Selasa, 30 Desember 2014

MY EDELWEIS~ chapter 1(revisi)



Sebagian besar kejadian dari tulisan ini ialah imajinasi penulis semata dan telah mendapatkan persetujuan dari pihak-pihak terkait. Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung atau menyindir pihak-pihak atau organisai tertentu.
Terimakasih J
~~~
My Edelweis
CAPTER 1
Selasa, 26 Agustus 2014
Dear edelweiss sayangku…
Aku tak pernah pergi meninggalkanmu, aku ada disini, di hatimu, di angan dan jiwamu. Jangan pernah merasa sendiri, aku selalu bersamamu. Tetaplah hidup, karna itu yang ku inginkan, tetaplah hidup untukku.. Hidup untuk angan dan cinta kita, hidup untuk membuktikan aku pernah ada, aku pernah ada bersamamu dan masih ada di hatimu.. jangan pernah menyerah dengan keadaan, jika suatu saat aku tak lagi disini, tak lagi bersamamu. Tutup matamu dan rasakan aku memelukmu…
Aku mencintaimu, edelweisku…
^^^
I can almost see it
That dream I am dreaming
But there's a voice inside my head saying
"You'll never reach it"
Every step I'm taking
Every move I make feels
Lost with no direction
My faith is shaking
But I gotta keep trying
Gotta keep my head held high
There's always gonna be another mountain
I'm always gonna wanna make it move
Always gonna be a uphill battle
Sometimes I'm gonna have to lose
Ain't about how fast I get there
Ain't about what's waiting on the other side
It's the climb…
Nada ini telah sangat akrap denganku,
 Di saat kerinduan ini memuncak
Dan menyisakan rasa sesak di dada.
Di saat air mata tak lagi terbendung,
Di saat khayal tak lagi mampu melukiskan wajahmu.
Hatiku sudah sangat lelah dengan harapan,
Harapan yang selalu membuatku kuat
Harapan yang selalu menghadirkanmu
Walau dalam mimpi.
Aku tau kau dekat,
Aku tau kau disini,
Mereka, mereka tak berhak menghakimi cinta kita,
Cinta kita teralu kuat untuk di uji
Dan ketahuilah, aku akan berada disini,
Menghidupkan angan dan citamu,
Karna aku milikmu, aku mencintaimu…
Edelweisku…
***
Senin , Juli , 2008
“hari pertama aku menginjakan kaki di sekolah ini, hah semoga hari ini menyenangkan dan aku bisa bertemu dengan dia, dia pangeran impianku”
         Cahaya mentari masih terlihat malu memancarkah kehangatanya, angin pagipun masih terasa menusuk sampai ke tulang, tapi Ia telah keluar dari kamar mungilnya dengan kostum khas kemeja lengan panjang putih, rok abu panjang lengkap dengan kaos putih dan sepatu hitam serta tak ketinggalan jilbab khas dengan warna dasar putih yang memiliki lis abu di pinggirnya. Semuanya baru. Ia terlihat menawan dengan baju SMA yang Ia kenakan. Dia hampir tak percaya dapat masuk di SMA yang tergolong favorit dan menjadi incarannya sejak lama dan menjadi incaran juga bagi sebagian besar anak di Lombok Timur. Juga karena disana ada seseorang yang telah merebut hatinya.
Dengan sorot mata indah, hidung mancung dan senyum menawannya selalu bisa membuat orang di sekitarnya menoleh memberi parhatian untuk wajah yang tak mudah bisa di lupakan itu. Pribadinya yang lugu, ramah dan mudah bergaul kian membuat dirinya sempurna. Tubuhnya mungil tapi itu bukanlah menjadi halangan untuk jiwanya yang pemberani, Ia selalu menyukai tantangan dan senang mencoba hal-hal baru, dia bukanlah remaja yang suka bersolek ria seperti kebanyakan remaja lainnya. Dialah Ratna Khaila Nasution. Ratna kami tercinta, Dan inilah sepenggal kisah hidupnya…
Hari itu ialah pembagian kelas baru, suara gaduh terdengar di seantero ruang kelas, ada yang sibuk mengatur meja dan kursi yang sebenarnya sudah rapi, ada yang sibuk berkenalan  bercanda ria dengan teman barunya, ada yang kebingungan mencari teman duduk dan banyak lagi kesibukan lainnya. Sementara Ia tetap duduk tenang tanpa memperhatikan hiruk pikuk yang terjadi, Ia beropang dagu dengan wajahnya terangkat seakan menerawang ke angkasa, entah apa yang ada di fikiranya.
“hey, kamu Ratna yah? Sini gabung sama genk kita”. dialah Nindia anak salah satu pengusaha kaya di Lombok timur. Memang di SMA ini ada beberapa, bukan tapi sebagian besar anak yang mengelompokan diri mereka, dengan membuat perkumpulan atau semacam genk-genk anak popular di sekolah, tapi itu bukan masalah.
Ratna tersenyum dan berjalan kearah mereka. Ia di sambut 4 anak perempuan cantik dan modis yang tentunya juga kaya. Ia bersalaman dan berbicara sambil tertawa bersama, tetapi sesaat kemudian Ratna pergi meninggalkan mereka menuju tempat duduknya semula.
“hah, ku rasa, aku tak cocok dengan mereka”. Ia berbalik tersenyum pada seorang anak laki-laki yang duduk di belakangnya. Anak itu terlihat kikuk sejenak memperbaiki cara duduknya lalu membalas senyuman Ratna seadanya.
“oya aku Ratna, kamu?”. Katanya dengan alis terangkat.
“hmm aku Julian”. Dia menjawab datar kemudian tersenyum lebar. ”aku kira kamu sama seperti mereka”. Lanjut Julian menunjuk kearah Nindira and the genk.
“siapa? Mereka?, hah sudah ku bilang kan aku tak cocok dengan mereka”. Ratna menjawab.
“syukurlah.” Dia menjawab santai.
“kenapa? Kau kenal mereka?” Tanya ratna antusias.
“tidak juga.” Julian menjawab seadanya.
“lalu?” Ratna makin penasaran.
“eh, guru datang tuh!”. Meunjuk kearah pintu dan memperbaiki cara duduknya lagi.
Ratna memanyunkan bibirnya menghadap ke depan merasa kesal dan tidak puas atas jawaban Julian, sementara Julian hanya memamerkan senyum puas di belakangnya. Sejak saat itu Ratna dan Julian bagaikan sahabat, mereka sering terlihat bersama untuk sekedar ngobrol atau makan.
Julian cowok dengan wajah oriental, kulitnya yang putih dengah hidung mancungnya menjadikan dirinya tak terlihat tampan melainkan manis, yah dia terlihat manis. Sifatnya yang cuek tapi juga tanpa sadar sering menunjukan perhatian pada orang-orang di dekatnya. Seperti ketika Ia menarik-narik jilbab Ratna menjadi berantakan dan setelah itu Ia akan memberinya bros indah untuk merapikan jilbabnya, ketika Ia mengatai Ratna tidak lebih pintar dari dirina tapi juga dengan senang hati Ia akan mengerjakan PR untuk Ratna…
***
Beberapa hari di sekolah ini, terkadang Ratna terkadang sering terlihat duduk menyendiri di bawah pohon pinang tak jauh dari aula sekolah, merenung atau menulis sesuatu, menulis tentang angannya bersama si Pangeran impiannya. Si Pangeran impian yang menjadi semangatnya. Kini Si Pangeran impian telah membuatnya kecewa, Si Pangeran impian yang kini mempunyai seseorang di sampingnya. Ia terlihat menahan air matanya. Tapi ya sudahlah, toh kisah ini bukan tentang Si Pangeran impian…
“hey, everything is fine?”. Julian tiba-tiba muncul dan duduk disamping Ratna.
“yah,  kuharap”. Ratna mendengus dengan nafas berat seakan mengeluarkan semua beban didadanya.
“hey, kenapa?” Julian menarik-narik lemah jilbab Ratna untuk menggodanya.
“hentikan! Nanti aku terlihat jelek tau”. Ratna kesal sambil memperbaiki jilbabnya yang di pin kebelakang.
“tenang saja, dengan jilbab berantakan seperti itu kau masih terlihat cantik kok”. Julian tertawa.
“aku tau”. Ratna menjulurkan lidah nya untuk membalas Julian.
Julian hanya tertawa melihat tingkah Ratna.
“oya soal ekskul, kau mau ambil apa?” Tanya Julian menghentikan tawanya.
“hmm, masih bingung sih”. Ratna menyentuh-nyentuhkan pulpen ke bibir tanda Ia sedang berfikir.
“gimana kalau kita ngambil ekskul pecinta alam”. Julian menaik turunkan alisnya menunggu persetujuan Ratna.
“hmm, gimana yaa”. Ratna pura-pura terlihat bingung memikirkan tawaran Julian.
“ayo dong, mumpung ada om ku yang jadi senior juga disana, jadi gak usah takut kalo kita bakalan disiksa senior lain”. Julian menghentakan kakinya seakan tak sabar dengan jawaban Ratna.
“hey, kau kira, kau saja yang punya keluarga? Hah”. Ratna ketus.
“lalu, gimana?”. Julian dengan expresi sedikit memelas.
“cukup menarik”. Ratna mengangguk-angguk masih berfikir.
“trus, trus”. Julian makin tak sabar.
“jangan lupa tuliskan namaku saat kau mendaftar”. Ratna seakan memberi perintah lalu bangkit dan berjalan meninggalkan Julian.
“siap bos!” Julian berkata setengah teriak dengan membuat tanda hormat menghadap Ratna.

***
02.30 PM Mentari siang, waktunya matahari dengan ganasnya bersinar, terik dan panas. Terasa bagaikan bumi sedang menghembuskan nafas dari naga yang sedang mengamuk. Ratna sendiri langsung beristirahat di dalam kamar mungilnya sepulang dari sekolah. Ia tertidur dengan setengah tersadar, merasakan kantuk, dengan kepala yang juga terasa berat, tetapi Ia belum berdamai dengan otaknya yang masih memikirkan hal yang sebernarnya tak perlu Ia fikirkan. 60 menit berlalu dan Ia masih berusaha tidur ketika,,
Kriing, kriing!!!!!!!
“halo?” dengan nada mengantuk.
“hey tukang tidur, kau jangan sampe amnesia”. Suara dari balik handphone membuatnya sedikit tersadar.
“iya, 04.30 ada pertemuan pencinta alam di sekolah”. Ratna menjawab dengan sedikit malas.
“baguslah, kau ingat”. Terdengar suara tawa.
“kau sudah ingatkan aku hampir 20 kali tadi di sekolah, gimana aku bisa lupa Julian!”. Ratna sedikit berteriak kesal. Kantuknya seketika menghilang.
“hahha, oke, oke, aku hanya takut kau lupa, gitu aja”. Julian menjawab dengan nada tidak merasa bersalah.
“baiklah, terimakasih Julian, kau sangat baik”. Ratna berkata dengan tidak iklas.
“sama-sama, kau beruntung berteman dengan aku, hahha sampai ketemu di sekolah bye”. Julian menutup telpon.
“apa! Hey kau dasar gilaaaaa!”. Ratna meneriaki handponnya lalu tersenyum.
Pada pertemuan awal pencinta alam Ratna hadir dan duduk diantara siswa-siswi yang juga baru mendaftar jadi anggota pencinta alam, yang di sekolah ini lebih dikenal dengan nama “PALAMAS”. Ratna dengan antusias mengikuti dan mendengarkan para senior dan perintis yang hadir dan memperkenalkan nama masing-masing. Pertemuan pertama langsung diisi dengan mengisi nama pada absen yang telah disediakan dan penjelasan mengenai teori-teori tentang pecinta alam.
Julian melambaikan tangannya dari belakang. Setelah pertemuan usai dan para anggota membubarkan diri, Ratna berjalan ketempat Julian dan berbicara padanya.
“heh, kenapa telat?” Tanya Ratna ketus.
“tadi ada urusan sedikit, kau udah kangen yah, aku tau pesonaku memang sulit dilupakan wanita.” Julian menjawab dengan santainya lalu berlari meninggalkan Ratna, sepertinya Ia sudah tau reaksi Ratna mendengar perkataannya tadi.
“apa! Kauuuu! Jangan kabur!” Ratna berlari mengejar Julian. sore itupun berlalu dengan begitu indah.
Di acara pertemuan-pertemuan PALAMAS selanjutnya Ratna tak pernah sadar akan  kehadiran sosok yang selalu tersenyum dan memperhatikannya. Sosok yang tak pernah Ratna pedulikan, sosok yang selalu menyamarkan dirinya sehingga tak disadari Ratna. Sosok yang tanpa Ia ketahui selalu berusaha menjaga dan melindunginya.
***
Di tempat lain Julian terlihat sedang duduk berbicara serius dengan seseorang lelaki yang terlihat berumur tak jauh berbeda dengan Julian sekitar 2 atau 3 tahun di atas Julian. Mereka terlihat begitu akrab.
“kenalnya, gak lama sih om, kemarin pas masuk SMA”. Julian berbicara pada lelaki tersebut.
“terus”. lelaki yang Julian sebut om bertanya.
“sepertinya aku suka”. Kata julian curhat.
“kenapa gak di tembak?” Tanya om Julian.
“hmm, lebih nyaman kayak gini deh”. Julian berkata setengah berfikir menerawang.
“gak berani? Atau takut di tolak?”. Tanya om Julian lagi.
“mungkin” Julian menggaruk kepalanya terlihat malu. “udah lupain perkataanku om”. Lanjut Julian tersenyum.
“kenapa harus malu, kamu udah besar dan kamu berhak mencintai seseorang walaupun Ia melarangmu sekalipu, ini soal hati, perasaan dan tidak ada yang salah mengenai itu, Tuhan telah menganugrahi cinta untuk manusia dan manusia gak akan salah mengungkapkan dan menunjukan rasa cintanya selama itu wajar dan benar. Kamu ngerti?” om julian menjelaskan.
“makasih om, aku sudah cukup bahagia bersamanya walau tanpa hubungan dan jika Ia hanya menganggapku seorang teman itu cukup bagiku”. Julian berkata dengan tenangnya.

Jumat, 26 Desember 2014

MY EDELWEIS



~My Edelweis~

Dedication for my best friends, Rian Hadi and Siti Puji Ratna wati.
God bless you,,, I love you, we love you,
Be brave, be strong, we’ll be here for you…
Lop yu,, Rizka & As3
~~~
Sebagian besar kejadian dari tulisan ini ialah imajinasi penulis semata.
~~~

Selasa, 26 Agustus 2014
Dear edelweiss sayangku…
Aku tak pernah pergi meninggalkanmu, aku ada disini, di hatimu, di angan dan jiwamu. Jangan pernah merasa sendiri, aku selalu bersamamu. Tetaplah hidup, karna itu yang ku inginkan, tetaplah hidup untukku.. Hidup untuk angan dan cinta kita, hidup untuk membuktikan aku pernah ada, aku pernah ada bersamamu dan masih ada di hatimu.. jangan pernah menyerah dengan keadaan, jika suatu saat aku tak lagi disini, tak lagi bersamamu. Tutup matamu dan rasakan aku memelukmu…
Aku mencintaimu, edelweisku…
^^^
I can almost see it
That dream I am dreaming
But there's a voice inside my head saying
"You'll never reach it"
Every step I'm taking
Every move I make feels
Lost with no direction
My faith is shaking
But I gotta keep trying
Gotta keep my head held high
There's always gonna be another mountain
I'm always gonna wanna make it move
Always gonna be a uphill battle
Sometimes I'm gonna have to lose
Ain't about how fast I get there
Ain't about what's waiting on the other side
It's the climb…
Nada ini telah sangat akrap denganku,
 Di saat kerinduan ini memuncak
Dan menyisakan rasa sesak di dada.
Di saat air mata tak lagi terbendung,
Di saat khayal tak lagi mampu melukiskan wajahmu.
Hatiku sudah sangat lelah dengan harapan,
Harapan yang selalu membuatku kuat
Harapan yang selalu menghadirkanmu
Walau dalam mimpi.
Aku tau kau dekat,
Aku tau kau disini,
Mereka, mereka tak berhak menghakimi cinta kita,
Cinta kita teralu kuat untuk di uji
Dan ketahuilah, aku akan berada disini,
Menghidupkan angan dan citamu,
Karna aku milikmu, aku mencintaimu…
Edelweisku…
***
Senin , Juli , 2008
“hari pertama aku menginjakan kaki di sekolah ini, hah semoga hari ini menyenangkan dan aku bisa bertemu dengan dia, dia pangeran impianku”
         Cahaya mentari masih terlihat malu memancarkah kehangatanya, angin pagipun masih terasa menusuk sampai ke tulang, tapi Ia telah keluar dari kamar mungilnya dengan kostum khas kemeja lengan panjang putih, rok abu panjang lengkap dengan kaos putih dan sepatu hitam serta tak ketinggalan jilbab khas dengan warna dasar putih yang memiliki lis abu di pinggirnya. Semuanya baru. Ia terlihat menawan dengan baju SMA yang Ia kenakan. Dia hampir tak percaya dapat masuk di SMA yang tergolong favorit dan menjadi incarannya sejak lama dan menjadi incaran juga bagi sebagian besar anak di Lombok Timur. Juga karena disana ada seseorang yang telah merebut hatinya.
Dengan sorot mata indah, hidung mancung dan senyum menawannya selalu bisa membuat orang di sekitarnya menoleh memberi parhatian untuk wajah yang tak mudah bisa di lupakan itu. Pribadinya yang lugu, ramah dan mudah bergaul kian membuat dirinya sempurna. Tubuhnya mungil tapi itu bukanlah menjadi halangan untuk jiwanya yang pemberani, Ia selalu menyukai tantangan dan senang mencoba hal-hal baru, dia bukanlah remaja yang suka bersolek ria seperti kebanyakan remaja lainnya. Dialah Ratna Khaila Nasution. Ratna kami tercinta, Dan inilah sepenggal kisah hidupnya…
Hari itu ialah pembagian kelas baru, suara gaduh terdengar di seantero ruang kelas, ada yang sibuk mengatur meja dan kursi yang sebenarnya sudah rapi, ada yang sibuk berkenalan  bercanda ria dengan teman barunya, ada yang kebingungan mencari teman duduk dan banyak lagi kesibukan lainnya. Sementara Ia tetap duduk tenang tanpa memperhatikan hiruk pikuk yang terjadi, Ia beropang dagu dengan wajahnya terangkat seakan menerawang ke angkasa, entah apa yang ada di fikiranya.
“hey, kamu Ratna yah? Sini gabung sama genk kita”. dialah Nindia anak salah satu pengusaha kaya di Lombok timur. Memang di SMA ini ada beberapa, bukan tapi sebagian besar anak yang mengelompokan diri mereka, dengan membuat perkumpulan atau semacam genk-genk anak popular di sekolah, tapi itu bukan masalah.
Ratna tersenyum dan berjalan kearah mereka. Ia di sambut 4 anak perempuan cantik dan modis yang tentunya juga kaya. Ia bersalaman dan berbicara sambil tertawa bersama, tetapi sesaat kemudian Ratna pergi meninggalkan mereka menuju tempat duduknya semula.
“hah, ku rasa, aku tak cocok dengan mereka”. Ia berbalik tersenyum pada anak perempuan yang duduk di belakangnya. Anak itu terlihat kikuk dan membalas senyuman Ratna seadanya.
“oya aku Ratna, kamu?”. Katanya dengan alis terangkat.
“hmm aku Yessa”. Anak itu terlihat malu. Dia memang pemalu, pendiam, tak modis dan pasti juga tak kaya seperti Nindia and the genk.
Yah tapi itulah Ratna, Ratna kami tercinta, tak pernah membedakan teman.
Beberapa hari di sekolah ini, terkadang Ia sering terlihat menyendiri merenung atau menulis sesuatu, menulis tentang angannya bersama si Pangeran impiannya. Si Pangeran impian yang menjadi semangatnya. Kini Si Pangeran impian telah membuatnya kecewa, Si Pangeran impian yang kini mempunyai seseorang di sampingnya. Ia terlihat menahan air matanya. Tapi ya sudahlah, toh kisah ini bukan tentang Si Pangeran impian…
***
Bagi murid baru di sekolah ini harus mengambil extra kulikuler sesuai dengan bakat dan minat mereka. Ada beberapa ekskul yang di sarankan diantaranya ialah rohis, PMR, pecinta alam (PA), basket, pramuka, karya ilmiah remaja dan manga club. Ratna sendiri mendaftarkan namanya di ekskul pencinta alam.
Pada pertemuan awal pencinta alam Ratna dengan antusias mengikuti dan mendengarkan para Pembina dan perintis yang hadir dan memperkenalkan nama masing-masing. Di acara pertemuan-pertemuan selanjutnya Ratna tak pernah sadar kehadiran sosok yang selalu tersenyum dan memperhatikannya. Sampai ketika acara pelantikan diadakan untuk meresmikan anggota baru pecinta alam. Para calon anggota baru satu persatu di jajal dan di tantang adrenalinenya dengan naik ke atas bukit, menyebrang sungai, berayun menggunakan dahan pohon, di ajarkan bagaiman bertahan hidup di hutan dengan memakan beberapa tumbuhan yang tidak beracun.
Ratna duduk diantara akar-akar pohon jati berusia ratusan tahun yang muncul ke permukaan, Ia memejamkan matanya menarik nafas dalam dan bersandar untuk mengumpulkan sisa tenaganya. Di tengah yang lain mengeluh kelelahan Ia sendiri tak pernah mengeluh seperti kebanyakan temannya yang lain. Disaat mereka beristirahat sambil mendengar arahan dari salah satu Pembina yang berbicara melalui microfon. Salah seorang perintis yang tengah berdiri terlihat tak sabar, terlihat dari kakinya yang tak bias berhenti bergerak dan dengan tiba-tiba Ia mengambil microfon yang masih berada di tangan Pembina yang sedari tadi berbicara panjang lebar. Pembina tadi terihat kebingungan, tetapi tak di peduikan sang perintis,
“Ratna Khaila Nasution!”. Ratna tersentak terkejut mendengar namanya di teriakkan oleh perintis tersebut. “Ratna!, maju ke depan!”. Kali ini Ratna takut, Ia berfikir keras, mengingat-ingat adakah kesalahan yang telah Ia perbuat sehingga namanya diteriakkan dengan begitu keras. Dengan wajah terlihat bingung, Ia berusaha menepis keraguan dan rasa takut dihatinya, setengah hati Ia berjalan menyeret-nyeret langkahnya maju ke depan.
“iya?, apa aku membuat kesalahan?”. Dengan wajah bingung.
Dengan sorot mata taja Perintis tersebut memandanginya sejenak, semua orang terdiam terpaku menyaksikan.
“iya, kamu sudah membuat kesalahan fatal!”. Ratna tertunduk, bolo matanya membesar dan terasa basah apa yang telah ku lakukan?. Suasana sunyi, sesunyi malam, bahkan tak ada yang berani membuat gerakan sedikitpun tanpa aba-aba si perintis. “kesalahanmu, kamu telah mencuri!”. Ratna terkejut atas apa yang dialamatkan kepadanya, Ia tak habis fikir, apa yang telah Ia lakukan, apa yang telah Ia curi, lidahnya terasa kelu tak mampu berkata walau untuk membela dirinya. “mencuri hatiku..” nada si perintis menurun dan melukiskan senyum di wajahnya. Semua orang terdiam sejenak kemudian tawapun pecah, menyisakan kegaduhan acara tersebut. Ratna tertunduk berjalan mengjauhi kerumunan yang sedang tertawa entah mentertawakan dirinya atau lelucon yang di buat perintis, lelucon yang mengorbankan dirinya hanya untuk menghibur para calon anggota yang mengeluh kelelahan. Ia berfikir tak mengapa toh membuat orang bahagia itu pahala  ,tetapi Ia merasakan perih di hatinya. Ia mencoba tertawa seadanya, tawa yang terkesan dipaksakan. Ia menuju tepi sungai terdekat untuk membasuh muka juga menenangkan hatinya.
“sorry, aku Andi dan itu bukan leulcon”. Terdengar suara dari belakang.
“lelucon juga tak apa” ia menatap dasar sungai, mengambil air dengan tangan dan membasuh mukanya.”aku senang melihat mereka tertawa” Ia tersenyum kearah si perintis Andi.
Andi terdiam, Ia berjalan maju mendekati tepian sungai tepat di samping ratna.
“maaf, tapi aku benar menyukaimu”. Dengan tatapan mata sayu kearah dasar sungai.
“kenapa kau mudah sekali mengatakan suka?”. Ratna menyipitkan mata menoleh kearah Andi.
“karna aku tau, kita punya takdir” seakan menelan bongkahan besar di tenggorokannya “takdir bersama” lanjutnya mengangkat wajah menerawang ke sebrang sungai tanpa melihat Ratna yang sedari tadi menoleh menyipitkan mata serta mengerutkan dahi kearahnya.
“kau yakin?” dengan semakin menyipitkan matanya.
“tentu saja” Ia tersenyum memandang lekat wajah Ratna. Terlihat  ketulusan dan Ratna merasakan itu. Sejenak mata mereka bertemu, menyadari itu Ratna mengalihkan pandangannya kedepan dan terdiam.
“gimana?”. Andi mencondongkan mukanya mendekati Ratna.
“gimana apanya?”. Ratna sedikit menjauh.
“hah, mau gak memiliki takdir bersamaku?”.
Ratna diam hanya tersenyum.
“gimana?”. Andi menggerakkan kakinya tak sabar mendengar jawaban Ratna.

Selasa, 07 Oktober 2014

Rabu, 18 Juni 2014

buat judul cerpennya mungkin gini aja kali yak
"Secret Admirer" show your love! gitu deh

Kamis, 15 Mei 2014

Patner in Crime :D


SECRET ADMIRER ~Chapter 3~



Mentari pagi telah mulai dengan anggunnya merangkak menampakkan cahaya keemasanya yang hangat dari pelupuk timur, dingin embun pagi masih terasa merasuk seakan memberi sinyal untuk tenggelam dalam kehangatan naungan selimut. Aku menarik selimutku dan melanjutkan mimpi indahku. tiba-tiba sebuah tangan dengan cepat menarik selimutku, aku tersentak bangun dengan mata masih terpejam karena kantuk. Ku buka mataku perlehan dan memperhatikan sosok tinggi di depanku, wajahnya nampak tak jelas tertutup rambut yang menjuntai panjang, tunggu dulu banyak darah, bekas sayatan, sekarang ia mulai merangkak mendekatiku, jantungku berdetak sangat kencang, ia semakin mendekat, dekat sampai di depan mukaku, tenggorokanku tercekat membayangkan mahluk apa yang ada di depanku ini, dan oh bola matanya kosong!
“ayah!! Apa kau tak bosan, kau lakukan itu dari umurku 10 tahun ingat?”
“ hey,,ayah masih menganggapmu purti kecil ayah,” katanya tersenyum membuka topeng jingsawnya.
Sebenarnya aku sudah bosan berdebat dengan ayah tentang memanggilku putri kecilnya, apalagi di depan teman-tamanku, karena itulah mereka meremehkanku dan menganggapku manja tak bisa melakukan segalanya sendiri tanpa bantuan orang lain, sebab itulah di sekolah ketika diadakannya grouping class aku tak pernah diinginkan untuk menjadi anggota kelompok mereka, kecuali yang menentukan kelompok ialah guru. Mungkin mereka benar-benar percaya kalau aku tak bisa di andalkan. Ya sudahlah ku harap sekolahku yang sekarang tak memperlakukan ku seperti dulu.
Pagi ini ayah membangukanku untuk mengajakku lari pagi, katanya mumpung hari minggu kita jalan-jalan supaya sehat sekaligus mengenal daerah baru di kompleks rumah ini. yah dengan sedikit malas ku ikuti kemauan ayah, kalau bukan aku siapa lagi yang akan menemaninya, setidaknya aku tak ingin membuatnya kecewa dan merasa kesepian.
Kami berjalan mengitari deretan rumah megah nan cantik yang di desain sedemikin rupa, memang tak secantik rumah kami tapi ku rasa aku bisa mengubah sedikit tampilan halaman depan  dengan menambahkan beberapa pot bunga dengan bermacam tanaman hias seperti beberapa rumah di belakang rumah kami. Contohnya salah satu rumah berlantai dua didepan ku ini dengan arsitektur seperti bergaya barat agak vintage unik tapi terlihat begitu indah dengan dekorasi taman kecil serta pot-pot bunga yang di jejerkan rapi di teras rumah. Aku tak sadar sudah beberapa lama aku memperhatikan rumah ini, sedang ayah sudah jauh didepan meninggalkanku.
“ish ayahku gak setiaanak banget sih.” Aku menggerutu menghentakkan kakiku ke tanah.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu dan keluar dari rumah itu. Dia mengenakan kaos berwarna biru dengan celana pendek hitam dan sepatu kets putih. Sambil menutup gerbang ia memasang headphonenya dan langsung terjun ke trotoar jalan berlari kecil tanpa melihatku sama sekali. Benar dia cowok tampan itu, dia terlihat begitu charming.
Kebetuan? Tentu bukan, kali ini memang benar-benar takdir. Aku berpikir untuk menyapanya tapi aku tak yakin bisa melakukanya, butuh nyali besar untuk melakukan hal itu. Akhirnya aku hanya bisa mengikuti langkahnya dari belakang, sungguh ironi yang menyakitkan.
Sepanjang perjalanan aku hanya bisa mengekorinya dari belakang dengan tetap menatap punggung datarnya. Aku merasa sunggung bodoh sekali menyia-nyiakan kesempatan yang merupakan takdirku ini. Tiba-tiba ia berhenti sejenak. Aku tak sadar masih berlari di belakangnya, oh tidak! Aku mencoba mengelak kearah samping tapi  “buukk!!” “oug sakit” aku menabraknya pas bahu kananya. Aku tersungkur terjatuh ke pinggir jalan, sedangkan ia hanya sedikit goyah tapi tak sampai jatuh seperti aku.
“maaf, maafkan aku” kataku tertunduk menyesal. Hal itu kurasakan sungguh memalukan sehingga aku tak mampu tuk sekedar melihat mata indahnya.
“kamu gak apa-apa?” katanya sambil memegang lenganku untuk membantuku berdiri. Ia seakan memcoba melihat wajahku yang masih tertunduk.
“tunggu.. hey kamu anak baru itu kan?”                                                  
“ehmm” aku mengangguk malu dengan sikapku ini. Aku takut ia menganggapku cewek sycho yang telah mengikutinya hingga kesini , setidaknya aku harus melakukan sesuatu tuk sekedar membela diri . ”maafkan aku, aku gak bermaksud begitu.” Lanjutku , memandangnya dan oh matanya, indah sekali.
“iya, aku tau, salahku yang berdiri di tengah jalan, seakan jalan ini milikku hahha.”  *tak dum jes, abaikan*
Dia humoris dan sama sekali tak kaku, nyaliku merasa sedikit bertambah .
“oya nama kamu siapa?” lanjutnya.
Jawab Vira kamu bisa, ini kesempatanmu ingat? Jangan sekali kau abaikan.
“Vira, yah aku Vira.” Dengan suara yang sedikit bergetar seakan aku sendiri tak yakin kalau itu namaku, tapi rasanya menyenangkan sekali ngobrol dengan orang yang kita sukai walau dengan tanpa melihat matanya. Sepertinya tatapan itu membuatku gugup.
“aku ardi, lazuardi Permana.” Katanya riang dengan senyum yang masih mengembang.
Oh apa yang harus ku katakan, setidaknya aku harus berkata sesuatu untuk mempertahankan obrolan exclusive ini, ayo Vira jawab, jawab Vira, jawab!. Aku seperti melihat rombongan cerleeder sedang bersorak meneriakkan namaku dan memberi semangat padaku.
“oh hey ardi..” oh what the hell! Apa yang ku katakan.
“hahha hey juga Vira, haruskah ku tanya kabarmu juga?” katanya dengan mencondongkan kepalanya menatapku serius.
Tatapannya membuatku gugup.
“hey aku cuma bercanda, ayo lari lagi.” ajaknya langsung berlari kecil.
Tuhan aku mohon ini bukan mimpi, jika ini memang mimpi tolonglah jangan bangunkan aku please tuhan, aku rela tidur beribu-ribu tahun untuk mimpi seperti ini.
Aku mengikutinya berlari tapi kali ini tak seperti yang tadi, aku berlari di sampingnya dan bukan di belakangnya, senang? Bukan, ini bahagia, bahagia sekali.*senang ama bahagia emang beda, abaikan*
“oya kamu tingga di sini?” dia memulai percakapan.
“ehm, aku baru pindah kesini.” Aku mengangguk dan menjawab sekenanya.
“kamu hmm… lucu hahha.” Dengan sedikit melirik ke arahku.
“bilang aja aneh.” Bisiku lirih pada diriku sendiri.
“oya, rumahku di seberang sana.” Sambil menunjuk ke arah rumah bergaya vintage tadi.
“aku tau.” Jawabku reflex.
“apa?”
Ups! Keceplosan, bagaimana kalau dia tau aku memperhatikan rumahnya sejak tadi seperti seorang mata-mata agen FBI yang memata-matai target incarannya, oh tidak, tidak.
“oh disana cake shop ayahku.” Kataku menujukan sebuah toko kecil di depan kami. Hanya ide itu yang terlintas di benakku,hah untung saja aku melihat toko kecil ayah. Disana ayahku sedang membuka dan membenahi beberapa perabotan toko dan ia masih mengenakan pakaian jogging tadi, rupanya ia belum sempat pulang ke rumah.
“navira cake shop? hmm pantes.” Katanya sambil menerawang ke tempat itu.
“namanya kampungan yah?” kataku lirih.
“bukan, bukan seperti itu, aku denger-denger sih di sana kuenya lezat-lezat.”
“benarkah?” senyumku langsung menjadi tawa bahagia.
“hmm” dia mengangguk. “kamu gak mau mengajakku kesana?” tanyanya.
“hah kamu mau mampir?  Oh ya tentu saja.” Aku tak menyangka ia akan berkata seperti itu.
Kami bergegas kesana dan menemui ayahku yang sedang mengatur dan membersihkan beberapa meja di depan tokonya, ia melalukan segalanya sendiri karena belum mendapatkan seorang karyawan untuk membantunya, maklum saja ini tempat barunya.
“ayah!” Kataku mengagetkannya dari belakang seraya merangkulnya.
“ayah kenalkan ini ardi.” Kataku memperkenalkan ardi pada ayahku yang masih merasa terkejut karena ku kagetkan tadi.
“hey om, saya temannya Vira, kami satu sekolah kok tapi beda kelas.” Tegas ardi menyalami ayahku. Tak kusangka ardi telah menganggapku sebagai temannya. Ini  kemajuan yang sungguh signifikan patut tuk dirayakan. lalala yeyeyeeeyyy *cuci-cuci jemur-jemur*wkwkwkwk
“oh yah, senang sekali mendengar putri kecil ayah sudah punya teman disini.” Katanya menggodaku.
“ayah ingat, kita udah sering membicarakan hal ini bukan.” Kataku membunyikan kekesalanku.
“bicara apa? Ayah lupa, oh tentang putri kecil hahhaa.” Tertawa puas melihatku. Kurasa ini pembalasan ayah karena aku telah mengagetkatnya.
Aku merenggut kesal pada ayah, sedangkan ardi tetap tersenyum melihat kami. *yaiyalah seyum kalian kayak pelawak, abaikan*
“sudah, sekarang kalian duduk disini ya, mau sarapan dengan wafell dengan jam nanas dan coklat panas?” Tanyanya pada Ardi.
“aku mauuu.” Teriakku kegirangan, karena itu ialah menu sarapan favoritku.
“boleh om”. Kata ardi sambil tak melepas senyumnya sedari tadi.
Senang sekali rasanya sarapan dengan Ardi, hal yang tak pernah aku bayangkan. aku takkan pernah menyesal ayah membangunkanku pagi-pagi buta dan di kagetkan dengan topeng Jingsawnya. Rasanya aku harus berterimakasih pada ayah hahhaa.
***