Mentari telah mulai enggan
menampakkan sinarnya, tinggal warna jingga bercampur ungu yang terlihat menyapu
langit sore ini. Sungguh warna twilight yang sangat memukau.
08.20 PM
“Viraa, ingat cuci kaki dulu baru tidur!” teriak ayah dari
luar kamarku.
“iya, inget,inget,inget!” jawabku sekenanya dengan gaya Upin
Ipin.
Mengingat kejadian sepulang
sekolah yang sempat membuatku merasa shock sekaligus malu pada diriku sendiri.
Aku memutuskan untuk sedikit menghibur diri melupakan segala kegundahanku. sejak
tadi sore aku berada di kamar menyalakan laptop dan chat dengan si BadBoy.
To BadBoy:
“bisa pura-pura mendengarku sebentar?”
From BadBoy:
“tentu, seperti yang biasa ku lakukan.”
To BadBoy:
“hey jangan mengeluh, but terimakasih udah selalu jadi
pendengar yang baik untukku J”
From BadBoy:
“everythings for you..”
To BadBoy:
“jangan membuatku malu.”
From BadBoy:
“benarkah?”
To BadBoy:
“lupakan!”
From BadBoy:
“ok, ok calm down.. Apa tentang hari pertama di sekolah
baru?”
To BadBoy:
“ehmm…”
From BadBoy:
“ any something happen?”
Ku pikir selama ini aku sudah
terlalu banyak mengeluhkan semua masalahku pada si BadBoy dan hanya mengharap
solusi penelesaian masalahku padanya. Aku tau hal itu tak akan membuatku
memetik hikmah dari semua permasalahan yang terjadi. Disamping itu aku takut ia
akan meremehkanku dan menganggapku kekanak-kanakan karena tak pernah bisa
menyelesaikan masalah sendiri dan selalu saja mengadu padanya.
To BadBoy:
“oh bukan, bukan, sekolahku baik-baik saja.”
From BadBoy:
“hmm really?”
To BadBoy:
“iyaa, teman-teman baruku pada baik semua, malahan aku udah
punya…”
From BadBoy:
“punya apa? punya apa?”
To BadBoy:
“someone special hahha, ku pikir akan lebih termotivasi
kesekolah karnanya”
From BadBoy:
“ohh”
To BadBoy:
“gitu aja? Gak ada komentar lain?”
From BadBoy:
“aku pikir kamu di bully.”
To BadBoy:
“aku bisa menghadapi mereka, tak perlu menghawatirkan aku,
everythings gonna be ok.”
Yah ku berharap seperti itu, walau aku tak yakin apa aku
bisa atau tidak menghadapi anak-anak yang sudah men cap aku sebagai cewek gagap
dari planet entah berantah.
From BadBoy:
“adalagi yang mau kamu katakan?”
To BadBoy:
“hmm gimana kalo ngebahas hidupmu, mulai dari tempat
tinggalmu?”
From BadBoy:
“heemm akhirnya, sudah mulai tertarik padaku rupanya hahha”
To BadBoy:
“hey itu cuma pertanyaan biasa”
From BadBoy:
“menurutku tidak, setelah beberapa bulan kita kenal dan
saling chat, tapi baru sekarang kamu nanyain itu.”
Sebenarnya dulu aku tak begitu
tertarik chat dengannya, karena ku pikir dia hanya seorang cowok iseng yang
ngechat ke sembarang cewek kemudian tebar pesona gak jelas lalu menjurus kearah
rayuan gombal dan ujung-ujungnya minta nomer hp, tapi lama kelamaan harus ku
akui kalau ia cukup menyenangkan, ia tak pernah berkata kotor, salah satu poin
plus dan selalu menghargai pendapat orang lain. Kami juga menyukai beberapa hal
yang sama seperti cerita mitos atau sesuatu yang misterius. Kami suka membahas
hal-hal yang mungkin tidak penting bagi sebagian orang. Entah kenapa kami
berteman cukup baik walau hanya melalui dunia maya. aku merasa nyaman dan tak
canggung lagi untuk minta pendapat atau sekedar mendiskusikan masalahku dengannya.
Yah selama ini aku memang tak
pernah ingin tau segala tentangnya tapi setelah bebrapa lama berteman dengannya
entah mengapa rasa ingin tau ku tentang hidupnya muncul. Aku tau dia ialah tipe
seorang yang cukup misterius yang tak terlalu membiarkan informasi tentang
dirinya di komsumsi public dengan memajang nya di social media seperti
kebanyakan orang lain lakukan. Mungkin hal itulah yang memunculkan rasa penasaran
diriku terhadapnya, tapi melihat balasan chat nya tadi, sebagai wanita aku tak
mungkin mengatakan sebenarnya, yah aku
penasaran padamu, tidak-tidak! dimana harga diriku. *dimana? Dimana?
Carikan. Abaikan*
To BadBoy:
“ok, kalo gitu kamu gak pelu jawab.”
From BadBoy:
“hey jangan marah gitu dong, gimana kalo kita ketemu secara
langsung, kamu bisa kirimin alamat kamu.”
To BadBoy:
“hah, kamu pikir aku cewek apaan, nyebarin alamat gitu aja.”
From BadBoy:
“itu ajakan pertama dan terakhirku loh.”
To BadBoy:
“so, hmm aku ngantuk off dulu ya, bye.”
To BadBoy:
“besok minggu, biasanya juga begadang kan.”
Yah sebenarnya aku memang belum
terlalu mengantuk, tapi entah kenapa aku merasa gugup saat dia mengajakku
bertemu face to face, aku berkilah seperti itu karena memang aku tak tau apa
yang harus ku katakan, jujur saja selama ini aku belum pernah memiliki
pengalaman menghadapi cowok, yah seperti yang kalian duga aku belum pernah
pacaran *so poor, abaikan*. Ayahku terlalu over protective, melarangku pacaran
sampai aku lulus sekolah, entahlah maksudnya lulus SMA atau lulus kuliah aku
tak tau dan tak terlalu memusingkan itu. Ah aku menduga ayah merencanakan
sesuatu terhadapku. Ya sudahlah toh aku juga belum memiliki seseorang yang
benar-benar aku sukai. Ngomong-ngomong soal suka, aku jadi mengingat cowok
keren, manis, baik yang super duper tampan dengan tatapan mata seperti malaikat
itu. Oh tapi aku sungguh menyayangkan dua kali kesempatan yang terbuang percuma
untuk sekedar bicara padanya, jika ke tiga kalinya aku bertemu tanpa sengaja
dengannya mungkin itu takdir dan tak akan ku sia-siakan kesempatan itu. Oh
sepertinya aku sangat menyukainya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar