Berbulan-bulan, bahkan mungkin dari tahun lalu dan aku, aku
bosan dengan pemikiran seperti ini, takut tuk jadi dewasa? Hahh pemikiran macam
apa ini?, hal-hal ini benar-benar bodoh... apa yang telah aku lakukan?
Membiarkan diriku terbodohi pikiranku sendiri.
Hah takut jadi dewasa, sebenarnya ketakutanku bukanlah
sesederhana itu, aku bukannya takut dewasa nanti kulitku keriput, rambutku
memutih, panca indraku berkurang dan aku akan menjadi tua renta *ayolah itu
memang hukum alam* percayalah bukan itu yang aku takutkan.
Hanya saja aku takut akan tanggung jawabku sebagai seorang
anak akan gagal, tidak bisa memberi mereka ibu ayahku kebahagiaan yang telah
kami rencanakan. Aku takut rencana itu gagal, aku takut akan harapan-harapan
mereka, harapan berlebih akan diriku , harapan ini membebaniku, membuatku
takut, nanti takkan mampu merealisasikannya lalu meraka akan kecewa, kecewa
padaku... sudah kubilangkan, pemikiranku memang konyol.
Akhirnya aku memberanikan diriku berbicara, mengeluarkan
segala pikiran bodoh di kepalaku... dengan hati-hati aku membuka suara,
mengatur nafas dan memperindah kosa kataku, hey kau tau? Aku sedang ingin
membicarakan hal bodoh yang menurutku penting dan aku tak ingin kehilangan
lawan bicaraku hanya karena kebodohanku dalam bercerita, kau tentu takkan mau
mendengar cerita bodoh apalagi dengan cara bicara yang yaah, maaf aku tak
terlalu pandai dalam bicara apalagi dengan orang yang tak terlalu akrab
denganku... salahku *kuper? Masih jaman yah* jadi, aku memilih bercerita kepada
salah satu teman baikku yang sebenarnya aku tak tau kenapa kami jadi teman
baik, sorry bang Biky J
*abaikan dia, chapter ini tentang aku dan pemikiranku :v , ohya tambahan, bang
Biky itu cewek yah tapi karena suatu hari terjadi sebuah tragedi, jadilah kami
saling memanggil dengan sebutan abang-abang xD , lain kali akan ku bongkar...
huahahaa* loh?
Kembali, untuk berceritapun aku memilih waktu dan tempat
yang menurutku tepat, pada pagi menjelang siang, didalam perpustakaan kampus
yang tenang aku mengeluarkan segala pertanyaan dan pernyataan dalam otakku...
lega aku memulai lalu mengakhirinya dengan baik, Bang Biky terlihat khusuk
mendengar setelah itu menghembuskan nafas setengah panjang dan berkata “riz itu
sedang dalam keadaan Peterpan holic” , itu apa? , “yah itu, keadaan seperti
yang Riz alami ini, takut jadi dewasa”, jadi?, “hmm intinya Riz Cuma gak PD aja
sama masa depan sendiri”, terus gimana?, ”ya diubah dong, berusaha untuk masa
depan dari sekarang dan yakin kalo masa depan Riz itu akan baik-baik saja” ,
gitu yah?... dan saya masih bingung, *wah bodohnya hampir ke level idiot nih*
Dan begitu saja, setidaknya ada sedikit perasaan lega yang menyeruak dalam
hatiku.
Sampai ketika suatau malam, ibaratnya ini seperti suatu
jitakan keras di kepalaku *ough!* yang menanamkan sebuah kata ‘PERCAYA’ belive,
just believe someday you can be somebody, kata-kata itu terus mengiang dalam
otakku, kata itu seakan menghapus segala ketakutanku, membuatku kuat, berani
dan semangat. sederhana bukan, jawaban
yang selama ini kucari ternyata benar-benar sesederhana itu... thanks God, bang
Biky jugaa :*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar