Mentari pagi telah mulai dengan
anggunnya merangkak menampakkan cahaya keemasanya yang hangat dari pelupuk
timur, dingin embun pagi masih terasa merasuk seakan memberi sinyal untuk tenggelam
dalam kehangatan naungan selimut. Aku menarik selimutku dan melanjutkan mimpi
indahku. tiba-tiba sebuah tangan dengan cepat menarik selimutku, aku tersentak
bangun dengan mata masih terpejam karena kantuk. Ku buka mataku perlehan dan
memperhatikan sosok tinggi di depanku, wajahnya nampak tak jelas tertutup
rambut yang menjuntai panjang, tunggu dulu banyak darah, bekas sayatan,
sekarang ia mulai merangkak mendekatiku, jantungku berdetak sangat kencang, ia
semakin mendekat, dekat sampai di depan mukaku, tenggorokanku tercekat
membayangkan mahluk apa yang ada di depanku ini, dan oh bola matanya kosong!
“ayah!! Apa kau tak bosan, kau lakukan itu dari umurku 10
tahun ingat?”
“ hey,,ayah masih menganggapmu purti kecil ayah,” katanya
tersenyum membuka topeng jingsawnya.
Sebenarnya aku sudah bosan
berdebat dengan ayah tentang memanggilku putri kecilnya, apalagi di depan
teman-tamanku, karena itulah mereka meremehkanku dan menganggapku manja tak
bisa melakukan segalanya sendiri tanpa bantuan orang lain, sebab itulah di
sekolah ketika diadakannya grouping class aku tak pernah diinginkan untuk
menjadi anggota kelompok mereka, kecuali yang menentukan kelompok ialah guru.
Mungkin mereka benar-benar percaya kalau aku tak bisa di andalkan. Ya sudahlah
ku harap sekolahku yang sekarang tak memperlakukan ku seperti dulu.
Pagi ini ayah membangukanku untuk
mengajakku lari pagi, katanya mumpung hari minggu kita jalan-jalan supaya sehat
sekaligus mengenal daerah baru di kompleks rumah ini. yah dengan sedikit malas
ku ikuti kemauan ayah, kalau bukan aku siapa lagi yang akan menemaninya,
setidaknya aku tak ingin membuatnya kecewa dan merasa kesepian.
Kami berjalan mengitari deretan
rumah megah nan cantik yang di desain sedemikin rupa, memang tak secantik rumah
kami tapi ku rasa aku bisa mengubah sedikit tampilan halaman depan dengan menambahkan beberapa pot bunga dengan
bermacam tanaman hias seperti beberapa rumah di belakang rumah kami. Contohnya
salah satu rumah berlantai dua didepan ku ini dengan arsitektur seperti bergaya
barat agak vintage unik tapi terlihat begitu indah dengan dekorasi taman kecil
serta pot-pot bunga yang di jejerkan rapi di teras rumah. Aku tak sadar sudah
beberapa lama aku memperhatikan rumah ini, sedang ayah sudah jauh didepan
meninggalkanku.
“ish ayahku gak setiaanak banget sih.” Aku menggerutu
menghentakkan kakiku ke tanah.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu
dan keluar dari rumah itu. Dia mengenakan kaos berwarna biru dengan celana
pendek hitam dan sepatu kets putih. Sambil menutup gerbang ia memasang
headphonenya dan langsung terjun ke trotoar jalan berlari kecil tanpa melihatku
sama sekali. Benar dia cowok tampan itu, dia terlihat begitu charming.
Kebetuan? Tentu bukan, kali ini
memang benar-benar takdir. Aku berpikir untuk menyapanya tapi aku tak yakin
bisa melakukanya, butuh nyali besar untuk melakukan hal itu. Akhirnya aku hanya
bisa mengikuti langkahnya dari belakang, sungguh ironi yang menyakitkan.
Sepanjang perjalanan aku hanya
bisa mengekorinya dari belakang dengan tetap menatap punggung datarnya. Aku
merasa sunggung bodoh sekali menyia-nyiakan kesempatan yang merupakan takdirku
ini. Tiba-tiba ia berhenti sejenak. Aku tak sadar masih berlari di belakangnya,
oh tidak! Aku mencoba mengelak kearah samping tapi “buukk!!” “oug sakit” aku menabraknya pas
bahu kananya. Aku tersungkur terjatuh ke pinggir jalan, sedangkan ia hanya
sedikit goyah tapi tak sampai jatuh seperti aku.
“maaf, maafkan aku” kataku tertunduk menyesal. Hal itu
kurasakan sungguh memalukan sehingga aku tak mampu tuk sekedar melihat mata
indahnya.
“kamu gak apa-apa?” katanya sambil memegang lenganku untuk
membantuku berdiri. Ia seakan memcoba melihat wajahku yang masih tertunduk.
“tunggu.. hey kamu anak baru itu
kan?”
“ehmm” aku mengangguk malu dengan sikapku ini. Aku takut ia
menganggapku cewek sycho yang telah mengikutinya hingga kesini , setidaknya aku
harus melakukan sesuatu tuk sekedar membela diri . ”maafkan aku, aku gak bermaksud
begitu.” Lanjutku , memandangnya dan oh matanya, indah sekali.
“iya, aku tau, salahku yang berdiri di tengah jalan, seakan
jalan ini milikku hahha.” *tak dum jes,
abaikan*
Dia humoris dan sama sekali tak kaku, nyaliku merasa sedikit
bertambah .
“oya nama kamu siapa?” lanjutnya.
Jawab Vira kamu bisa, ini kesempatanmu ingat? Jangan sekali
kau abaikan.
“Vira, yah aku Vira.” Dengan suara yang sedikit bergetar
seakan aku sendiri tak yakin kalau itu namaku, tapi rasanya menyenangkan sekali
ngobrol dengan orang yang kita sukai walau dengan tanpa melihat matanya.
Sepertinya tatapan itu membuatku gugup.
“aku ardi, lazuardi Permana.” Katanya riang dengan senyum
yang masih mengembang.
Oh apa yang harus ku katakan, setidaknya aku harus berkata
sesuatu untuk mempertahankan obrolan exclusive ini, ayo Vira jawab, jawab Vira,
jawab!. Aku seperti melihat rombongan cerleeder sedang bersorak meneriakkan
namaku dan memberi semangat padaku.
“oh hey ardi..” oh what the hell! Apa yang ku katakan.
“hahha hey juga Vira, haruskah ku tanya kabarmu juga?”
katanya dengan mencondongkan kepalanya menatapku serius.
Tatapannya membuatku gugup.
“hey aku cuma bercanda, ayo lari lagi.” ajaknya langsung
berlari kecil.
Tuhan aku mohon ini bukan mimpi, jika ini memang mimpi
tolonglah jangan bangunkan aku please tuhan, aku rela tidur beribu-ribu tahun
untuk mimpi seperti ini.
Aku mengikutinya berlari tapi kali ini tak seperti yang
tadi, aku berlari di sampingnya dan bukan di belakangnya, senang? Bukan, ini bahagia,
bahagia sekali.*senang ama bahagia emang beda, abaikan*
“oya kamu tingga di sini?” dia memulai percakapan.
“ehm, aku baru pindah kesini.” Aku mengangguk dan menjawab
sekenanya.
“kamu hmm… lucu hahha.” Dengan sedikit melirik ke arahku.
“bilang aja aneh.” Bisiku lirih pada diriku sendiri.
“oya, rumahku di seberang sana.” Sambil menunjuk ke arah
rumah bergaya vintage tadi.
“aku tau.” Jawabku reflex.
“apa?”
Ups! Keceplosan, bagaimana kalau dia tau aku memperhatikan
rumahnya sejak tadi seperti seorang mata-mata agen FBI yang memata-matai target
incarannya, oh tidak, tidak.
“oh disana cake shop ayahku.” Kataku menujukan sebuah toko
kecil di depan kami. Hanya ide itu yang terlintas di benakku,hah untung saja
aku melihat toko kecil ayah. Disana ayahku sedang membuka dan membenahi
beberapa perabotan toko dan ia masih mengenakan pakaian jogging tadi, rupanya
ia belum sempat pulang ke rumah.
“navira cake shop? hmm pantes.” Katanya sambil menerawang ke
tempat itu.
“namanya kampungan yah?” kataku lirih.
“bukan, bukan seperti itu, aku denger-denger sih di sana
kuenya lezat-lezat.”
“benarkah?” senyumku langsung menjadi tawa bahagia.
“hmm” dia mengangguk. “kamu gak mau mengajakku kesana?”
tanyanya.
“hah kamu mau mampir?
Oh ya tentu saja.” Aku tak menyangka ia akan berkata seperti itu.
Kami bergegas kesana dan menemui
ayahku yang sedang mengatur dan membersihkan beberapa meja di depan tokonya, ia
melalukan segalanya sendiri karena belum mendapatkan seorang karyawan untuk membantunya,
maklum saja ini tempat barunya.
“ayah!” Kataku mengagetkannya dari belakang seraya
merangkulnya.
“ayah kenalkan ini ardi.” Kataku memperkenalkan ardi pada
ayahku yang masih merasa terkejut karena ku kagetkan tadi.
“hey om, saya temannya Vira, kami satu sekolah kok tapi beda
kelas.” Tegas ardi menyalami ayahku. Tak kusangka ardi telah menganggapku
sebagai temannya. Ini kemajuan yang
sungguh signifikan patut tuk dirayakan. lalala yeyeyeeeyyy *cuci-cuci
jemur-jemur*wkwkwkwk
“oh yah, senang sekali mendengar putri kecil ayah sudah
punya teman disini.” Katanya menggodaku.
“ayah ingat, kita udah sering membicarakan hal ini bukan.”
Kataku membunyikan kekesalanku.
“bicara apa? Ayah lupa, oh tentang putri kecil hahhaa.”
Tertawa puas melihatku. Kurasa ini pembalasan ayah karena aku telah
mengagetkatnya.
Aku merenggut kesal pada ayah, sedangkan ardi tetap
tersenyum melihat kami. *yaiyalah seyum kalian kayak pelawak, abaikan*
“sudah, sekarang kalian duduk disini ya, mau sarapan dengan
wafell dengan jam nanas dan coklat panas?” Tanyanya pada Ardi.
“aku mauuu.” Teriakku kegirangan, karena itu ialah menu
sarapan favoritku.
“boleh om”. Kata ardi sambil tak melepas senyumnya sedari
tadi.
Senang sekali rasanya sarapan
dengan Ardi, hal yang tak pernah aku bayangkan. aku takkan pernah menyesal ayah
membangunkanku pagi-pagi buta dan di kagetkan dengan topeng Jingsawnya. Rasanya
aku harus berterimakasih pada ayah hahhaa.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar