasiku terlalu liar, Aku malu,marah tapi pada diriku sendiri,kenapa aku tak bisa untuk sekedar bicara menyebutkan namaku? padahal aku sudah sangat sering berlatih memperkenalkan diri di depan cermin kamarku, tapi kenapa sekarang aku tak bisa.
“sudah diam anak-anak, ini NaVira Anastasya dan dia akan jadi teman sekelas kalian, tolong bantu dia belajar dan menyesuaikan diri, nah Vira kamu duduk di bangku kosong depan Egi ya.” Aku menganguk berlajan menuju bangku ke dua dari belakang,.
samar-samar kudenger salah satu siswi berbisik pada teman sebangkunya “bantu menyesuaikan diri? Emang dia dari planet mana? xixixixi” Mereka tertawa cekikikan. Aku hanya bisa tertunduk berjalan, rasanya panjang sekali perjalanan menuju tempat dudukku, padahal tempatnya cuma diurutan ke tiga dari tempat duduk terdepan. Aku mempercepat langkahku dan akhirnya sampai juga. Aku duduk dan mengeluarkan beberapa alat tulis, tapi tunggu sekilas aku seperti mengenali sosok di belakang tempat dudukku tapi siapa?.
 “bodoh.” Suara itu terdengar lagi. Oh dia, aku ingat, dia orang yang memakai motor besar tadi.”huhhh” apalagi cobaanmu Tuhan. aku mendengus kesal.
Sepanjang pelajaran aku benar-benar tak konsentrasi dengan baik, hayalanku melayang memikirkan hal yang membuatku malu mungkin untuk selamanya, kesan pertama saja aku sudah di cap cewek gagap dari planet entah berantah, selanjutnya apalagi, tak bisa ku bayangkan.
Sedangkan sepertinya siswa di belakangku juga tak memperhatikan pelajaran dia seperti sibuk sendiri, oh ya si cowok sombong yang tadi disebut namanya, tapi siapa ya? aku lupa gara-gara tragedy gagap tadi. Selang beberapa lama kemudian. teeeeeeeeeeeeettt...!!!Yes, akhirnya bel kebebasanpun datang, aku senang sekali mendengarnya, suara itu bagai bunyi yang paling merdu yang pernah ku dengar karna itu tanda berakhirnya peneritaanku di kelas ini. Begitu bel berbunyi para siswa langsung berbondong keluar tanpa memperhatikan keberadaan guru yang masih berada di kelas. Tapi aku masih terduduk di bangku ini, kalaupun harus keluar, aku harus kemana? Aku belum tau benar sekolah ini, kantinya saja aku tak tau dimana.
Kruuucckkk kruucckk, aku memegang perutku berharap rasa lapar ini hilang. “aku harus gimana? Lapeerr” anganku.
Tiba-tiba sebuah tangan menarikku keluar dari tempat dudukku.
“ayok keluar.” Suaranya datar. Ternyata si cowok sombong tadi, dan ia juga masih berada di kelas.
tanpa mendengar sepatah kata dariku dia menarik tanganku keluar kelas.
“kita mau kemana?”. Tanyaku polos.
Dia tak menjawab hanya tetap berjalan sambil menarik tanganku.
Dia membawaku ke sebuah bangku taman di bawah pohon rindang yang berada di dekat perpustakaan sepertinya karena sekilas terlihat banyak rak-rak buku.
“tunggu disini.” Dengan suara sok cool dengan tampang datarnya.
Kruuckk kruuuckk aduh kompromi sedikit dong cacing-cacing perutku. Beberapa menit kemudian.
“nih,makan.” Sambil menyodorkan sebuah burger dan air mineral.
“aah eemm, aku gak lap…” krucckk krucckk aduuuhhh
“hmm” dia tersenyum, sambil duduk disampingku.
 oh tak kusangka, aku kira dia tak bisa tersenyum dengan tampang datarnya yang sok cool itu. kupikir Sebenarnya dia cukup tampan dengan senyum semanis itu.
” hahh jangan! Gak boleh gak boleh, dia kan uda ngatain kamu bodoh Vira, jangan jangan.” bisikku pada dariku sendiri.
“hahha ternyata memang benar bodoh, cepat makan.” Ejeknya padaku.
Aku merengut kesal, siapa dia berani sekali menghinaku hahh, aku melotot ke arahnya.
“aku gak butuh!!” jawabku kesal.
“oh, ternyata gak gagap juga, syukur deh.” Dengan masih tertawa seakan tak berdosa. Kali ini Ia benar-benar menguji kesabaranku. Takkan ku biarkan diriku terhina seperti ini terus menerus, setidak nya aku harus bertindak melakukan perlawanan walaupun aku tak peduli tapi aku tetap tak mau di remehkan seperti ini.
“iish belum cukup puas kalian menghinaku dari tadi hah!”. Aku mulai naik darah.
Tawanya reda dan terdiam sejenak seperti menerawang ke angkasa.

“maaf.” Tanpa melihatku.”makanlah”  lanjutnya dan langsung berdiri beranjak pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar